Jumat, 23 Agustus 2013

REEVANGELISASI MELALUI MEDIA

REEVANGELISASI MELALUI MEDIA
"Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:15).
Fr. Alfius Tandirassing
            Mewartakan Injil ke seluruh dunia adalah tugas Gereja. “Dengan mewartakan Injil, Gereja mengundang mereka yang mendengarnya kepada iman dan pengakuan iman, menyiapkan mereka untuk menerima baptis, membebaskan mereka dari perbudakan kesesatan dan menyaturagakan mereka ke dalam Kristus, supaya karena cinta kasih mereka bertumbuh ke arah Dia hingga kepenuhannya.” (LG art. 17). Dengan diterangi oleh Roh Kudus, Gereja membawa Kristus kepada umat dan membawa umat kepada Kristus.
Para rasul sendiri sebagai Gereja awal telah memberikan keteladanan misioner dan evangelisasi kepada Gereja masa sekarang. Iman Gereja pada saat ini tidak terlepas dari ketekunan para rasul dan pengganti-penggantinya untuk mewartakan Injil kepada seluruh bangsa. “Adalah tugas para pengganti mereka untuk melestarikan karya itu, supaya “sabda Allah terus maju dan dimuliakan” (2Tes 3:1) dan Kerajaan Allah diwartakan dan dibangun di mana-mana” (AG art. 1). Oleh karena itu, Gereja yang hidup di zaman modern ini dipanggil untuk terus mewartakan Injil dan membangun Kerajaan Allah. Namun dalam menghadapi situasi zaman modern ini, bagaimanakah Gereja bermisi? Apa yang mesti dilakukan oleh Gereja dalam reevangelisasi?
Dekrit Inter Mirifica, Dokumen Konsili Vatikan II, membahas mengenai media komunikasi sosial sebagai penemuan-penemuan teknologi yang mengagumkan di zaman ini. “Bunda Gereja menyadari, bahwa upaya-upaya itu, kalau digunakan dengan tepat, dapat berjasa besar bagi umat manusia, sebab sangat membantu untuk menyegarkan hati dan mengembangkan budi, dan untuk menyiarkan serta memantapkan Kerajaan Allah (IM art. 2). Media komunikasi sosial ini bisa digunakan oleh Gereja dengan tepat untuk menyiarkan serta memantapkan Kerajaan Allah. Apalagi di zaman sekarang, di mana generasi manusia bisa disebut sebagai generasi digital, media komunikasi tidak lagi dianggap sarana pelengkap tetapi menjadi kebutuhan.
Merasul Lewat Media
Media komunikasi tidak lagi asing bagi sebagian besar orang, bahkan mungkin hampir semua orang. Media komunikasi yang terus berkembang ternyata merambah pula ke dalam Gereja. Mau tidak mau, Gereja mesti berurusan dengan media komunikasi. Jika Gereja menutup pintu dan jendelanya terhadap kedatangan media komunikasi, maka ia bagaikan hidup di zaman primitif. Berhadapan dengan hal ini, Gereja tidak bakal lagi dihormati sebagai sebagai lembaga yang mempunyai wewenang moral dan tata susila bagi arus komunikasi. Maka sudah selayaknyalah Gereja memanfaatkan media komunikasi sebagai sarana evangelisasi baru.
Salah satu alasan mengapa evangelisasi baru mendorong pemanfaatan media komunikasi adalah karena perkembangan media komunikasi yang begitu cepat dan membawa pengaruh yang begitu mendalam terhadap pembentukan mentalitas dan kebiasaan orang. Pengaruh media komunikasi sebagai gaya hidup lambat laun menjadi sikap hidup yang akan dihidupi oleh umat.
Jika digunakan dengan tepat, media komunikasi akan sangat efektif di dalam menyiarkan dan membangun Kerajaan Allah. Dalam wawancara Penyejuk Imani Katolik di Indosiar 4 Juni 2000, Mgr. Ignatius Suharyo menegaskan, “Yang penting adalah bagaimana Gereja terus mewartakan Injil. Kalau Injil hanya disampaikan dengan cara yang biasa-biasa sering kali Injilnya tidak berbunyi untuk zaman modern ini. Maka mesti dicari jalan-jalan yagn semakin modern untuk menyentuh sensibilitas masyarakat modern”.
            Dalam pesan Hari Komunikasi Sedunia tahun 2011, Paus Benediktus XVI menyatakan salah satu langkah yang dapat dilakukan dalam mewartakan, khususnya dalam media internet. “Kita perlu memperhatikan website (laman), aplikasi, dan jejaring sosial, yang dapat membantu manusia dewasa ini untuk menemukan waktu permenungan dan pertanyaan otentik serta memberikan ruang untuk keheningan dan kesempatan berdoa, meditasi, atau sharing sabda Allah”.
            Saat ini, ada banyak jenis media yang dapat digunakan untuk mewartakan Injil atau paling tidak nilai-nilai Kristiani, di antaranya Pers, Film, Radio, Televisi, dan yang paling luas jaringannya yaitu Internet.
a.      Pers
Sebagai media cetak, pers mampu mengomunikasikan berita-berita, opini, ide-ide, dan sikap manusia secara mendetail. Menurut Instruksi Pastoral Communio et Progressio, pers merupakan pelengkap yang paling bermanfaat bagi alat-alat komunikasi audio-visual. Oleh karena pers bisa memuat banyak bahan yang beraneka ragam, maka pers menduduki tempat utama dalam usaha memajukan bidang sosial.
Media pers sudah lama digunakan oleh Gereja, misalnya L’ Orservatore dari Roma yang menjangkau seluruh dunia. Di ranah Nasional terdapat majalah Hidup, Utusan, Rohani. Di wilayah keuskupan terdapat Koinonia, Komunikasi, Salam Damai, dsb. Tak ketinggalan pula di paroki-paroki terdapat Saltus, Lentera Iman, Berkat, Kristo, dsb. Selain itu ada banyak pewarta yang menggunakan media pers lainnya sebagai sarana pewartaan iman dan nilai-nilai Kristiani, misalnya dalam koran atau penerbitan buku-buku rohani. Giatnya para pewarta yang menggunakan pers akan membantu para pembaca dalam memperdalam iman.
b.     HP, Film, Radio, dan Televisi
Media elektronik kiranya memiliki keunggulan lain dibandingkan dengan media cetak. Dari sisi penggemarnya, kebanyakan orang lebih memilih menonton film dan acara televisi  atau mendengarkan radio daripada membaca. Gereja, khususnya di Indonesia, telah berusaha menggunakan media-media ini sebagai sarana pewartaan.
Usaha-usaha tersebut di antaranya Mimbar Agama Katolik (TVRI), Penyegar Rohani Katolik (RCTI), Penyejuk Imani Katolik (Indosiar), Percikan Rohani Katolik (SCTV), Gema Rohani Katolik (ANTV), dsb. Ada pula beberapa produksi film yang pernah ditayangkan di media televisi, misalnya JanjiMu S’perti Fajar, Sentuh Hatiku, Buku Harian Nayla, Keluarga Cemara, dsb. Selain itu, penyiaran radio ternyata lebih efektif karena jaringannya mampu menjangkau daerah-daerah pelosok dengan mudah dan ekonomis. Di beberapa tempat terdapat Radio yang dimiliki sendiri oleh Gereja Katolik. Namun di tempat yang tidak memiliki radio sendiri, biasanya diisi dengan acara-acara tertentu yang menyiarkan program-program bernuansa Katolik, misalnya renungan.
Di bidang alat komunikasi seperti HP yang mampu menyapa orang secara pribadi, dapat pula dikembangkan pelayanan sabda. Di Jakarta, misalnya, melalui kerjasama Keuskupan Agung Jakarta dan produsen HP Nexian, diluncurkan HP Nexian yang seluruh fitur-fitur dan fasilitasnya bernuansa Katolik. HP tersebut laris dalam “sekejap” dan memerlukan produksi berikutnya. Di dalamnya sudah terdapat bacaan harian, doa-doa ujud tertentu, lagu-lagu dari Puji Syukur dan Madah Bakti, kisah santo-santa, alarm doa angelus, dsb. Kalau teknologi semacam ini dikembangkan terus maka umat akan semakin terbantu dalam memperdalam iman.
c.      Internet
Dalam perkembangan mutakhir, media internet jauh melampaui semua media yang ada. Internet merambah ke segala penjuru dan memuat segala macam bidang kehidupan, mulai dari yang “kudus” sampai ke yang “kudis”. Generasi yang lahir di abad XX mulai memasuki dunia internet dan internet memasuki dunia mereka. Kaum muda khususnya, cenderung menghabiskan waktu di dunia internet selama beberapa jam per hari.
Berhadapan dengan hal ini, Gereja tidak bisa tinggal diam. Ada satu pilihan yang jelas: apakah Gereja yang harus merasuki internet atau internet yang akan merasuki Gereja? Bila Gereja merasuki internet maka nilai-nilai yang terbangun adalah nilai-nilai gerejani. Tetapi apa yang terjadi bila Gereja yang dirasuki? Kiranya yang diharapkan adalah terwujudnya nilai-nilai gerejani, yaitu nilai-nilai keselamatan yang telah diwartakan oleh Kristus di dunia ini dan dilanjutkan oleh Gereja. Maka wajah seperti apakah yang mesti ditampilkan Gereja dalam berhadapan dengan media internet? Kiranya hal ini layak dan pantas didiskusikan.
Merasul dengan berbagai media memang sudah diusahakan dalam Gereja Katolik di Indonesia namun pelaksanaannya masih perlu ditingkatkan lagi. Gereja bisa tampil lebih baik dari apa yang sudah dimulai dari dulu sampai saat ini. Maka pengoptimalan penggunaan media komunikasi sosial akan sangat bermanfaat untuk mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi ini.
Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa media komunikasi sosial dan teknologi pun membawa dampak negatif bagi manusia, khususnya pada perkembangan iman umat. Maka misi Gereja-lah yang mesti merasuki dunia media komunikasi, menularkan kesucian, dan menggunakannya demi membangun Kerajaan Allah.
Merasul dengan Media di Bumi KAMS
            Bumi KAMS yang masih tergolong muda sedang bertumbuh dan membentuk diri. Tujuh puluh lima tahun Gereja Lokal KAMS telah berdiri dan semakin menemukan jati dirinya. Melalui sinode Diosesan II yang lalu, Gereja Lokal KAMS disatukan dalam Roh Kudus untuk melihat bersama KAMS yang tercinta. Salah satu pokok yang dirasakan perlu dikembangkan adalah reevangelisasi. Ada banyak langkah dalam ber-reevangelisasi. Salah satu yang dapat ditempuh adalah reevangelisasi melalui media.  
            Para misionaris telah berjuang dengan gigih dalam mewartakan iman di bumi KAMS dengan menggunakan media yang sangat mutakhir pada zamannya. Sekarang pun Gereja Lokal KAMS perlu mewartakan dengan menggunakan media di zaman ini. Luasnya medan dan kurangnya pelayan di ranah KAMS akan dapat diakali dengan menggunakan media sebagai “penyempit” medan dan “pelayan” baru.
            Di bumi KAMS, media komunikasi akan menjadi sarana yang sangat efektif. Daerah-daerah yang kurang terjangkau dalam pelayanan pastoral, bisa dikuatkan dengan menggunakan media komunikasi, misalnya melalui radio. Daerah-daerah yang terjangkau namun kurang mendalam imannya dapat dikuatkan pula dengan siaran-siaran televisi. Atau generasi muda yang giat ber-BBM-an, nge-blog, ber-chatting, ber-facebook, atau ber-tweeter ria dapat dijangkau dengan pelayan-pelayan pastoral internet. Para pencinta bacaan dapat pula dijangkau melalui penerbitan media cetak.
            Gereja KAMS memiliki banyak kesempatan dan peluang untuk memanfaatkan media komunikasi sebagai sarana pewartaan. Penerbitan buku-buku dan majalah telah dimulai dan bahkan sudah berjalan efektif dan efisien. Penyiaran melalui Radio dan Televisi sementara digagas dan sebagiannya masih dikembangkan dalam diskusi dan perencanaan.  Kehadiran Gereja KAMS di dunia internet pun sudah dilakukan oleh sukarelawan yang aktif, kreatif dan inovatif. Berkat penerangan Roh Kudus, bumi KAMS sudah mulai berubah dan tidak lagi menghidupi zaman lampau. Dalam dunia media komunikasi, Gereja Lokal KAMS mampu menjadi lebih baik dari apa yang sudah ada sekarang. Melalui media komunikasi Gereja Lokal KAMS mampu menyiarkan dan mewartakan Kerajaan Allah. Dengan demikian, perutusan Yesus bagi Gereja untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa akan ditempuh dengan cara baru, “Merasul Lewat Media”. Memang merasul lewat media tidak semudah membalik telapak tangan namun itulah perutusan baru.
Endnotes:
-         Terj. Hardawiryana, SJ., Dokumen Konsili Vatikan II, Obor, 1993, terutama Dokumen Inter Mirifica (IM), Lumen Gentium (LG), dan Ad Gentes (AG).
-         Y.I Iswarahardi, SJ, ed., Media memuliakan KehidupanSebuah Antologi Komunikasi, Kanisius, Yogyakarta, 2010.
-         Y. Sudaryatna, Media Komunikasi Sosial sebagai Sarana Evangelisasi Baru, Celesty Hieronika, Jakarta, 1999.
-         Y.I Iswarahardi SJ., Beriman dengan Bermedia – Antologi Komunikasi,  Kanisius, 2003 Yogyakarta.
-         Komisi Kateketik KWI, Buletin Kateketik Pastoral - Majalah Praedicamus, Vol. XI No. 40, Oktober-Desember 2012.
-         Majalah Rohani, Religius Ngartis lewat Facebook, No. 2 Tahun ke-58 Februari 2011, Yogyakarta.
-         Majalah Rohani, Mendebah Arus Globalisasi, No. 05 Tahun ke-51 Mei 2004, Yogyakarta.
-         Mingguan HIDUP, Evangelisasi melalui Komunikasi Sosial, No. 21 Tahun ke-66, 20 Mei 2012, Jakarta.
-         Mingguan HIDUP, Generasi Facebook untuk Gereja, No. 06 Tahun ke-66, 5 Februari 2012, Jakarta.

-         G.P Sindhunata, SJ., Nenek Tua yang Tertinggal Zamannya, Makalah Seminar Peringatan 50 Tahun Konsili Vatikan II Fakultas Teologi Kepausan Wedabhakti Yogyakarta, Selasa, 27 September 2012.

1 komentar: