REEVANGELISASI MELALUI MEDIA
"Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah
Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:15).
Fr. Alfius Tandirassing
Mewartakan Injil ke seluruh dunia adalah tugas Gereja.
“Dengan mewartakan Injil, Gereja mengundang mereka yang mendengarnya kepada
iman dan pengakuan iman, menyiapkan mereka untuk menerima baptis, membebaskan
mereka dari perbudakan kesesatan dan menyaturagakan mereka ke dalam Kristus,
supaya karena cinta kasih mereka bertumbuh ke arah Dia hingga kepenuhannya.” (LG
art. 17). Dengan diterangi oleh Roh Kudus, Gereja membawa Kristus kepada umat
dan membawa umat kepada Kristus.
Para
rasul sendiri sebagai Gereja awal telah memberikan keteladanan misioner dan
evangelisasi kepada Gereja masa sekarang. Iman Gereja pada saat ini tidak
terlepas dari ketekunan para rasul dan pengganti-penggantinya untuk mewartakan
Injil kepada seluruh bangsa. “Adalah tugas para pengganti mereka untuk
melestarikan karya itu, supaya “sabda Allah terus maju dan dimuliakan” (2Tes
3:1) dan Kerajaan Allah diwartakan dan dibangun di mana-mana” (AG art. 1). Oleh
karena itu, Gereja yang hidup di zaman modern ini dipanggil untuk terus
mewartakan Injil dan membangun Kerajaan Allah. Namun dalam menghadapi situasi
zaman modern ini, bagaimanakah Gereja bermisi? Apa yang mesti dilakukan oleh
Gereja dalam reevangelisasi?
Dekrit
Inter Mirifica, Dokumen Konsili
Vatikan II, membahas mengenai media komunikasi sosial sebagai penemuan-penemuan
teknologi yang mengagumkan di zaman ini. “Bunda Gereja menyadari, bahwa
upaya-upaya itu, kalau digunakan dengan tepat, dapat berjasa besar bagi umat
manusia, sebab sangat membantu untuk menyegarkan hati dan mengembangkan budi,
dan untuk menyiarkan serta memantapkan Kerajaan Allah (IM art. 2). Media
komunikasi sosial ini bisa digunakan oleh Gereja dengan tepat untuk menyiarkan
serta memantapkan Kerajaan Allah. Apalagi di zaman sekarang, di mana generasi
manusia bisa disebut sebagai generasi digital, media komunikasi tidak lagi
dianggap sarana pelengkap tetapi menjadi kebutuhan.
Merasul
Lewat Media
Media
komunikasi tidak lagi asing bagi sebagian besar orang, bahkan mungkin hampir
semua orang. Media komunikasi yang terus berkembang ternyata merambah pula ke
dalam Gereja. Mau tidak mau, Gereja mesti berurusan dengan media komunikasi.
Jika Gereja menutup pintu dan jendelanya terhadap kedatangan media komunikasi,
maka ia bagaikan hidup di zaman primitif. Berhadapan dengan hal ini, Gereja
tidak bakal lagi dihormati sebagai sebagai lembaga yang mempunyai wewenang
moral dan tata susila bagi arus komunikasi. Maka sudah selayaknyalah Gereja
memanfaatkan media komunikasi sebagai sarana evangelisasi baru.
Salah
satu alasan mengapa evangelisasi baru mendorong pemanfaatan media komunikasi
adalah karena perkembangan media komunikasi yang begitu cepat dan membawa
pengaruh yang begitu mendalam terhadap pembentukan mentalitas dan kebiasaan
orang. Pengaruh media komunikasi sebagai gaya hidup lambat laun menjadi sikap
hidup yang akan dihidupi oleh umat.
Jika
digunakan dengan tepat, media komunikasi akan sangat efektif di dalam
menyiarkan dan membangun Kerajaan Allah. Dalam wawancara Penyejuk Imani Katolik
di Indosiar 4 Juni 2000, Mgr. Ignatius Suharyo menegaskan, “Yang penting adalah
bagaimana Gereja terus mewartakan Injil. Kalau Injil hanya disampaikan dengan
cara yang biasa-biasa sering kali Injilnya tidak berbunyi untuk zaman modern
ini. Maka mesti dicari jalan-jalan yagn semakin modern untuk menyentuh
sensibilitas masyarakat modern”.
Dalam pesan Hari Komunikasi Sedunia tahun 2011, Paus
Benediktus XVI menyatakan salah satu langkah yang dapat dilakukan dalam
mewartakan, khususnya dalam media internet. “Kita perlu memperhatikan website (laman), aplikasi, dan jejaring
sosial, yang dapat membantu manusia dewasa ini untuk menemukan waktu
permenungan dan pertanyaan otentik serta memberikan ruang untuk keheningan dan
kesempatan berdoa, meditasi, atau sharing
sabda Allah”.
Saat ini, ada banyak jenis media yang dapat digunakan
untuk mewartakan Injil atau paling tidak nilai-nilai Kristiani, di antaranya
Pers, Film, Radio, Televisi, dan yang paling luas jaringannya yaitu Internet.
a.
Pers
Sebagai
media cetak, pers mampu mengomunikasikan berita-berita, opini, ide-ide, dan
sikap manusia secara mendetail. Menurut Instruksi Pastoral Communio et Progressio, pers merupakan pelengkap yang paling
bermanfaat bagi alat-alat komunikasi audio-visual. Oleh karena pers bisa memuat
banyak bahan yang beraneka ragam, maka pers menduduki tempat utama dalam usaha
memajukan bidang sosial.
Media
pers sudah lama digunakan oleh Gereja, misalnya L’ Orservatore dari Roma yang
menjangkau seluruh dunia. Di ranah Nasional terdapat majalah Hidup, Utusan,
Rohani. Di wilayah keuskupan terdapat Koinonia, Komunikasi, Salam Damai, dsb.
Tak ketinggalan pula di paroki-paroki terdapat Saltus, Lentera Iman, Berkat,
Kristo, dsb. Selain itu ada banyak pewarta yang menggunakan media pers lainnya
sebagai sarana pewartaan iman dan nilai-nilai Kristiani, misalnya dalam koran
atau penerbitan buku-buku rohani. Giatnya para pewarta yang menggunakan pers
akan membantu para pembaca dalam memperdalam iman.
b.
HP, Film, Radio, dan Televisi
Media
elektronik kiranya memiliki keunggulan lain dibandingkan dengan media cetak.
Dari sisi penggemarnya, kebanyakan orang lebih memilih menonton film dan acara
televisi atau mendengarkan radio
daripada membaca. Gereja, khususnya di Indonesia, telah berusaha menggunakan
media-media ini sebagai sarana pewartaan.
Usaha-usaha
tersebut di antaranya Mimbar Agama Katolik (TVRI), Penyegar Rohani Katolik
(RCTI), Penyejuk Imani Katolik (Indosiar), Percikan Rohani Katolik (SCTV), Gema
Rohani Katolik (ANTV), dsb. Ada pula beberapa produksi film yang pernah
ditayangkan di media televisi, misalnya JanjiMu S’perti Fajar, Sentuh Hatiku,
Buku Harian Nayla, Keluarga Cemara, dsb. Selain itu, penyiaran radio ternyata
lebih efektif karena jaringannya mampu menjangkau daerah-daerah pelosok dengan
mudah dan ekonomis. Di beberapa tempat terdapat Radio yang dimiliki sendiri oleh
Gereja Katolik. Namun di tempat yang tidak memiliki radio sendiri, biasanya diisi
dengan acara-acara tertentu yang menyiarkan program-program bernuansa Katolik,
misalnya renungan.
Di
bidang alat komunikasi seperti HP yang mampu menyapa orang secara pribadi,
dapat pula dikembangkan pelayanan sabda. Di Jakarta, misalnya, melalui
kerjasama Keuskupan Agung Jakarta dan produsen HP Nexian, diluncurkan HP Nexian
yang seluruh fitur-fitur dan fasilitasnya bernuansa Katolik. HP tersebut laris
dalam “sekejap” dan memerlukan produksi berikutnya. Di dalamnya sudah terdapat
bacaan harian, doa-doa ujud tertentu, lagu-lagu dari Puji Syukur dan Madah
Bakti, kisah santo-santa, alarm doa angelus, dsb. Kalau teknologi semacam ini
dikembangkan terus maka umat akan semakin terbantu dalam memperdalam iman.
c.
Internet
Dalam
perkembangan mutakhir, media internet jauh melampaui semua media yang ada.
Internet merambah ke segala penjuru dan memuat segala macam bidang kehidupan,
mulai dari yang “kudus” sampai ke yang “kudis”. Generasi yang lahir di abad XX
mulai memasuki dunia internet dan internet memasuki dunia mereka. Kaum muda
khususnya, cenderung menghabiskan waktu di dunia internet selama beberapa jam
per hari.
Berhadapan
dengan hal ini, Gereja tidak bisa tinggal diam. Ada satu pilihan yang jelas:
apakah Gereja yang harus merasuki internet atau internet yang akan merasuki
Gereja? Bila Gereja merasuki internet maka nilai-nilai yang terbangun adalah
nilai-nilai gerejani. Tetapi apa yang terjadi bila Gereja yang dirasuki?
Kiranya yang diharapkan adalah terwujudnya nilai-nilai gerejani, yaitu
nilai-nilai keselamatan yang telah diwartakan oleh Kristus di dunia ini dan
dilanjutkan oleh Gereja. Maka wajah seperti apakah yang mesti ditampilkan
Gereja dalam berhadapan dengan media internet? Kiranya hal ini layak dan pantas
didiskusikan.
Merasul
dengan berbagai media memang sudah diusahakan dalam Gereja Katolik di Indonesia
namun pelaksanaannya masih perlu ditingkatkan lagi. Gereja bisa tampil lebih
baik dari apa yang sudah dimulai dari dulu sampai saat ini. Maka pengoptimalan
penggunaan media komunikasi sosial akan sangat bermanfaat untuk mewujudkan
Kerajaan Allah di muka bumi ini.
Akan
tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa media komunikasi sosial dan teknologi pun
membawa dampak negatif bagi manusia, khususnya pada perkembangan iman umat.
Maka misi Gereja-lah yang mesti merasuki dunia media komunikasi, menularkan
kesucian, dan menggunakannya demi membangun Kerajaan Allah.
Merasul
dengan Media di Bumi KAMS
Bumi KAMS yang masih tergolong muda sedang bertumbuh dan
membentuk diri. Tujuh puluh lima tahun Gereja Lokal KAMS telah berdiri dan semakin
menemukan jati dirinya. Melalui sinode Diosesan II yang lalu, Gereja Lokal KAMS
disatukan dalam Roh Kudus untuk melihat bersama KAMS yang tercinta. Salah satu
pokok yang dirasakan perlu dikembangkan adalah reevangelisasi. Ada banyak
langkah dalam ber-reevangelisasi. Salah satu yang dapat ditempuh adalah
reevangelisasi melalui media.
Para misionaris telah berjuang dengan gigih dalam
mewartakan iman di bumi KAMS dengan menggunakan media yang sangat mutakhir pada
zamannya. Sekarang pun Gereja Lokal KAMS perlu mewartakan dengan menggunakan
media di zaman ini. Luasnya medan dan kurangnya pelayan di ranah KAMS akan
dapat diakali dengan menggunakan media sebagai “penyempit” medan dan “pelayan”
baru.
Di bumi KAMS, media komunikasi akan menjadi sarana yang
sangat efektif. Daerah-daerah yang kurang terjangkau dalam pelayanan pastoral,
bisa dikuatkan dengan menggunakan media komunikasi, misalnya melalui radio.
Daerah-daerah yang terjangkau namun kurang mendalam imannya dapat dikuatkan
pula dengan siaran-siaran televisi. Atau generasi muda yang giat ber-BBM-an,
nge-blog, ber-chatting, ber-facebook,
atau ber-tweeter ria dapat dijangkau
dengan pelayan-pelayan pastoral internet. Para pencinta bacaan dapat pula dijangkau
melalui penerbitan media cetak.
Gereja KAMS memiliki banyak kesempatan dan peluang untuk
memanfaatkan media komunikasi sebagai sarana pewartaan. Penerbitan buku-buku
dan majalah telah dimulai dan bahkan sudah berjalan efektif dan efisien.
Penyiaran melalui Radio dan Televisi sementara digagas dan sebagiannya masih
dikembangkan dalam diskusi dan perencanaan.
Kehadiran Gereja KAMS di dunia internet pun sudah dilakukan oleh
sukarelawan yang aktif, kreatif dan inovatif. Berkat penerangan Roh Kudus, bumi
KAMS sudah mulai berubah dan tidak lagi menghidupi zaman lampau. Dalam dunia
media komunikasi, Gereja Lokal KAMS mampu menjadi lebih baik dari apa yang
sudah ada sekarang. Melalui media komunikasi Gereja Lokal KAMS mampu menyiarkan
dan mewartakan Kerajaan Allah. Dengan demikian, perutusan Yesus bagi Gereja
untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa akan ditempuh dengan cara baru,
“Merasul Lewat Media”. Memang merasul lewat media tidak semudah membalik
telapak tangan namun itulah perutusan baru.
Endnotes:
-
Terj.
Hardawiryana, SJ., Dokumen Konsili Vatikan
II, Obor, 1993, terutama Dokumen Inter Mirifica (IM), Lumen Gentium (LG),
dan Ad Gentes (AG).
-
Y.I Iswarahardi,
SJ, ed., Media memuliakan Kehidupan –
Sebuah Antologi Komunikasi, Kanisius,
Yogyakarta, 2010.
-
Y. Sudaryatna, Media Komunikasi Sosial sebagai Sarana
Evangelisasi Baru, Celesty Hieronika, Jakarta, 1999.
-
Y.I Iswarahardi
SJ., Beriman dengan Bermedia – Antologi
Komunikasi, Kanisius, 2003
Yogyakarta.
-
Komisi Kateketik
KWI, Buletin Kateketik Pastoral - Majalah
Praedicamus, Vol. XI No. 40, Oktober-Desember 2012.
-
Majalah Rohani, Religius Ngartis lewat Facebook, No. 2
Tahun ke-58 Februari 2011, Yogyakarta.
-
Majalah Rohani, Mendebah Arus Globalisasi, No. 05 Tahun
ke-51 Mei 2004, Yogyakarta.
-
Mingguan HIDUP, Evangelisasi melalui Komunikasi Sosial,
No. 21 Tahun ke-66, 20 Mei 2012, Jakarta.
-
Mingguan HIDUP, Generasi Facebook untuk Gereja, No. 06
Tahun ke-66, 5 Februari 2012, Jakarta.
-
G.P Sindhunata,
SJ., Nenek Tua yang Tertinggal Zamannya,
Makalah Seminar Peringatan 50 Tahun Konsili Vatikan II Fakultas Teologi
Kepausan Wedabhakti Yogyakarta, Selasa, 27 September 2012.

Mantap Dialog. Bravooo
BalasHapus