KELUARGA KRISTIANI DALAM TANTANGAN GLOBALISASI
Fr. Fans Kuo Edianto Midun*
“Zaman kita, lebih daripada
abad-abad sebelumnya, memerlukan kearifan jika penemuan-penemuan yang dibuat
manusia hendak dimanusiawikan lebih lanjut. Sebab masa depan dunia ada dalam
bahaya jika tidak muncul orang-orang yang lebih arif bijaksana” (GS 15).
Berbicara mengenai keluarga dan
tantangan globalisasi, saya teringat dengan sebuah penelitian kecil yang
iseng-iseng saya lakukan dengan handphone
kesayangan saya. Awalnya saya hanya ingin menyapa teman-teman saya melalui SMS.
Saya kemudian mengirim SMS ke mereka dengan format seperti ini: “Mlm tmn, km lg
ngapain???” Kebetulan saat itu adalah malam hari sekitar jam 8 malam, jadi
banyak diantara mereka membalas SMS saya dengan mengatakan bahwa mereka sedang
makan malam. Timbul dalam pikiran saya sebuah kesimpulan bahwa berarti mereka
makan malam sambil mengoperasikan handphone
mereka. Saya kemudian ingin mengetahui lebih jauh aktivitas makan malam mereka.
Saya lalu membalas SMS mereka dengan format seperti ini: “Km mkn mlm dgn sapa?”
Kebanyakan dari mereka menjawab bersama beberapa angota keluarga, namun ada
juga yang menjawab sedang makan malam sendiri. Penelitian sederhana saya ini
membuka mata saya bahwa seperti inilah realita keluarga di zaman modern atau
globalisasi ini. Komunikasi kasih dalam keluarga saat makan bersama berkurang
karena anggota keluarga sibuk dengan alat komunikasinya. Mungkin juga saat itu
TV dinyalakan sehingga anggota keluarga makan sambil melihat tayangan TV yang
menarik dengan berbagai berita dari seluruh pelosok dunia. Kebersamaan dalam
keluarga akhirnya memudar karena globalisasi.
Realitas
Globalisasi dalam Keluarga
Globalisasi bisa diartikan sebagai sebuah
proses masuk ke ruang lingkup dunia.[i] Tidak
bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi dan informasi sebagai bagian dari
globalisasi telah merebak dan memasuki dunia semua orang. Baik orang dewasa
maupun anak-anak sudah terbiasa dengan alat-alat teknologi dan informasi
seperti handphone, internet, i-pad, tabluet,
dan sebagainya. Dengan alat-alat tersebut, luas dunia ini kini menjadi
sejengkal tangan kita. Segala macam informasi dapat diketahui hanya dengan
memencet tombol, meng-klik atau menyentuh layar handphone atau komputer. Saat saya praktek mengajar di sebuah Sekolah
Dasar Katolik di Yogyakarta, hampir semua anak di sekolah tersebut telah memiliki
handphone. Bahkan, kebanyakan dari
mereka menggunakan handphone canggih seperti Blackberry, Samsung Galaxy, Sony Experia, dan sebagainya. Itulah
globalisasi yang telah merasuk ke dalam kehidupan siapa saja.
Kenyataan globalisasi seperti ini
akhirnya membuat sebuah lompatan budaya yang amat cepat. Hal-hal yang
seharusnya belum dapat dinikmati anak-anak, sekarang dengan mudah mereka akses
dengan handphone pribadi mereka,
televisi, dan sebagainya. Sewaktu kecil, saya dan anak-anak sebaya saya
terbiasa menyanyikan lagu anak-anak seperti Balonku, Bintang kecil, Pelangi dan
sebagainya. Namun sekarang lagu-lagu populer yang bertema “cinta” sudah fasih mereka
lantunkan. Ditambah lagi budaya-budaya populer seperti fashion dan boyband-girlband
Korea sangat cepat ditiru oleh anak-anak. Mereka menjadi lebih mementingkan
penampilan yang akhirnya mengarah ke romantisme, yang semestinya belum terjadi
pada usia mereka. Yang lebih parah lagi, usia anak dan remaja juga sudah
terbiasa mengakses hal-hal yang berbau pornografi. Lompatan budaya seperti ini
sungguh telah menjadi masalah moral yang pelik.
Globalisasi akhirnya menjadi sebuah
masalah keluarga. Selain merusak moral, globalisasi juga bisa merusak
rumahtangga. Berbagai alat komunikasi dan jejaring sosial membuat tingginya
tingkat perselingkuhan dalam keluarga-keluarga. Misalnya jejaring sosial facebook yang membuat pertemanan semakin
luas. Sahabat-sahabat lama dapat ditemukan dengan mudah dengan facebook. Kesempatan
untuk reuni bersama teman-teman SMP, SMA atau teman-teman kuliah menjadi sangat
mudah. Apa yang terjadi...CLBK (Cinta Lama Bersemi Bembali atau Cinte Lame Belon Kelar) tidak dapat
dihindari. Suami atau istri berelasi kembali dengan mantan kekasih, yang
akhirnya berujung pada perselingkuhan.
Setiap keluarga kristiani perlu
menyadari keadaan dan kenyataan globalisasi seperti ini. Keadaan ini adalah
tugas sekaligus tantangan bagi setiap keluarga kristiani. Dengan demikian upaya
rekonstruksi dapat dilakukan dan dapat tetap survive sebagai keluarga kristiani sejati di tengah arus
globalisasi. Gereja pun tidak tinggal diam dalam upaya membina
keluarga-kristiani yang tangguh. Surat Apostolik Beato Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, merupakan
peneguhan bagi setiap keluarga Kristiani agar senantiasa menjadi keluarga
kristiani sejati. Setiap keuskupan dan tingkat paroki juga sudah memiliki
kelompok-kelompok pendampingan keluarga. Dengan demikian Gereja dan seluruh
umat beriman berjalan bersama dalam menciptakan keluarga kristiani yang tangguh
di tengah arus globalisasi.
Keluarga
sebagai Gereja Kecil
Konsili
Vatikan II saat berbicara tentang keluarga, sangat menekankan pentingnya pendidikan
dalam keluarga dalam meletakkan prinsip-prinsip mendasar.[ii]
pendidikan seseorang dimulai dalam keluarga. Berbagai keutamaan-keutamaan
praktis dimulai dalam keluarga sejak kecil. Orang tua mengajarkan kepada anak
bagaimana harus mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu atau ditolong oleh
orang lain. Orang tua juga yang mengajarkan larangan-larangan moral seperti
jangan mencuri, jangan berbohong dan sebagainya. Selain pesan verbal, tanpa
disadari pendidikan anak dalam keluarga juga terjadi melalui tindakan atau
sikap, khususnya orang tua. Apa yang dilakukan oleh orang tua sangat
mempengaruhi kepribadian sang anak. Saya teringat dengan seorang siswa sekolah
dasar yang pernah saya ajar di sekolah dasar Katolik di Yogyakarta. Anak itu
sangat nakal. Ia sering berulah di kelas. Ia tidak pernah mengerjakan tugas
yang saya berikan. Saya kemudian bertanya kepada wali kelas mengapa anak itu
sampai nakal seperti itu. Wali kelas menjelaskan bahwa anak itu hidup dalam
keluarga broken home. Ayah dan ibunya
pisah ranjang dan ia lebih sering bersama pengasuh. Dengan demikian, Gereja
menyebut keluarga sebagai Gereja Kecil karena dalam keluarga, kepribadian dan
iman anak pertama kali dibentuk.
Setiap keluarga Kristiani perlu
menyadari hakekat keluarga yang mereka bina sebagai sebuah Gereja kecil. Era
globalisasi mewajibkan keluarga-keluarga Kristiani untuk menghayati sungguh
peran mereka dalam membina keluarga sebagai Gereja Kecil. Pengaruh globalisasi
yang masuk dalam keluarga sangat mempengaruhi segala aspek dalam keluarga,
mulai dari pendidikan anak, keharmonisan suami istri dan keintiman sesama
anggota keluarga.
Mempertegas
Kasih
Ciri
seorang kristiani adalah kasih. Ajaran Yesus adalah kasih (bdk Luk 6:27-36).
Yesus berpesan agar setiap murid-Nya harus senantiasa mengamalkan kasih dalam
kehidupan. Demikian juga dalam keluarga, kasih harus senantiasa terjaga antara
anggota keluarga. Di era globalisasi ini, keluarga kristiani diharapkan
senantiasa mempererat dan mempertegas kasih di antara mereka. Apalagi ada gejala
bahwa perkembangan dalam suasana dunia modern kerap sangat mengurangi kedudukan
dan peranan suami istri dalam relasinya dengan keturunannya sendiri. [iii] Anak
yang tidak lagi mau makan bersama terjadi karena mereka tidak lagi merasakan
kasih dalam keluarganya. Keluarga kristiani merupakan tanda dan sarana
kehadiran Allah. Dalam Kitab Hukum Kanonik kanon 1055, disebutkan bahwa Kristus
telah mengangkat perkawinan menjadi sakramen sehingga sifat perkawinan di
antara orang-orang yang telah dibabtis adalah sakramen. Ide tentang
sakramentalitas ini didasarkan pada Ef. 5:22-32.[iv] Maka, kasih merupakan fondasi dalam bangunan
yang bernama keluarga.
Ada
banyak hal yang dapat dilakukan dalam keluarga sebagai bentuk kasih. Komitmen
untuk selalu makan bersama merupakan contoh konkrit bentuk kasih dalam
keluarga. Di situlah ada kesempatan untuk duduk bersama, bercanda tawa dan
saling mengingatkan atau menasihati. Dengan demikian kasih sayang antara
anggota keluarga semakin intim. Keluarga akhirnya menjadi yang utama bagi
setiap anggotanya. Anggota keluarga yang sedikit memiliki waktu untuk keluarga
tentu disebabkan karena ia tidak lagi merasakan kasih di dalam keluarganya. Setiap
anggota keluarga perlu disapa dan dicintai.
Sebenarnya
masih banyak hal sebagai bentuk kasih dalam keluarga yang sekarang ini sudah
jarang dilakukan. Misalnya saja kemesraan antara suami istri. Perselingkuhan
sebenarnya lebih banyak dipicu oleh kurangnya kemesraan antara suami istri.
Mungkin karena keduanya menganggap bahwa masa-masa untuk “tampil mesra” sudah
lewat, atau mungkin malu pada anak-anak dan tetangga. Namun jika demikian, maka
sebenarnya kecenderungan untuk mencari “kemesraan” di tempat lain akan terbuka
lebar. Apa salahnya jika antara suami istri tetap saling mencium pipi jika suami
hendak bekerja, dan sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan “mesra” seperti itu
merupakan sebuah simbol ungkapan kasih yang dengan sendirinya akan memberikan
warna kasih dalam keluarga. Anak akan bahagia jika kedua orang tuanya saling
mencintai dan mencintai dia.
Hal lain yang menurut hemat saya
perlu ada untuk membangun kasih dalam keluarga adalah sharing keluarga. Saya masih mengingat masa kecil saya bagaimana
ayah saya selalu menasihati kami anak-anaknya jika kami melakukan kesalahan,
tanpa menghukum atau memukul kami. Sebelum tidur ia mengumpulkan kami dan
menasihati agar jangan lagi melakukan kesalahan tersebut. Ia juga berusaha agar
dalam sharing keluarga tersebut kami
dapat berbicara dari hati ke hati, sehingga apa yang sebenarnya kami inginkan
dimengerti oleh kedua orang tua. Pengalaman sharing
keluarga yang selalu dilakukan ayah saya tersebut membuat saya sungguh merasa
dicintai sebagai anak. Intinya anggota keluarga diharapkan sesering mungkin
berkumpul bersama untuk dapat berbicara dari hati ke hati, sehingga segala
keresahan setiap anggota keluarga dapat diketahui dan kasih sungguh terwujud
dalam keluarga. Curhat semestinya
pertama-tama terjadi di dalam keluarga, bukan kepada orang lain apalagi kepada
media. Saya prihatin dengan tindakan para remaja dan orang dewasa zaman ini yang
selalu curhat di facebook dengan
meng-update status. Mereka lebih
memilih curhat di facebook daripada
kepada orang tua atau keluarga mereka.
Akhirnya, dengan cairnya suasana
dalam keluarga, dengan kasih sebagai iklimnya, pengaruh globalisasi dapat
dikontrol, baik oleh orang tua maupun setiap anggotanya. Setiap anggota
keluarga dapat saling mengingatkan satu sama lain dengan penuh kasih. Anggota keluarga
yang telah merasakan kasih sejati dalam keluarga mereka tentu tidak ingin keluarga
yang mereka cintai hancur karena pengaruh eksternal, terutama globalisasi.
Kemajuan
Global sebagai sarana membangun keluarga
Benarlah perkataan seorang guru
sufi bahwa janganlah kita merubah keadaan, melainkan sikap kitalah yang perlu
diubah dalam menghadapi keadaan tersebut. Globalisasi telah menjadi bagian
hidup kita karena kita ada di dunia ini. Kita tidak bisa menghindar dari globalisasi.
Ada begitu banyak kepentingan manusia di dalam globalisasi yang mengharuskan
kita masuk di dalamnya. Namun, kita tetap memiliki kebebasan sebagai individu
otonom. Globalisasi secara otomatis boleh masuk dalam kehidupan kita dan dalam
keluarga kita, namun untuk memilah dan
memilih mana yang baik dan tidak dari globalisasi, tetap ada di tangan
kita.
Globalisasi membutuhkan kearifan.
Globalisasi tidak 100% buruk. Kemajuan teknologi dan penerapan-penerapan
teknisnya memberikan kemungkinan-kemungkinan yang baru dan tak terhingga dalam
membangun humanisme. Maka, perlulah bahwa semua pihak menyadari kembali amat
pentingnya nilai-nilai moral, yakni nilai-nilai pribadi manusia sebagai
manusia.[v] Gereja
melalui dokumen Gaudium et Spes
menegaskan perlunya kearifan dalam menghadapi kemajuan-kemajuan dunia: “Zaman
kita, lebih daripada abad-abad sebelumnya, memerlukan kearifan jika
penemuan-penemuan yang dibuat manusia hendak dimanusiawikan lebih lanjut. Sebab
masa depan dunia ada dalam bahaya jika tidak muncul orang-orang yang lebih arif
bijaksana” (GS 15).
Globalisasi yang menjadi tantangan
keluarga kristiani perlu disikapi secara bijaksana. Di satu sisi globalisasi
juga membantu, misalnya dalam mendidik anak-anak. Dengan kemajuan teknologi,
anak-anak dengan mudah mencari sumber-sumber ilmu pengetahuan. Orang tua tentu
tahu mana yang tidak boleh untuk anak-anak, seperti yang berbau pornografi,
kekerasan dan sebagainya. Orang tua harus lebih proaktif dalam mendampingi
anak-anak bermedia. Program di TV biasanya menampilkan kriteria program seperti
BO (Bimbingan Orangtua), D (Dewasa), dan R (Remaja). Maka orang tua diharapkan
senantiasa mendampingi anak dalam menikmati siaran-siaran TV, sambil
menjelaskan tayangan-tayangan tersebut agar anak dapat mencernanya secara
positif. Selain itu orang tua juga diharapkan bijaksana dalam memberikan
fasilitas-fasilitas kepada anak-anak. Jangan terlalu cepat memberikan
fasilitas, khususnya alat-alat komunikasi-informasi, jika tidak terlalu perlu.
Doa
Akhirnya sebagai orang kristiani,
segala persoalan dalam keluarga di era globalisasi ini harus dihadapi dalam
semangat doa. Yesus bersabda, “Berdoalah agar kamu jangan masuk dalam pencobaan”
(Luk 22:40). Maka kiranya keluarga kristiani tetap setia berdoa, agar segala cobaan,
tantangan dan persoalan hidup dalam arus globalisasi dapat dihadapi dengan
tenang dan bijaksana. Keluarga kristiani sejati adalah keluarga yang memiliki
semangat doa yang hidup. Doa keluarga memiliki sifat-sifat khasnya sendiri. Doa
keluarga adalah doa yang dipersembahkan
bersama, suami bersama istri, bapak-ibu bersama anak-anak. Persatuan dalam
doa merupakan konsekwensi maupun tuntutan demi persatuan yang diberikan oleh
sakramen Babtis dan sakramen Perkawinan.[vi]
Gereja menuntut agar keluarga
kristiani memiliki kebiasaan berdoa bersama. Di situ lah ada kesempatan untuk
semakin memperdalam iman seluruh anggota keluarga, terutama iman anak. Dalam
doa bersama, tiap anggota keluarga dapat saling mendoakan satu sama lain. Doa
akhirnya menjadi sarana yang sungguh mampu menekan pengaruh negatif
globalisasi. Doa membuat keluarga kristiani menghadirkan Tuhan dalam menghadapi
globalisasi.
Penutup
Melalui refleksi sederhana ini,
mari kita menjadi keluarga kristiani yang sejati di era globalisasi. Keluarga
kristiani sejati adalah keluarga yang mampu bertahan menjalankan kasih dalam
keluarga dan masyarakat di tengah tantangan globalisasi. Keluarga kristiani
sejati adalah keluarga yang mampu bijak menghadapi globalisasi. Keluarga
kristiani sejati adalah keluarga yang bersama-sama membangun dunia menuju
Kristus.
*Frater tingkat IV
[i] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta 2008, 455.
[ii] Maurice Eminyan, Teologi Keluarga, Kanisius, Yogyakarta
2001, 153.
[iii]
C. Groenen, Perkawinan Sakramental, kanisius,
Yogyakarta 1993, 413.
[iv] Robertus Rubyatmoko, Perkawinan Katolik dalam Kitab Hukum Kanonik,
Kanisius, Yogyakarta 2011, 20.
[v]Komisi Pendampingan Keluarga
Keuskupan Agung Semarang, Keluarga
Kristiani dalam Dunia Modern, Kanisius, Yogyakarta 1994, 23.
[vi]
Komisi Pendampingan
Keluarga Keuskupan Agung Semarang, Keluarga
Kristiani dalam Dunia Modern, 105.
