Jumat, 28 Februari 2014

KELUARGA KRISTIANI DALAM TANTANGAN GLOBALISASI

KELUARGA KRISTIANI DALAM TANTANGAN GLOBALISASI
Fr. Fans Kuo Edianto Midun*

“Zaman kita, lebih daripada abad-abad sebelumnya, memerlukan kearifan jika penemuan-penemuan yang dibuat manusia hendak dimanusiawikan lebih lanjut. Sebab masa depan dunia ada dalam bahaya jika tidak muncul orang-orang yang lebih arif bijaksana” (GS 15).

Berbicara mengenai keluarga dan tantangan globalisasi, saya teringat dengan sebuah penelitian kecil yang iseng-iseng saya lakukan dengan handphone kesayangan saya. Awalnya saya hanya ingin menyapa teman-teman saya melalui SMS. Saya kemudian mengirim SMS ke mereka dengan format seperti ini: “Mlm tmn, km lg ngapain???” Kebetulan saat itu adalah malam hari sekitar jam 8 malam, jadi banyak diantara mereka membalas SMS saya dengan mengatakan bahwa mereka sedang makan malam. Timbul dalam pikiran saya sebuah kesimpulan bahwa berarti mereka makan malam sambil mengoperasikan handphone mereka. Saya kemudian ingin mengetahui lebih jauh aktivitas makan malam mereka. Saya lalu membalas SMS mereka dengan format seperti ini: “Km mkn mlm dgn sapa?” Kebanyakan dari mereka menjawab bersama beberapa angota keluarga, namun ada juga yang menjawab sedang makan malam sendiri. Penelitian sederhana saya ini membuka mata saya bahwa seperti inilah realita keluarga di zaman modern atau globalisasi ini. Komunikasi kasih dalam keluarga saat makan bersama berkurang karena anggota keluarga sibuk dengan alat komunikasinya. Mungkin juga saat itu TV dinyalakan sehingga anggota keluarga makan sambil melihat tayangan TV yang menarik dengan berbagai berita dari seluruh pelosok dunia. Kebersamaan dalam keluarga akhirnya memudar karena globalisasi.
Realitas Globalisasi dalam Keluarga
Globalisasi bisa diartikan sebagai sebuah proses masuk ke ruang lingkup dunia.[i] Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi dan informasi sebagai bagian dari globalisasi telah merebak dan memasuki dunia semua orang. Baik orang dewasa maupun anak-anak sudah terbiasa dengan alat-alat teknologi dan informasi seperti handphone, internet, i-pad, tabluet, dan sebagainya. Dengan alat-alat tersebut, luas dunia ini kini menjadi sejengkal tangan kita. Segala macam informasi dapat diketahui hanya dengan memencet tombol, meng-klik atau menyentuh layar handphone atau komputer. Saat saya praktek mengajar di sebuah Sekolah Dasar Katolik di Yogyakarta, hampir semua anak di sekolah tersebut telah memiliki handphone. Bahkan, kebanyakan dari mereka menggunakan handphone canggih seperti Blackberry, Samsung Galaxy, Sony Experia, dan sebagainya. Itulah globalisasi yang telah merasuk ke dalam kehidupan siapa saja.
Kenyataan globalisasi seperti ini akhirnya membuat sebuah lompatan budaya yang amat cepat. Hal-hal yang seharusnya belum dapat dinikmati anak-anak, sekarang dengan mudah mereka akses dengan handphone pribadi mereka, televisi, dan sebagainya. Sewaktu kecil, saya dan anak-anak sebaya saya terbiasa menyanyikan lagu anak-anak seperti Balonku, Bintang kecil, Pelangi dan sebagainya. Namun sekarang lagu-lagu populer yang bertema “cinta” sudah fasih mereka lantunkan. Ditambah lagi budaya-budaya populer seperti fashion dan boyband-girlband Korea sangat cepat ditiru oleh anak-anak. Mereka menjadi lebih mementingkan penampilan yang akhirnya mengarah ke romantisme, yang semestinya belum terjadi pada usia mereka. Yang lebih parah lagi, usia anak dan remaja juga sudah terbiasa mengakses hal-hal yang berbau pornografi. Lompatan budaya seperti ini sungguh telah menjadi masalah moral yang pelik.
Globalisasi akhirnya menjadi sebuah masalah keluarga. Selain merusak moral, globalisasi juga bisa merusak rumahtangga. Berbagai alat komunikasi dan jejaring sosial membuat tingginya tingkat perselingkuhan dalam keluarga-keluarga. Misalnya jejaring sosial facebook yang membuat pertemanan semakin luas. Sahabat-sahabat lama dapat ditemukan dengan mudah dengan facebook. Kesempatan untuk reuni bersama teman-teman SMP, SMA atau teman-teman kuliah menjadi sangat mudah. Apa yang terjadi...CLBK (Cinta Lama Bersemi Bembali atau Cinte Lame Belon Kelar) tidak dapat dihindari. Suami atau istri berelasi kembali dengan mantan kekasih, yang akhirnya  berujung pada perselingkuhan.
Setiap keluarga kristiani perlu menyadari keadaan dan kenyataan globalisasi seperti ini. Keadaan ini adalah tugas sekaligus tantangan bagi setiap keluarga kristiani. Dengan demikian upaya rekonstruksi dapat dilakukan dan dapat tetap survive sebagai keluarga kristiani sejati di tengah arus globalisasi. Gereja pun tidak tinggal diam dalam upaya membina keluarga-kristiani yang tangguh. Surat Apostolik Beato Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, merupakan peneguhan bagi setiap keluarga Kristiani agar senantiasa menjadi keluarga kristiani sejati. Setiap keuskupan dan tingkat paroki juga sudah memiliki kelompok-kelompok pendampingan keluarga. Dengan demikian Gereja dan seluruh umat beriman berjalan bersama dalam menciptakan keluarga kristiani yang tangguh di tengah arus globalisasi.

Keluarga sebagai Gereja Kecil
            Konsili Vatikan II saat berbicara tentang keluarga, sangat menekankan pentingnya pendidikan dalam keluarga dalam meletakkan prinsip-prinsip mendasar.[ii] pendidikan seseorang dimulai dalam keluarga. Berbagai keutamaan-keutamaan praktis dimulai dalam keluarga sejak kecil. Orang tua mengajarkan kepada anak bagaimana harus mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu atau ditolong oleh orang lain. Orang tua juga yang mengajarkan larangan-larangan moral seperti jangan mencuri, jangan berbohong dan sebagainya. Selain pesan verbal, tanpa disadari pendidikan anak dalam keluarga juga terjadi melalui tindakan atau sikap, khususnya orang tua. Apa yang dilakukan oleh orang tua sangat mempengaruhi kepribadian sang anak. Saya teringat dengan seorang siswa sekolah dasar yang pernah saya ajar di sekolah dasar Katolik di Yogyakarta. Anak itu sangat nakal. Ia sering berulah di kelas. Ia tidak pernah mengerjakan tugas yang saya berikan. Saya kemudian bertanya kepada wali kelas mengapa anak itu sampai nakal seperti itu. Wali kelas menjelaskan bahwa anak itu hidup dalam keluarga broken home. Ayah dan ibunya pisah ranjang dan ia lebih sering bersama pengasuh. Dengan demikian, Gereja menyebut keluarga sebagai Gereja Kecil karena dalam keluarga, kepribadian dan iman anak pertama kali dibentuk.
Setiap keluarga Kristiani perlu menyadari hakekat keluarga yang mereka bina sebagai sebuah Gereja kecil. Era globalisasi mewajibkan keluarga-keluarga Kristiani untuk menghayati sungguh peran mereka dalam membina keluarga sebagai Gereja Kecil. Pengaruh globalisasi yang masuk dalam keluarga sangat mempengaruhi segala aspek dalam keluarga, mulai dari pendidikan anak, keharmonisan suami istri dan keintiman sesama anggota keluarga.
Mempertegas Kasih
            Ciri seorang kristiani adalah kasih. Ajaran Yesus adalah kasih (bdk Luk 6:27-36). Yesus berpesan agar setiap murid-Nya harus senantiasa mengamalkan kasih dalam kehidupan. Demikian juga dalam keluarga, kasih harus senantiasa terjaga antara anggota keluarga. Di era globalisasi ini, keluarga kristiani diharapkan senantiasa mempererat dan mempertegas kasih di antara mereka. Apalagi ada gejala bahwa perkembangan dalam suasana dunia modern kerap sangat mengurangi kedudukan dan peranan suami istri dalam relasinya dengan keturunannya sendiri. [iii] Anak yang tidak lagi mau makan bersama terjadi karena mereka tidak lagi merasakan kasih dalam keluarganya. Keluarga kristiani merupakan tanda dan sarana kehadiran Allah. Dalam Kitab Hukum Kanonik kanon 1055, disebutkan bahwa Kristus telah mengangkat perkawinan menjadi sakramen sehingga sifat perkawinan di antara orang-orang yang telah dibabtis adalah sakramen. Ide tentang sakramentalitas ini didasarkan pada Ef. 5:22-32.[iv]  Maka, kasih merupakan fondasi dalam bangunan yang bernama keluarga.
            Ada banyak hal yang dapat dilakukan dalam keluarga sebagai bentuk kasih. Komitmen untuk selalu makan bersama merupakan contoh konkrit bentuk kasih dalam keluarga. Di situlah ada kesempatan untuk duduk bersama, bercanda tawa dan saling mengingatkan atau menasihati. Dengan demikian kasih sayang antara anggota keluarga semakin intim. Keluarga akhirnya menjadi yang utama bagi setiap anggotanya. Anggota keluarga yang sedikit memiliki waktu untuk keluarga tentu disebabkan karena ia tidak lagi merasakan kasih di dalam keluarganya. Setiap anggota keluarga perlu disapa dan dicintai.
            Sebenarnya masih banyak hal sebagai bentuk kasih dalam keluarga yang sekarang ini sudah jarang dilakukan. Misalnya saja kemesraan antara suami istri. Perselingkuhan sebenarnya lebih banyak dipicu oleh kurangnya kemesraan antara suami istri. Mungkin karena keduanya menganggap bahwa masa-masa untuk “tampil mesra” sudah lewat, atau mungkin malu pada anak-anak dan tetangga. Namun jika demikian, maka sebenarnya kecenderungan untuk mencari “kemesraan” di tempat lain akan terbuka lebar. Apa salahnya jika antara suami istri tetap saling mencium pipi jika suami hendak bekerja, dan sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan “mesra” seperti itu merupakan sebuah simbol ungkapan kasih yang dengan sendirinya akan memberikan warna kasih dalam keluarga. Anak akan bahagia jika kedua orang tuanya saling mencintai dan mencintai dia.
Hal lain yang menurut hemat saya perlu ada untuk membangun kasih dalam keluarga adalah sharing keluarga. Saya masih mengingat masa kecil saya bagaimana ayah saya selalu menasihati kami anak-anaknya jika kami melakukan kesalahan, tanpa menghukum atau memukul kami. Sebelum tidur ia mengumpulkan kami dan menasihati agar jangan lagi melakukan kesalahan tersebut. Ia juga berusaha agar dalam sharing keluarga tersebut kami dapat berbicara dari hati ke hati, sehingga apa yang sebenarnya kami inginkan dimengerti oleh kedua orang tua. Pengalaman sharing keluarga yang selalu dilakukan ayah saya tersebut membuat saya sungguh merasa dicintai sebagai anak. Intinya anggota keluarga diharapkan sesering mungkin berkumpul bersama untuk dapat berbicara dari hati ke hati, sehingga segala keresahan setiap anggota keluarga dapat diketahui dan kasih sungguh terwujud dalam keluarga. Curhat semestinya pertama-tama terjadi di dalam keluarga, bukan kepada orang lain apalagi kepada media. Saya prihatin dengan tindakan para remaja dan orang dewasa zaman ini yang selalu curhat di facebook dengan meng-update status. Mereka lebih memilih curhat di facebook daripada kepada orang tua atau keluarga mereka.
Akhirnya, dengan cairnya suasana dalam keluarga, dengan kasih sebagai iklimnya, pengaruh globalisasi dapat dikontrol, baik oleh orang tua maupun setiap anggotanya. Setiap anggota keluarga dapat saling mengingatkan satu sama lain dengan penuh kasih. Anggota keluarga yang telah merasakan kasih sejati dalam keluarga mereka tentu tidak ingin keluarga yang mereka cintai hancur karena pengaruh eksternal, terutama globalisasi.
Kemajuan Global sebagai sarana membangun keluarga
Benarlah perkataan seorang guru sufi bahwa janganlah kita merubah keadaan, melainkan sikap kitalah yang perlu diubah dalam menghadapi keadaan tersebut. Globalisasi telah menjadi bagian hidup kita karena kita ada di dunia ini. Kita tidak bisa menghindar dari globalisasi. Ada begitu banyak kepentingan manusia di dalam globalisasi yang mengharuskan kita masuk di dalamnya. Namun, kita tetap memiliki kebebasan sebagai individu otonom. Globalisasi secara otomatis boleh masuk dalam kehidupan kita dan dalam keluarga kita, namun untuk memilah dan memilih mana yang baik dan tidak dari globalisasi, tetap ada di tangan kita.
Globalisasi membutuhkan kearifan. Globalisasi tidak 100% buruk. Kemajuan teknologi dan penerapan-penerapan teknisnya memberikan kemungkinan-kemungkinan yang baru dan tak terhingga dalam membangun humanisme. Maka, perlulah bahwa semua pihak menyadari kembali amat pentingnya nilai-nilai moral, yakni nilai-nilai pribadi manusia sebagai manusia.[v] Gereja melalui dokumen Gaudium et Spes menegaskan perlunya kearifan dalam menghadapi kemajuan-kemajuan dunia: “Zaman kita, lebih daripada abad-abad sebelumnya, memerlukan kearifan jika penemuan-penemuan yang dibuat manusia hendak dimanusiawikan lebih lanjut. Sebab masa depan dunia ada dalam bahaya jika tidak muncul orang-orang yang lebih arif bijaksana” (GS 15).
Globalisasi yang menjadi tantangan keluarga kristiani perlu disikapi secara bijaksana. Di satu sisi globalisasi juga membantu, misalnya dalam mendidik anak-anak. Dengan kemajuan teknologi, anak-anak dengan mudah mencari sumber-sumber ilmu pengetahuan. Orang tua tentu tahu mana yang tidak boleh untuk anak-anak, seperti yang berbau pornografi, kekerasan dan sebagainya. Orang tua harus lebih proaktif dalam mendampingi anak-anak bermedia. Program di TV biasanya menampilkan kriteria program seperti BO (Bimbingan Orangtua), D (Dewasa), dan R (Remaja). Maka orang tua diharapkan senantiasa mendampingi anak dalam menikmati siaran-siaran TV, sambil menjelaskan tayangan-tayangan tersebut agar anak dapat mencernanya secara positif. Selain itu orang tua juga diharapkan bijaksana dalam memberikan fasilitas-fasilitas kepada anak-anak. Jangan terlalu cepat memberikan fasilitas, khususnya alat-alat komunikasi-informasi, jika tidak terlalu perlu.
Doa
Akhirnya sebagai orang kristiani, segala persoalan dalam keluarga di era globalisasi ini harus dihadapi dalam semangat doa. Yesus bersabda, “Berdoalah agar kamu jangan masuk dalam pencobaan” (Luk 22:40). Maka kiranya keluarga kristiani tetap setia berdoa, agar segala cobaan, tantangan dan persoalan hidup dalam arus globalisasi dapat dihadapi dengan tenang dan bijaksana. Keluarga kristiani sejati adalah keluarga yang memiliki semangat doa yang hidup. Doa keluarga memiliki sifat-sifat khasnya sendiri. Doa keluarga adalah doa yang dipersembahkan bersama, suami bersama istri, bapak-ibu bersama anak-anak. Persatuan dalam doa merupakan konsekwensi maupun tuntutan demi persatuan yang diberikan oleh sakramen Babtis dan sakramen Perkawinan.[vi]
Gereja menuntut agar keluarga kristiani memiliki kebiasaan berdoa bersama. Di situ lah ada kesempatan untuk semakin memperdalam iman seluruh anggota keluarga, terutama iman anak. Dalam doa bersama, tiap anggota keluarga dapat saling mendoakan satu sama lain. Doa akhirnya menjadi sarana yang sungguh mampu menekan pengaruh negatif globalisasi. Doa membuat keluarga kristiani menghadirkan Tuhan dalam menghadapi globalisasi.
Penutup
Melalui refleksi sederhana ini, mari kita menjadi keluarga kristiani yang sejati di era globalisasi. Keluarga kristiani sejati adalah keluarga yang mampu bertahan menjalankan kasih dalam keluarga dan masyarakat di tengah tantangan globalisasi. Keluarga kristiani sejati adalah keluarga yang mampu bijak menghadapi globalisasi. Keluarga kristiani sejati adalah keluarga yang bersama-sama membangun dunia menuju Kristus.
*Frater tingkat IV





[i] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2008, 455.
[ii] Maurice Eminyan, Teologi Keluarga, Kanisius, Yogyakarta 2001, 153.
[iii] C. Groenen, Perkawinan Sakramental, kanisius, Yogyakarta 1993, 413.
[iv] Robertus Rubyatmoko, Perkawinan Katolik dalam Kitab Hukum Kanonik, Kanisius, Yogyakarta 2011, 20.
[v]Komisi Pendampingan Keluarga Keuskupan Agung Semarang, Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern, Kanisius, Yogyakarta 1994, 23.
[vi] Komisi Pendampingan Keluarga Keuskupan Agung Semarang, Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern, 105.

1 komentar: