Majalah Dialog Seminarium Anging Mammiri Yogyakarta
Rabu, 20 Januari 2016
Jumat, 28 Februari 2014
KELUARGA KRISTIANI DALAM TANTANGAN GLOBALISASI
KELUARGA KRISTIANI DALAM TANTANGAN GLOBALISASI
Fr. Fans Kuo Edianto Midun*
“Zaman kita, lebih daripada
abad-abad sebelumnya, memerlukan kearifan jika penemuan-penemuan yang dibuat
manusia hendak dimanusiawikan lebih lanjut. Sebab masa depan dunia ada dalam
bahaya jika tidak muncul orang-orang yang lebih arif bijaksana” (GS 15).
Berbicara mengenai keluarga dan
tantangan globalisasi, saya teringat dengan sebuah penelitian kecil yang
iseng-iseng saya lakukan dengan handphone
kesayangan saya. Awalnya saya hanya ingin menyapa teman-teman saya melalui SMS.
Saya kemudian mengirim SMS ke mereka dengan format seperti ini: “Mlm tmn, km lg
ngapain???” Kebetulan saat itu adalah malam hari sekitar jam 8 malam, jadi
banyak diantara mereka membalas SMS saya dengan mengatakan bahwa mereka sedang
makan malam. Timbul dalam pikiran saya sebuah kesimpulan bahwa berarti mereka
makan malam sambil mengoperasikan handphone
mereka. Saya kemudian ingin mengetahui lebih jauh aktivitas makan malam mereka.
Saya lalu membalas SMS mereka dengan format seperti ini: “Km mkn mlm dgn sapa?”
Kebanyakan dari mereka menjawab bersama beberapa angota keluarga, namun ada
juga yang menjawab sedang makan malam sendiri. Penelitian sederhana saya ini
membuka mata saya bahwa seperti inilah realita keluarga di zaman modern atau
globalisasi ini. Komunikasi kasih dalam keluarga saat makan bersama berkurang
karena anggota keluarga sibuk dengan alat komunikasinya. Mungkin juga saat itu
TV dinyalakan sehingga anggota keluarga makan sambil melihat tayangan TV yang
menarik dengan berbagai berita dari seluruh pelosok dunia. Kebersamaan dalam
keluarga akhirnya memudar karena globalisasi.
Realitas
Globalisasi dalam Keluarga
Globalisasi bisa diartikan sebagai sebuah
proses masuk ke ruang lingkup dunia.[i] Tidak
bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi dan informasi sebagai bagian dari
globalisasi telah merebak dan memasuki dunia semua orang. Baik orang dewasa
maupun anak-anak sudah terbiasa dengan alat-alat teknologi dan informasi
seperti handphone, internet, i-pad, tabluet,
dan sebagainya. Dengan alat-alat tersebut, luas dunia ini kini menjadi
sejengkal tangan kita. Segala macam informasi dapat diketahui hanya dengan
memencet tombol, meng-klik atau menyentuh layar handphone atau komputer. Saat saya praktek mengajar di sebuah Sekolah
Dasar Katolik di Yogyakarta, hampir semua anak di sekolah tersebut telah memiliki
handphone. Bahkan, kebanyakan dari
mereka menggunakan handphone canggih seperti Blackberry, Samsung Galaxy, Sony Experia, dan sebagainya. Itulah
globalisasi yang telah merasuk ke dalam kehidupan siapa saja.
Kenyataan globalisasi seperti ini
akhirnya membuat sebuah lompatan budaya yang amat cepat. Hal-hal yang
seharusnya belum dapat dinikmati anak-anak, sekarang dengan mudah mereka akses
dengan handphone pribadi mereka,
televisi, dan sebagainya. Sewaktu kecil, saya dan anak-anak sebaya saya
terbiasa menyanyikan lagu anak-anak seperti Balonku, Bintang kecil, Pelangi dan
sebagainya. Namun sekarang lagu-lagu populer yang bertema “cinta” sudah fasih mereka
lantunkan. Ditambah lagi budaya-budaya populer seperti fashion dan boyband-girlband
Korea sangat cepat ditiru oleh anak-anak. Mereka menjadi lebih mementingkan
penampilan yang akhirnya mengarah ke romantisme, yang semestinya belum terjadi
pada usia mereka. Yang lebih parah lagi, usia anak dan remaja juga sudah
terbiasa mengakses hal-hal yang berbau pornografi. Lompatan budaya seperti ini
sungguh telah menjadi masalah moral yang pelik.
Globalisasi akhirnya menjadi sebuah
masalah keluarga. Selain merusak moral, globalisasi juga bisa merusak
rumahtangga. Berbagai alat komunikasi dan jejaring sosial membuat tingginya
tingkat perselingkuhan dalam keluarga-keluarga. Misalnya jejaring sosial facebook yang membuat pertemanan semakin
luas. Sahabat-sahabat lama dapat ditemukan dengan mudah dengan facebook. Kesempatan
untuk reuni bersama teman-teman SMP, SMA atau teman-teman kuliah menjadi sangat
mudah. Apa yang terjadi...CLBK (Cinta Lama Bersemi Bembali atau Cinte Lame Belon Kelar) tidak dapat
dihindari. Suami atau istri berelasi kembali dengan mantan kekasih, yang
akhirnya berujung pada perselingkuhan.
Setiap keluarga kristiani perlu
menyadari keadaan dan kenyataan globalisasi seperti ini. Keadaan ini adalah
tugas sekaligus tantangan bagi setiap keluarga kristiani. Dengan demikian upaya
rekonstruksi dapat dilakukan dan dapat tetap survive sebagai keluarga kristiani sejati di tengah arus
globalisasi. Gereja pun tidak tinggal diam dalam upaya membina
keluarga-kristiani yang tangguh. Surat Apostolik Beato Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, merupakan
peneguhan bagi setiap keluarga Kristiani agar senantiasa menjadi keluarga
kristiani sejati. Setiap keuskupan dan tingkat paroki juga sudah memiliki
kelompok-kelompok pendampingan keluarga. Dengan demikian Gereja dan seluruh
umat beriman berjalan bersama dalam menciptakan keluarga kristiani yang tangguh
di tengah arus globalisasi.
Keluarga
sebagai Gereja Kecil
Konsili
Vatikan II saat berbicara tentang keluarga, sangat menekankan pentingnya pendidikan
dalam keluarga dalam meletakkan prinsip-prinsip mendasar.[ii]
pendidikan seseorang dimulai dalam keluarga. Berbagai keutamaan-keutamaan
praktis dimulai dalam keluarga sejak kecil. Orang tua mengajarkan kepada anak
bagaimana harus mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu atau ditolong oleh
orang lain. Orang tua juga yang mengajarkan larangan-larangan moral seperti
jangan mencuri, jangan berbohong dan sebagainya. Selain pesan verbal, tanpa
disadari pendidikan anak dalam keluarga juga terjadi melalui tindakan atau
sikap, khususnya orang tua. Apa yang dilakukan oleh orang tua sangat
mempengaruhi kepribadian sang anak. Saya teringat dengan seorang siswa sekolah
dasar yang pernah saya ajar di sekolah dasar Katolik di Yogyakarta. Anak itu
sangat nakal. Ia sering berulah di kelas. Ia tidak pernah mengerjakan tugas
yang saya berikan. Saya kemudian bertanya kepada wali kelas mengapa anak itu
sampai nakal seperti itu. Wali kelas menjelaskan bahwa anak itu hidup dalam
keluarga broken home. Ayah dan ibunya
pisah ranjang dan ia lebih sering bersama pengasuh. Dengan demikian, Gereja
menyebut keluarga sebagai Gereja Kecil karena dalam keluarga, kepribadian dan
iman anak pertama kali dibentuk.
Setiap keluarga Kristiani perlu
menyadari hakekat keluarga yang mereka bina sebagai sebuah Gereja kecil. Era
globalisasi mewajibkan keluarga-keluarga Kristiani untuk menghayati sungguh
peran mereka dalam membina keluarga sebagai Gereja Kecil. Pengaruh globalisasi
yang masuk dalam keluarga sangat mempengaruhi segala aspek dalam keluarga,
mulai dari pendidikan anak, keharmonisan suami istri dan keintiman sesama
anggota keluarga.
Mempertegas
Kasih
Ciri
seorang kristiani adalah kasih. Ajaran Yesus adalah kasih (bdk Luk 6:27-36).
Yesus berpesan agar setiap murid-Nya harus senantiasa mengamalkan kasih dalam
kehidupan. Demikian juga dalam keluarga, kasih harus senantiasa terjaga antara
anggota keluarga. Di era globalisasi ini, keluarga kristiani diharapkan
senantiasa mempererat dan mempertegas kasih di antara mereka. Apalagi ada gejala
bahwa perkembangan dalam suasana dunia modern kerap sangat mengurangi kedudukan
dan peranan suami istri dalam relasinya dengan keturunannya sendiri. [iii] Anak
yang tidak lagi mau makan bersama terjadi karena mereka tidak lagi merasakan
kasih dalam keluarganya. Keluarga kristiani merupakan tanda dan sarana
kehadiran Allah. Dalam Kitab Hukum Kanonik kanon 1055, disebutkan bahwa Kristus
telah mengangkat perkawinan menjadi sakramen sehingga sifat perkawinan di
antara orang-orang yang telah dibabtis adalah sakramen. Ide tentang
sakramentalitas ini didasarkan pada Ef. 5:22-32.[iv] Maka, kasih merupakan fondasi dalam bangunan
yang bernama keluarga.
Ada
banyak hal yang dapat dilakukan dalam keluarga sebagai bentuk kasih. Komitmen
untuk selalu makan bersama merupakan contoh konkrit bentuk kasih dalam
keluarga. Di situlah ada kesempatan untuk duduk bersama, bercanda tawa dan
saling mengingatkan atau menasihati. Dengan demikian kasih sayang antara
anggota keluarga semakin intim. Keluarga akhirnya menjadi yang utama bagi
setiap anggotanya. Anggota keluarga yang sedikit memiliki waktu untuk keluarga
tentu disebabkan karena ia tidak lagi merasakan kasih di dalam keluarganya. Setiap
anggota keluarga perlu disapa dan dicintai.
Sebenarnya
masih banyak hal sebagai bentuk kasih dalam keluarga yang sekarang ini sudah
jarang dilakukan. Misalnya saja kemesraan antara suami istri. Perselingkuhan
sebenarnya lebih banyak dipicu oleh kurangnya kemesraan antara suami istri.
Mungkin karena keduanya menganggap bahwa masa-masa untuk “tampil mesra” sudah
lewat, atau mungkin malu pada anak-anak dan tetangga. Namun jika demikian, maka
sebenarnya kecenderungan untuk mencari “kemesraan” di tempat lain akan terbuka
lebar. Apa salahnya jika antara suami istri tetap saling mencium pipi jika suami
hendak bekerja, dan sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan “mesra” seperti itu
merupakan sebuah simbol ungkapan kasih yang dengan sendirinya akan memberikan
warna kasih dalam keluarga. Anak akan bahagia jika kedua orang tuanya saling
mencintai dan mencintai dia.
Hal lain yang menurut hemat saya
perlu ada untuk membangun kasih dalam keluarga adalah sharing keluarga. Saya masih mengingat masa kecil saya bagaimana
ayah saya selalu menasihati kami anak-anaknya jika kami melakukan kesalahan,
tanpa menghukum atau memukul kami. Sebelum tidur ia mengumpulkan kami dan
menasihati agar jangan lagi melakukan kesalahan tersebut. Ia juga berusaha agar
dalam sharing keluarga tersebut kami
dapat berbicara dari hati ke hati, sehingga apa yang sebenarnya kami inginkan
dimengerti oleh kedua orang tua. Pengalaman sharing
keluarga yang selalu dilakukan ayah saya tersebut membuat saya sungguh merasa
dicintai sebagai anak. Intinya anggota keluarga diharapkan sesering mungkin
berkumpul bersama untuk dapat berbicara dari hati ke hati, sehingga segala
keresahan setiap anggota keluarga dapat diketahui dan kasih sungguh terwujud
dalam keluarga. Curhat semestinya
pertama-tama terjadi di dalam keluarga, bukan kepada orang lain apalagi kepada
media. Saya prihatin dengan tindakan para remaja dan orang dewasa zaman ini yang
selalu curhat di facebook dengan
meng-update status. Mereka lebih
memilih curhat di facebook daripada
kepada orang tua atau keluarga mereka.
Akhirnya, dengan cairnya suasana
dalam keluarga, dengan kasih sebagai iklimnya, pengaruh globalisasi dapat
dikontrol, baik oleh orang tua maupun setiap anggotanya. Setiap anggota
keluarga dapat saling mengingatkan satu sama lain dengan penuh kasih. Anggota keluarga
yang telah merasakan kasih sejati dalam keluarga mereka tentu tidak ingin keluarga
yang mereka cintai hancur karena pengaruh eksternal, terutama globalisasi.
Kemajuan
Global sebagai sarana membangun keluarga
Benarlah perkataan seorang guru
sufi bahwa janganlah kita merubah keadaan, melainkan sikap kitalah yang perlu
diubah dalam menghadapi keadaan tersebut. Globalisasi telah menjadi bagian
hidup kita karena kita ada di dunia ini. Kita tidak bisa menghindar dari globalisasi.
Ada begitu banyak kepentingan manusia di dalam globalisasi yang mengharuskan
kita masuk di dalamnya. Namun, kita tetap memiliki kebebasan sebagai individu
otonom. Globalisasi secara otomatis boleh masuk dalam kehidupan kita dan dalam
keluarga kita, namun untuk memilah dan
memilih mana yang baik dan tidak dari globalisasi, tetap ada di tangan
kita.
Globalisasi membutuhkan kearifan.
Globalisasi tidak 100% buruk. Kemajuan teknologi dan penerapan-penerapan
teknisnya memberikan kemungkinan-kemungkinan yang baru dan tak terhingga dalam
membangun humanisme. Maka, perlulah bahwa semua pihak menyadari kembali amat
pentingnya nilai-nilai moral, yakni nilai-nilai pribadi manusia sebagai
manusia.[v] Gereja
melalui dokumen Gaudium et Spes
menegaskan perlunya kearifan dalam menghadapi kemajuan-kemajuan dunia: “Zaman
kita, lebih daripada abad-abad sebelumnya, memerlukan kearifan jika
penemuan-penemuan yang dibuat manusia hendak dimanusiawikan lebih lanjut. Sebab
masa depan dunia ada dalam bahaya jika tidak muncul orang-orang yang lebih arif
bijaksana” (GS 15).
Globalisasi yang menjadi tantangan
keluarga kristiani perlu disikapi secara bijaksana. Di satu sisi globalisasi
juga membantu, misalnya dalam mendidik anak-anak. Dengan kemajuan teknologi,
anak-anak dengan mudah mencari sumber-sumber ilmu pengetahuan. Orang tua tentu
tahu mana yang tidak boleh untuk anak-anak, seperti yang berbau pornografi,
kekerasan dan sebagainya. Orang tua harus lebih proaktif dalam mendampingi
anak-anak bermedia. Program di TV biasanya menampilkan kriteria program seperti
BO (Bimbingan Orangtua), D (Dewasa), dan R (Remaja). Maka orang tua diharapkan
senantiasa mendampingi anak dalam menikmati siaran-siaran TV, sambil
menjelaskan tayangan-tayangan tersebut agar anak dapat mencernanya secara
positif. Selain itu orang tua juga diharapkan bijaksana dalam memberikan
fasilitas-fasilitas kepada anak-anak. Jangan terlalu cepat memberikan
fasilitas, khususnya alat-alat komunikasi-informasi, jika tidak terlalu perlu.
Doa
Akhirnya sebagai orang kristiani,
segala persoalan dalam keluarga di era globalisasi ini harus dihadapi dalam
semangat doa. Yesus bersabda, “Berdoalah agar kamu jangan masuk dalam pencobaan”
(Luk 22:40). Maka kiranya keluarga kristiani tetap setia berdoa, agar segala cobaan,
tantangan dan persoalan hidup dalam arus globalisasi dapat dihadapi dengan
tenang dan bijaksana. Keluarga kristiani sejati adalah keluarga yang memiliki
semangat doa yang hidup. Doa keluarga memiliki sifat-sifat khasnya sendiri. Doa
keluarga adalah doa yang dipersembahkan
bersama, suami bersama istri, bapak-ibu bersama anak-anak. Persatuan dalam
doa merupakan konsekwensi maupun tuntutan demi persatuan yang diberikan oleh
sakramen Babtis dan sakramen Perkawinan.[vi]
Gereja menuntut agar keluarga
kristiani memiliki kebiasaan berdoa bersama. Di situ lah ada kesempatan untuk
semakin memperdalam iman seluruh anggota keluarga, terutama iman anak. Dalam
doa bersama, tiap anggota keluarga dapat saling mendoakan satu sama lain. Doa
akhirnya menjadi sarana yang sungguh mampu menekan pengaruh negatif
globalisasi. Doa membuat keluarga kristiani menghadirkan Tuhan dalam menghadapi
globalisasi.
Penutup
Melalui refleksi sederhana ini,
mari kita menjadi keluarga kristiani yang sejati di era globalisasi. Keluarga
kristiani sejati adalah keluarga yang mampu bertahan menjalankan kasih dalam
keluarga dan masyarakat di tengah tantangan globalisasi. Keluarga kristiani
sejati adalah keluarga yang mampu bijak menghadapi globalisasi. Keluarga
kristiani sejati adalah keluarga yang bersama-sama membangun dunia menuju
Kristus.
*Frater tingkat IV
[i] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta 2008, 455.
[ii] Maurice Eminyan, Teologi Keluarga, Kanisius, Yogyakarta
2001, 153.
[iii]
C. Groenen, Perkawinan Sakramental, kanisius,
Yogyakarta 1993, 413.
[iv] Robertus Rubyatmoko, Perkawinan Katolik dalam Kitab Hukum Kanonik,
Kanisius, Yogyakarta 2011, 20.
[v]Komisi Pendampingan Keluarga
Keuskupan Agung Semarang, Keluarga
Kristiani dalam Dunia Modern, Kanisius, Yogyakarta 1994, 23.
[vi]
Komisi Pendampingan
Keluarga Keuskupan Agung Semarang, Keluarga
Kristiani dalam Dunia Modern, 105.
KELUARGA KATOLIK: GEREJA INTI
KELUARGA KATOLIK : GEREJA INTI
Casimirus Sado*
Pengantar
Konggres Internasional Keluarga IV,
Manila, 2003, mengangkat tema utama: “Keluarga
Kristiani: Kabar Gembira bagi Millenium III”. Tema itu mau mempertegas
perhatian dunia internasional tentang peran keluarga dalam millenium III ini
sangat penting. Betapa tidak, atas dasar hubungan darah, keluarga dipandang
sebagai lembaga terkecil yang memiliki ikatan kuat-akrab antar
anggota-anggotanya, serta sangat memungkinkan terjadinya pewarisan nilai-nilai.
Sebagai sel dan basis paling dasar dalam masyarakat, keluarga menjadi pewarta
kabar gembira, harapan bagi anggotanya dan bagi kemanusiaan.
Sejalan dengan itu, gereja pun memandang
bahwa keluarga Katolik sebagai gereja inti dan sebagai komunitas pergumulan iman
sekaligus ke dalam dan ke luar. Keluarga Katolik menjadi medan bagi para
anggotanya untuk belajar dan mengalami pergumulan hidup beriman untuk bertumbuh
dan berkembang secara jasmani dan rohani. Namun demikian, keluarga bukanlah
unit tersendiri-terisolir dari mata rantai hubungan sosial yang
mempengaruhinya. Apa yang terjadi secara sosial, akan berdampak pula bagi
keluarga. Tak terelakkan, sence of crises
yang melanda dunia saat ini juga merambah keluarga-keluarga, gereja Katolik dan
masyarakat luas. Pola pikir dan pola tindak sosial berimbas pada pola pikir dan
pola tindak personil keluarga dan insan gereja Katolik. Globalisasi tak
terhindarkan.
Dalam terang evangelisasi baru,
gereja Katolik menaruh harapan besar pada setiap keluarga untuk menyadari
kembali fungsi panggilannya: “Pewarta Kabar Gembira” bagi kekatolikan dan bagi
kemanusiaan pada umumnya. Dalam kerangka itu, kita akan mendalami sepintas alur pergumulan keluarga Katolik
sebagai berikut:
1)
Kebersamaan: Perjuangan tak henti (demi Kekudusan)
2)
Benteng Budaya-Nilai dan Jantung
Evangelisasi
Kebersamaan: Perjuangan Tak Henti (demi Kekudusan)
Ada
sebuah dongeng yang menarik untuk kita renungkan: Konon, ketika menciptakan perempuan, Tuhan meramunya dengan mengambil:
bulatnya bulan, meliuknya ular, goyangnya angin, menetesnya air hujan, cerahnya
sinar mentari, malu-malunya kelinci, angkuhnya burung merak, manisnya madu,
galaknya singa, jinaknya merpati, ngoceh-nya perkutut, panasnya api, dan
indahnya mawar. Semuanya diaduk lalu
dimasak, dan jadilah perempuan. Tuhan melihat karyaNya begitu indah lalu
membawanya kepada laki-laki. Laki-laki itu sangat senang-gembira. Seminggu
kemudian, laki-laki itu datang menghadap Tuhan dalam keadaan kecewa berat,
katanya: “Tuhan, makhluk yang Engkau berikan padaku menjadi malapetaka bagiku.
Sepanjang hari dia berbicara tanpa henti, tertawa sambil menangis, lari ke sana
kemari tak pernah istirahat, ngoceh terus. Tolong ambillah dia, Tuhan”. Tuhan
memenuhi permintaannya. Akan tetapi seminggu kemudian, laki-laki itu datang
lagi dan berkata kepada Tuhan: ”Waduh Tuhan, saya sangat kesepian sejak Engkau
mengambilnya, biasanya dia menari dan menyanyi di depanku begitu indah dan
manis; tolong kembalikanlah dia, Tuhan”. Tuhan segera mengembalikannya. Lalu
seminggu kemudian, laki-laki itu datang lagi dan mendorong perempuan itu ke
hadapan Tuhan katanya: ”Tuhan maafkan saya, karena ciptaanMu ini lebih sering
menjengkelkan daripada menyenangkan, ambillah kembali”. Maka Tuhan berkata: ”Hai
laki-laki, pulanglah ke rumahmu bersama perempuan ini dan berusahalah hidup bersama dia”. Maka
dengan sesal dan sedih laki-laki itu pulang ke rumahnya bersama dengan
perempuan itu sambil berkata dalam hatinya: ”Betapa malangnya saya ini, dengan
dia hidupku susah; tapi tanpa dia saya pun tak dapat hidup”.
Dongeng ini dapat membantu kita untuk
merenungkan pergumulan dalam memaknai sakramen perkawinan terus-menerus. Betapa
tidak, keluarga Katolik juga tidak luput dari gaya atau trend globalisasi saat ini: materialisme-hedonisme-sektarianisme
picik sesaat; yang dapat melunturkan nilai-nilai paling dasar dalam sakramen
perkawinan: sakralitas-spiritualitas-moralitas dalam konteks relasi suami-istri
dengan Allah dan sesama. Dalam sakramen perkawinan, suami-istri menjadi “satu
daging” (Kej. 2:24)
dan menjadi tanda nyata cinta Kristus kepada gerejaNya (Ef. 5:22-33).
Maka panggilan hidup suami-istri:
panggilan kepada persekutuan: ”apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak
boleh diceraikan manusia” (Mat.19:6;
Mrk.10:9).
Persekutuan suami-istri merupakan tujuan
dan cita hidup mereka: ”Dengan perjanjian
perkawinan, pria dan wanita membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup;
dari sifat kodratinya perjanjian itu terarah
pada kesejahteraan suami-istri serta kelahiran dan pendidikan anak; oleh
Kristus Tuhan perjanjian perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen” (KHK, Kan.1055 §1).
Berkat sakramen perkawinan, keluarga
Katolik disegarkan kembali untuk terlibat dalam dialog dengan Tuhan,
mempersembahkan hidup dan doa. Melalui wafat dan kebangkitan Kristus, cinta
suami-istri disucikan dan dikuduskan agar berdaya guna menyembuhkan keretakan hubungan suami-istri, menyempurnakan motivasi suami-istri
dan mendatangkan rahmat
pertobatan untuk saling memaafkan. Dengan demikian, suami-istri mengalami
anugerah dan tanggung jawab untuk menerjemahkan panggilan hidup suci itu dalam
hidup sehari-hari, serta menjadi teladan kesucian bagi anak-anak yang
dikaruniakan Tuhan kepada mereka; dan dengannya seluruh anggota keluarga akan
mencapai, menyatakan serta memancarkan kekudusan yang diperjuangkan
terus-menerus dalam penyertaan Roh.
Benteng Budaya-Nilai dan Jantung
Evangelisasi
Simaklah
ilustrasi berikut: Seorang bapak yang
sangat pelit diajak oleh anak kesayangannya untuk naik helikopter. Awalnya,
sang bapak tidak setuju karena ia harus membayar mahal. Namun, karena sayang
dengan anaknya ia pun setuju. Sesampainya mereka di helikopter, sang pilot
berkata:”Bapak, biaya naik helikopter selama satu jam adalah 1 juta rupiah. Jika
selama penerbangan anda ngomong, maka anda didenda 10 juta rupiah. Tetapi jika
anda tidak ngomong sepatah kata pun selama penerbangan, maka anda akan
mendapatkan bonus 100 juta rupiah, setuju/deal?” Kata bapak itu: ”Setuju!” Kemudian helikopter diterbangkan dan sang
pilot mengadakan berbagai manuver di udara. Tibalah saatnya pendaratan
dilakukan, lalu sang pilot berkata: ”Wah, anda hebat selama penerbangan tadi
anda tidak pusing dan tidak ngomong sepatah kata pun”. Jawab bapak itu: ”Sebenarnya tadi saya mau
ngomong, tapi saya takut kena denda”. Tanya sang pilot lagi: ”Anda mau ngomong
apa tadi?” Kata bapak itu:”Anak saya jatuh ...”
Ilustrasi di atas cukup
menggambarkan “budaya” hidup kita zaman ini. Nilai hidup begitu gampang digeser
atau digantikan dengan nilai ekonomi (pertimbangan untung-rugi). Budaya
materialis-hedonis-sektarianis makin mewujud nyata dalam bentuk kekerasan dan
memangsa-mematikan hidup manusia lain. Mari sejenak kita cermati maraknya
berita kekerasan-pembunuhan di berbagai tayangan TV, seperti dalam program Buser, Sidik, Sergap, Patroli, Brutal, Bedah
Kasus, dan TKP, termasuk tayangan
bernuansa seks melalui CD porno, VCD porno, DVD porno dan situs-situs porno.
Bahkan kini laris disajikan ke publik info bergaya mistik-gaib: Gentayangan, Uka-Uka, Dunia lain, Pemburu
Hantu, dll. Fenomena nyata ini
mendominasi zaman kita kini, terutama di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi komunikasi atas cara yang tak bisa dibendung, terbersit pertanyaan
mendasar: Apakah keluarga-keluarga Katolik
mampu menjadi benteng budaya-nilai dan jantung evangelisasi? Arus globalisasi-modernisasi menantang kita
semua, khususnya keluarga Katolik untuk bersikap ekstra kritis memaknai
perubahan-perubahan nilai. Keluarga seharusnya menjadi medan utama berbagi kisah-kasih
pengalaman nilai-nilai iman antar-anggota-nya:”Keluarga menjadi tempat asal dan upaya paling efektif untuk
memanusiakan dan mempribadikan masyarakat. Keluarga membawa sumbangan asli yang
mendalam dan membangun dunia, dengan memungkinkan peri-hidup manusiawi dalam
arti sesungguhnya; khususnya dengan menjaga dan menyalurkan keutamaan-keutamaan serta nilai-nilai”(FC 43).
Keluarga Katolik menjadi tempat persemaian dan pendidikan yang utuh bagi keberlanjutan kemanusiaan. Oleh karena
itu, keluarga seharusnya mengalami bentuk-bentuk interaksi kehidupan penanaman nilai-nilai,
sebagai bekal hidup bermasyarakat dan meng-gereja. Orangtua berperan penting
sebagai pendidik pertama-utama dalam mewariskan nilai-nilai (iman-etika-moral)
bagi anak-anak, melalui kata, sikap dan tindakan yang baik-benar.
Paus Benediktus XVI pernah mengajak kita
untuk mengutamakan sikap dan teladan yang benar:”keteladanan yang patut dicontoh sebagai umat Katolik yang
berkualitas”. Kualitas hidup kemanusiaan yang baik akan menghasilkan integritas kepribadian yang kokoh dan loyalitas luhur pada tugas dan imannya.
Maka, dengan integritas dan loyalitas prinsip keragu-raguan (relativisme) dalam
hidup yang cenderung merusak tatanan hidup bersama dapat diatasi. Sebagai Gereja
inti, keluarga Katolik dipanggil untuk mewartakan “Injil kehidupan” melalui kata-sikap-tindakan
kepada sesama yang menderita, berbelarasa serta saling melayani bukan karena
pertimbangan status sosial-ekonomi melainkan karena kesadaran sebagai sesama
manusia.
“Akan
tetapi, Gereja mempunyai kepercayaan yang kuat, bahwa hidup manusiawi, juga
kalau lemah dan menderita, senantiasa merupakan kurnia luhur, dianugerahkan
oleh kebaikan Allah. Melawan pesimisme dan egoisme yang menyuramkan dunia,
Gereja membela kehidupan” (FC 30).
Kita semua, terutama keluarga Katolik adalah bagian dari Gereja Kristus. Kita
tidak lepas dari tawaran-tantangan-godaan untuk bergeser sedikit dari amanat
Kristus. Maka di tengah pergumulan pilihan-putusan antara “panggilan Kristus” dan
“tawaran dunia” dibutuhkan “saat teduh” pemurnian motivasi kita untuk membatinkan
amanat Sang Gembala:”Aku datang supaya
mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahannya.” (Yoh. 10:10). Dengan keyakinan akan sabda Kristus
itu, diharapkan setiap keluarga Katolik mampu manjadi “benteng budaya-nilai”
dan pewarta Injil kehidupan (jantung evangelisasi). Semoga !
*) Penulis adalah Penyuluh Agama Katolik pada Kantor Kemenag Kab.
Kolaka-Sultra.
TOPIK 1 KELUARGA SEBAGAI GEREJA RUMAH TANGGA
KELUARGA
SEBAGAI GEREJA RUMAH TANGGA
“Mewujudkan keluarga
sebagai gereja rumah tangga (ecclesia domestica) yang berpola keluarga kudus
nasaret, tempat nilai-nilai manusiawi, iman dan tradisi katolik tersemaikan.”
Misi Gereja Lokal Keuskupan Agung Makassar, hasil Sinode
Diocesan 2012.
Pendahuluan
Suasana di Triple C, Makassar, hari itu, tanggal 02 Juni 2012 dipenuhi
dengan kegembiraan luar biasa. Hari itu
umat Katolik Keuskupan Agung Makassar bersuka-cita dan bergembira mengucap
syukur kepada Allah atas berhasilnya Sinode Diocesan KAMS 2012 yang adalah
perwujudan Roh Kudus yang menuntun umat Katolik dan hirarki berjalan bersama
menghidupi iman. Hari itu pula Gereja Lokal KAMS merayakan 75 tahun lahirnya
hirarki Gereja lokal yang sekaligus merayakan peringatan 75 tahun karya CICM di
Indonesia.
Kesadaran
jati diri
Selama setahun umat basis merenungkan keberadaan
mereka sebagai umat beriman. Refleksi diri dari berbagi sudut kehidupan juga
dilaluinya. Dengan bimbingan Roh Kudus umat beserta hirarki merumuskan bersama kesadaran
jati diri mereka dan kedepannya sosok seperti apa yang Gereja local kehendaki. Pada
akhirnya, kesadaran diri ini
dituangkan dalam rumusan Gereja lokal sebagai Gereja yang melayani. Hirarki dan
umat berjalan bersama (synodos) dengan memberikan arah yang jelas yaitu
menjadikan segala-galanya baik, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh
pendirinya. (Yoh 13:15).
Kesadaran diri Gereja lokal KAMS dan sepak terjangnya
kedepan dirumuskan oleh sidang pleno sebagai Visi KAMS: “Gereja lokal KAMS yang bersosok
kawanan kecil tersebar, sebagai pelayan berdasarkan dan berpolakan Yesus
Kristus yang terus menerus membaharui diri, mewartakan Kerajaan Allah dengan
meresapi tata dunia, sehingga segala-galanya menjadi baik.” Sebenarnya
kesadaran Gereja sebagai kelompok pelayan-pelayan bukanlah suatu hal yang baru.
Sejak jaman Yesus dan para murid sudah memberikan diri dalam pelayanan. Yesus
sendiri memberikan teladan (Yoh 13:15) dan mengatakan bahwa Dia datang kedunia ini bukan untuk dilayani
melainkan melayani (Mrk 10:45).
Terima kasih kepada Roh Kudus, bahwa Sinode Diosesan juga melahirkan
delapan Misi Gereja lokal KAMS. Salah
satu misi yang berhubungan dengan keluarga adalah “Mewujudkan keluarga sebagai
gereja rumah tangga (ecclesia domestica)
yang berpolakan keluarga kudus Nasaret, tempat nilai-nilai manusiawi, iman dan
tradisi Katolik tersemaikan.” Kesadaran Gereja Lokal bahwa keluarga sebagai Gereja rumah tangga
ini seiring dengan kesadaran Gereja universal tentang peranan keluarga dalam
hidup menggereja. Kesadaran ini sudah muncul jauh sebelum Paus Yohanes Paulus
II.
Anjuran
Paus Yohanes Paulus II: Keluarga ambil peran membangun dunia
Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1981 menerbitkan
Anjuran Apostolik yang disebut Familiaris
Consortio yang adalah anjuran Paus supaya keluarga-keluarga berperan dalam
membangun Gereja dan masyarakat dalam dunia modern ini. Paus meneliti ikatan yang mendalam dan
hubungan yang erat antara Gereja dan keluarga Katolik dan apa yang menjadikan
keluarga Katolik itu suatu Gereja kecil. Hubungan suami-istri yang dilandasi
cinta kasih adalah melambangkan hubungan yang erat antara Yesus dan GerejaNya,
Yesus yang mencintai GerejaNya (Ef 5:25-32). Dalam arti ini Sakramen Perkawinan
membuahkan keselamatan karena persatuan mesra suami-istri mengambil bagian
dalam persatuan mesra antara Kristus dan Gereja. Cinta kasih suami-istri adalah
tindakan nyata yang bertujuan untuk kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan
pasangan.1 Melihat isi dan ciri peranan
keluarga yang adalah tanda keselamatan dan tanda cinta kasih Yesus terhadap
Gereja, tidak salah kalau dikatakan bahwa suami-istri atau keluarga yang
hidupnya dilandasi oleh kasih Tuhan adalah Gereja kecil, Gereja rumah tangga
yang merupakan sel Gereja universal dan masyarakat (FC 42, AA 11).
Apa
artinya kalau Gereja Lokal KAMS mengemban misi keluarga sebagai Gereja Rumah
tangga? Gereja lokal
KAMS melihat dirinya sebagai yang sudah dewasa, yang sudah saatnya meninggalkan
kesibukan bersolek diri dan terjun ke masyarakat untuk bekerja bagi
kesejahteraan orang banyak.
Keluarga demikian pun Gereja mempunyai
fungsi kedalam dan keluar. Fungsi kedalam keluarga atau Gereja membuat para
anggotanya hidup dalam persekutuan yang erat (communion personarum, koinonia) untuk mengusahakan hidup saling bersaudara, saling mengampuni, saling mengasihi,
dan membantu bagi terwujudnya perkembangan hidup masing-masing. Semua anggota
keluarga wajib membangun iman yang benar, melalui pengajaran yang benar (kerygma) dan sakramen-sakramen
Gereja (leiturgia), demi tercapainya
tujuan bersama, yaitu menjadi semakin serupa dengan Kristus. Adapun fungsi
keluar keluarga atau Gereja adalah mewartakan kabar sukacita kepada segala
bangsa (Mt 20:19-20, kerygma). Fungsi ini meliputi baik tugas pemberitaan Injil (kerygma) maupun tugas pelayanan sosial
(diakonia) dalam masyarakat umum. Adapun tugas pelayanan sosial merupakan tugas
di bawah tugas pemberitaan Injil yang tidak dapat dipisahkan, karena tugas
utama gereja adalah menginjili dunia, dan bukan menyempurnakan kesejahteraan
sosial masyarakat. Penginjilan adalah usaha memberitakan kabar mahabaik tentang
Yesus Kristus, yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya, menebus dosa umat
manusia, sehingga mereka yang mau percaya dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan
Juru Selamat, memperoleh pengampunan Allah dan kehidupan kekal.
Gereja Lokal KAMS (bisa dibaca
keluarga) berniat untuk mewujudkan iman
dalam karya-karya konkret dengan meresapi tata
dunia demi terwujudnya tatanan hidup yang lebih bermartabat dan berkeadaban.
Hal ini terungkap dalam misi yang ingin di jalani dalam lima tahun kedepan
misalnya: membangun gerakan budaya hidup bersih dan sehat, mendorong
kemandirian umat/masyarakat ekonomi lemah dengan cara mendukung pemberdayaan
potensi ekonomi, membangun kesadaran dan tanggung jawab sosial politik yang
bermartabat di kalangan umat dalam hidup berbangsa dan bernegara. Pada pokoknya
keluarga, Gereja, ingin lebih berkiprah dalam tatanan masyarakat yang nyata.
Keluarga:
Gereja kecil
Keluarga adalah sungguh-sungguh Gereja. Yesus
memilih hidup sebagai manusia dalam satu keluarga Maria dan Yosef. Mereka
adalah orang-orang beriman yang hidup dalam persekutuan. Oleh karena itu, persekutuan hidup
Maria, Yosef dan Yesus sendiri disebut “keluarga Allah” atau Gereja (KGK 1655).
Memang sejak awal perkembangan Gereja, keluarga merupakan inti dari Gereja.
Orang-orang menjadi percaya kepada Kristus, mereka dibaptis dan hidup dalam
persekutuan. Pada umumnya seluruh keluarga menjadi orang percaya (Kis 16:31).
Orang yang sudah diselamatkan, dalam hatinya sangat mendambakan keselamatan
pula bagi seluruh keluarganya (Kis 11:14).
Anggota keluarga karena baptisan menerima dan
memiliki martabat Kristus, yaitu martabat sebagai nabi, imam dan raja. Dengan
martabat kenabian, keluarga mempunyai tugas mewartakan Injil; dengan martabat
imamat, keluarga mempunyai tugas menguduskan hidup terutama dengan menghayati
sakramen-sakramen Gereja dan hidup doa; dan dengan martabat rajawi, keluarga
mempunyai tugas melayani sesama.
Keluarga bukan hanya sebuah komunitas manusia yang
harus selalu menjadi objek pelayanan Gereja. Keluarga adalah juga komunitas
basis Gerejawi yang mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah; keluarga mempunyai
tugas yang adalah juga lima tugas Gereja yakni: membangun persekutuan hidup dan
kasih, membangun keluarga Katolik yang bahagia ( koinonia). Sebagai keluarga, berkumpul bersama merayakan iman
melalui doa ibadat keluarga ( leiturgia). Pekerjaan memberikan
pelayanan dalam keluarga maupun kepada keluarga-keluarga lainnya ( diakonia). Keluarga memberikan kesaksian
iman kepada orang lain dalam setiap pergaulannya (martyria). Semua yang keluarga hidupi dan lakukan hendaknya menjadi
sarana mewartakan kabar sukacita kepada sesama (kerygma).
Gereja
sebagai rumah Allah
Istilah Gereja mempunyai arti yang lain yaitu sebagai
rumah Allah dimana umat Allah berkumpul untuk mengucapkan syukur, berdoa
bersama, memuji dan meluhurkan Allah dalam ibadat dan ekaristi. Keluarga
hendaknya membangun dan menjadi altar, menjadi mezbah Allah dimana semua
anggotanya bisa berkumpul bersama untuk bersyukur, berdoa, memuji dan meluhurkan
Allah dalam ibadat. Berikut ini adalah usulan sebagai gerakan atau langkah
untuk mewujudkan keluarga sebagai mezbah Allah:
1.
Mulai berdoa bersama
sebagai keluarga, bukan sendiri-sendiri saja. Membaca kitab suci harian bersama-sama,
berdoa bersama sebelum makan. Bisa menggunakan liturgi resmi Gereja sebagai
model liturgi keluarga,
misalnya ibadat sabda tanpa imam, belajar berdoa secara spontan dan dengan
melibatkan hati.
2.
Berdoa Rosario
bersama-sama dalam keluarga. Anak-anak diberi kesempatan memimpin doa Bapa Kami
dan Salam Maria. Anjurkan setiap anggota keluarga mendoakan intensi
masing-masing. Doronglah anak-anak berdoa secara teratur setiap harinya.
3.
Didalam Gereja selalu
ada salib besar di sekitar altar, pasanglah juga salib yang cukup besar
ditempat dimana keluarga sering berkumpul untuk berdoa bersama dan juga
ditempat yang mudah dilihat orang. Pasanglah salib-salib ukuran sedang di dinding setiap kamar.
4.
Jadikanlah penerimaan
sakramen sebagai tradisi keluarga yang secara teratur diterima seperti misalnya
pengakuan dosa. Merayakan Ekaristi bersama sebagai keluarga setiap Minggu.
5.
Ciptakanlah tradisi
keluarga dalam masa-masa tertentu dalam kalender Gerejawi, misalnya Gerakan APP
diperhatikan oleh ayah, ibu dan semua anak-anak termasuk
anak yang masih kecil. Ajarilah mereka
menyisihkan sebagian uang saku mereka untuk dipersembahkan kepada Tuhan dalam
kolekte atau APP (bukan orang tua memberi uang kepada anak untuk kolekte atau
APP. Ajarilah mereka berkorban untuk nilai yang lebih baik.
6.
Jadikanlah ziarah ketempat
suci misalnya ke gua Maria sebagai kebiasan keluarga yang dilakukan bersama
oleh semua anggota keluarga.
7.
Jadikanlah berbakti
kepada Tuhan sebagai kebiasaan setiap anggota keluarga, bahkan saat-saat
liburan; misalnya mengikuti misa harian pagi hari, untuk orangtua sebelum masuk
kerja dan anak-anak sebelum masuk sekolah. Kalau sedang liburan diluar kota,
carilah Gereja terdekat untuk ikut misa pagi.
8.
Orangtua menjadi
teladan kemurahan hati bagi anak-anak melalui tutur kata dan perbuatan mereka.
9.
Jangan takut
mengungkapan cinta kepada pasangan di depan anak-anak misalnya suami istri
saling bergandengan tangan, berpelukan dan saling cium pipi. Perlihatkan
kemurahan hati kepada tetangga dan orang lain di depan mata anak-anak.
Katakan kepada anak-anak bahwa Tuhan mencintai mereka, mereka pun harus mencintai
satu-sama lain dan berbaik hati kepada orang lain. Hindari suami-istri
bertengkar di depan
anak-anak. Dengan demikian mereka akan belajar dari orang tua apa yang baik
saja.
10.
Bersharinglah dengan anak-anak tentang kehadiran Tuhan dalam suka dan
duka keluarga.
11.
Perlihatkanlah selalu
keramahan kepada siapa saja yang bertamu dirumah misalnya pastor, bruder,
suster, dan pelayan Gereja
lainnya yang mengunjungi rumah.
12.
Aktiflah berpartisipasi
dalam hidup menggereja misalnya ambil
bagian dalam liturgi sebagai lektor, pro-diakon dll; menjadi anggota Legio
Maria, WKRI, atau organisasi Gereja lainnya.
13.
Doronglah anak-anak
juga ikut serta dalam kegiatan Gereja, tidak dibiarkan larut dalam pengaruh negatif
lingkungan mereka.
14.
Ikut serta dalam
kegiatan sosial di lingkungan
kita misalnya menjadi ketua RT/RW (Rukun Tetangga/Rukun Warga), partisipasi
dalam gotong-royong membersihkan lingkungan rumah.
15.
Tentu saja masih ada banyak
kegiatan lain yang bisa menjadi ungkapan perwujudan iman dalam masyarakat.
Penutup
Membangun keluarga sebagai Gereja rumah tangga
adalah suatu kesadaran Gereja lokal KAMS. Dorongan Roh Kudus menggerakkan
keluarga secara nyata berkiprah di masyarakat; keluar dari dirinya sendiri
melaksanakan karya-karya Gereja menata dunia dan untuk keselamatan umat
manusia. Ada saatnya pula keluarga membangun diri sebagai mezbah Allah,
keluarga yang bersekutu untuk memuji dan memuliakan Allah dalam ibadat
keluarga. Dengan demikian keluarga benar-benar menjadi Gereja sebagai sakramen
keselamatan Allah bagi manusia.
Sumber:
1. “Koinonia”
Media Gereja Lokal KAMS Vol.7 No.3
2. “Pedoman
Pastoral Keluarg”a, KWI, Jakarta 2011.
3. “Familiaris
Consortio”, Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II, 1981.
4. “Alkitab
Deuterokanonika”, LAI, Jakarta 2010.
5. Katekismus
Gereja Katolik, KWI, Jakarta, 2009
. .
Pastor Ignatius Suryanto, MSC
EDITORIAL
EDITORIAL
Buletin
Dialog edisi kali lalu telah mengangkat tema “Reevangelisasi” sebagai hasil follow-up Sinode Diosesan KAMS 2012.
Berangkat dari hasil sinode tersebut, Buletin Dialog kembali mengangkat tema
yang penting sehubungan dengan arah dan perkembangan Gereja Lokal KAMS yaitu
Keluarga Katolik sebagai Gereja Rumah Tangga.
Keluarga
Katolik sebagai Gereja rumah tangga merupakan tempat di dalam Gereja universal
di mana kehidupan dikandung, dipelihara, dan dicintai. Keluarga adalah sekolah
cinta kasih bagi seluruh Gereja. Keluarga adalah sumber cinta kasih dari
kehidupan pasangan suami-istri dan kehidupan baru yang mereka mulai dan
pelihara. Tanpa Gereja rumah tangga, tidak ada Gereja, karena di dalamnyalah
cinta kasih, yang merupakan hakikat Allah, dijaga tetap hidup.
Seorang
Teolog terkenal, Karl Rahner menyatakan:
“Kita tidak mengatakan bahwa keluarga adalah ‘seperti’ Gereja, atau bahwa
keluarga adalah ‘bagian’ dari Gereja. Keluarga ‘adalah’ Gereja, yang di
dalamnya terdapat ungkapan akan kehadiran Allah yang sungguh-sungguh gerejawi
di dalam persekutuan-persekutuan umat beriman yang khusus. Berangkat dari hal
tersebut, semoga melalui tulisan-tulisan baik yang ilmiah, refleksi maupun
sharing dalam buletin ini boleh bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Keluarga
adalah harta yang paling berharga.
Salam Redaksi
Kamis, 20 Februari 2014
Suasana Pengepakan Dialog
Suasana Pengepakan Majalah Dialog sebelum dikirim ke pelanggan... Di sini para crew, staf redaksi, dan segenap karyawan Dialog berpartisipasi untuk mengepak ribuan cetakan majalah Dialog demi terkirimnya majalah ke tangan pembaca. Foto ini diambil pada tahun 2012 yang lalu ketika Dialog bertemakan 75 Tahun Gereja Lokal KAMS.
Jumat, 23 Agustus 2013
REEVANGELISASI MELALUI MEDIA
REEVANGELISASI MELALUI MEDIA
"Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah
Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:15).
Fr. Alfius Tandirassing
Mewartakan Injil ke seluruh dunia adalah tugas Gereja.
“Dengan mewartakan Injil, Gereja mengundang mereka yang mendengarnya kepada
iman dan pengakuan iman, menyiapkan mereka untuk menerima baptis, membebaskan
mereka dari perbudakan kesesatan dan menyaturagakan mereka ke dalam Kristus,
supaya karena cinta kasih mereka bertumbuh ke arah Dia hingga kepenuhannya.” (LG
art. 17). Dengan diterangi oleh Roh Kudus, Gereja membawa Kristus kepada umat
dan membawa umat kepada Kristus.
Para
rasul sendiri sebagai Gereja awal telah memberikan keteladanan misioner dan
evangelisasi kepada Gereja masa sekarang. Iman Gereja pada saat ini tidak
terlepas dari ketekunan para rasul dan pengganti-penggantinya untuk mewartakan
Injil kepada seluruh bangsa. “Adalah tugas para pengganti mereka untuk
melestarikan karya itu, supaya “sabda Allah terus maju dan dimuliakan” (2Tes
3:1) dan Kerajaan Allah diwartakan dan dibangun di mana-mana” (AG art. 1). Oleh
karena itu, Gereja yang hidup di zaman modern ini dipanggil untuk terus
mewartakan Injil dan membangun Kerajaan Allah. Namun dalam menghadapi situasi
zaman modern ini, bagaimanakah Gereja bermisi? Apa yang mesti dilakukan oleh
Gereja dalam reevangelisasi?
Dekrit
Inter Mirifica, Dokumen Konsili
Vatikan II, membahas mengenai media komunikasi sosial sebagai penemuan-penemuan
teknologi yang mengagumkan di zaman ini. “Bunda Gereja menyadari, bahwa
upaya-upaya itu, kalau digunakan dengan tepat, dapat berjasa besar bagi umat
manusia, sebab sangat membantu untuk menyegarkan hati dan mengembangkan budi,
dan untuk menyiarkan serta memantapkan Kerajaan Allah (IM art. 2). Media
komunikasi sosial ini bisa digunakan oleh Gereja dengan tepat untuk menyiarkan
serta memantapkan Kerajaan Allah. Apalagi di zaman sekarang, di mana generasi
manusia bisa disebut sebagai generasi digital, media komunikasi tidak lagi
dianggap sarana pelengkap tetapi menjadi kebutuhan.
Merasul
Lewat Media
Media
komunikasi tidak lagi asing bagi sebagian besar orang, bahkan mungkin hampir
semua orang. Media komunikasi yang terus berkembang ternyata merambah pula ke
dalam Gereja. Mau tidak mau, Gereja mesti berurusan dengan media komunikasi.
Jika Gereja menutup pintu dan jendelanya terhadap kedatangan media komunikasi,
maka ia bagaikan hidup di zaman primitif. Berhadapan dengan hal ini, Gereja
tidak bakal lagi dihormati sebagai sebagai lembaga yang mempunyai wewenang
moral dan tata susila bagi arus komunikasi. Maka sudah selayaknyalah Gereja
memanfaatkan media komunikasi sebagai sarana evangelisasi baru.
Salah
satu alasan mengapa evangelisasi baru mendorong pemanfaatan media komunikasi
adalah karena perkembangan media komunikasi yang begitu cepat dan membawa
pengaruh yang begitu mendalam terhadap pembentukan mentalitas dan kebiasaan
orang. Pengaruh media komunikasi sebagai gaya hidup lambat laun menjadi sikap
hidup yang akan dihidupi oleh umat.
Jika
digunakan dengan tepat, media komunikasi akan sangat efektif di dalam
menyiarkan dan membangun Kerajaan Allah. Dalam wawancara Penyejuk Imani Katolik
di Indosiar 4 Juni 2000, Mgr. Ignatius Suharyo menegaskan, “Yang penting adalah
bagaimana Gereja terus mewartakan Injil. Kalau Injil hanya disampaikan dengan
cara yang biasa-biasa sering kali Injilnya tidak berbunyi untuk zaman modern
ini. Maka mesti dicari jalan-jalan yagn semakin modern untuk menyentuh
sensibilitas masyarakat modern”.
Dalam pesan Hari Komunikasi Sedunia tahun 2011, Paus
Benediktus XVI menyatakan salah satu langkah yang dapat dilakukan dalam
mewartakan, khususnya dalam media internet. “Kita perlu memperhatikan website (laman), aplikasi, dan jejaring
sosial, yang dapat membantu manusia dewasa ini untuk menemukan waktu
permenungan dan pertanyaan otentik serta memberikan ruang untuk keheningan dan
kesempatan berdoa, meditasi, atau sharing
sabda Allah”.
Saat ini, ada banyak jenis media yang dapat digunakan
untuk mewartakan Injil atau paling tidak nilai-nilai Kristiani, di antaranya
Pers, Film, Radio, Televisi, dan yang paling luas jaringannya yaitu Internet.
a.
Pers
Sebagai
media cetak, pers mampu mengomunikasikan berita-berita, opini, ide-ide, dan
sikap manusia secara mendetail. Menurut Instruksi Pastoral Communio et Progressio, pers merupakan pelengkap yang paling
bermanfaat bagi alat-alat komunikasi audio-visual. Oleh karena pers bisa memuat
banyak bahan yang beraneka ragam, maka pers menduduki tempat utama dalam usaha
memajukan bidang sosial.
Media
pers sudah lama digunakan oleh Gereja, misalnya L’ Orservatore dari Roma yang
menjangkau seluruh dunia. Di ranah Nasional terdapat majalah Hidup, Utusan,
Rohani. Di wilayah keuskupan terdapat Koinonia, Komunikasi, Salam Damai, dsb.
Tak ketinggalan pula di paroki-paroki terdapat Saltus, Lentera Iman, Berkat,
Kristo, dsb. Selain itu ada banyak pewarta yang menggunakan media pers lainnya
sebagai sarana pewartaan iman dan nilai-nilai Kristiani, misalnya dalam koran
atau penerbitan buku-buku rohani. Giatnya para pewarta yang menggunakan pers
akan membantu para pembaca dalam memperdalam iman.
b.
HP, Film, Radio, dan Televisi
Media
elektronik kiranya memiliki keunggulan lain dibandingkan dengan media cetak.
Dari sisi penggemarnya, kebanyakan orang lebih memilih menonton film dan acara
televisi atau mendengarkan radio
daripada membaca. Gereja, khususnya di Indonesia, telah berusaha menggunakan
media-media ini sebagai sarana pewartaan.
Usaha-usaha
tersebut di antaranya Mimbar Agama Katolik (TVRI), Penyegar Rohani Katolik
(RCTI), Penyejuk Imani Katolik (Indosiar), Percikan Rohani Katolik (SCTV), Gema
Rohani Katolik (ANTV), dsb. Ada pula beberapa produksi film yang pernah
ditayangkan di media televisi, misalnya JanjiMu S’perti Fajar, Sentuh Hatiku,
Buku Harian Nayla, Keluarga Cemara, dsb. Selain itu, penyiaran radio ternyata
lebih efektif karena jaringannya mampu menjangkau daerah-daerah pelosok dengan
mudah dan ekonomis. Di beberapa tempat terdapat Radio yang dimiliki sendiri oleh
Gereja Katolik. Namun di tempat yang tidak memiliki radio sendiri, biasanya diisi
dengan acara-acara tertentu yang menyiarkan program-program bernuansa Katolik,
misalnya renungan.
Di
bidang alat komunikasi seperti HP yang mampu menyapa orang secara pribadi,
dapat pula dikembangkan pelayanan sabda. Di Jakarta, misalnya, melalui
kerjasama Keuskupan Agung Jakarta dan produsen HP Nexian, diluncurkan HP Nexian
yang seluruh fitur-fitur dan fasilitasnya bernuansa Katolik. HP tersebut laris
dalam “sekejap” dan memerlukan produksi berikutnya. Di dalamnya sudah terdapat
bacaan harian, doa-doa ujud tertentu, lagu-lagu dari Puji Syukur dan Madah
Bakti, kisah santo-santa, alarm doa angelus, dsb. Kalau teknologi semacam ini
dikembangkan terus maka umat akan semakin terbantu dalam memperdalam iman.
c.
Internet
Dalam
perkembangan mutakhir, media internet jauh melampaui semua media yang ada.
Internet merambah ke segala penjuru dan memuat segala macam bidang kehidupan,
mulai dari yang “kudus” sampai ke yang “kudis”. Generasi yang lahir di abad XX
mulai memasuki dunia internet dan internet memasuki dunia mereka. Kaum muda
khususnya, cenderung menghabiskan waktu di dunia internet selama beberapa jam
per hari.
Berhadapan
dengan hal ini, Gereja tidak bisa tinggal diam. Ada satu pilihan yang jelas:
apakah Gereja yang harus merasuki internet atau internet yang akan merasuki
Gereja? Bila Gereja merasuki internet maka nilai-nilai yang terbangun adalah
nilai-nilai gerejani. Tetapi apa yang terjadi bila Gereja yang dirasuki?
Kiranya yang diharapkan adalah terwujudnya nilai-nilai gerejani, yaitu
nilai-nilai keselamatan yang telah diwartakan oleh Kristus di dunia ini dan
dilanjutkan oleh Gereja. Maka wajah seperti apakah yang mesti ditampilkan
Gereja dalam berhadapan dengan media internet? Kiranya hal ini layak dan pantas
didiskusikan.
Merasul
dengan berbagai media memang sudah diusahakan dalam Gereja Katolik di Indonesia
namun pelaksanaannya masih perlu ditingkatkan lagi. Gereja bisa tampil lebih
baik dari apa yang sudah dimulai dari dulu sampai saat ini. Maka pengoptimalan
penggunaan media komunikasi sosial akan sangat bermanfaat untuk mewujudkan
Kerajaan Allah di muka bumi ini.
Akan
tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa media komunikasi sosial dan teknologi pun
membawa dampak negatif bagi manusia, khususnya pada perkembangan iman umat.
Maka misi Gereja-lah yang mesti merasuki dunia media komunikasi, menularkan
kesucian, dan menggunakannya demi membangun Kerajaan Allah.
Merasul
dengan Media di Bumi KAMS
Bumi KAMS yang masih tergolong muda sedang bertumbuh dan
membentuk diri. Tujuh puluh lima tahun Gereja Lokal KAMS telah berdiri dan semakin
menemukan jati dirinya. Melalui sinode Diosesan II yang lalu, Gereja Lokal KAMS
disatukan dalam Roh Kudus untuk melihat bersama KAMS yang tercinta. Salah satu
pokok yang dirasakan perlu dikembangkan adalah reevangelisasi. Ada banyak
langkah dalam ber-reevangelisasi. Salah satu yang dapat ditempuh adalah
reevangelisasi melalui media.
Para misionaris telah berjuang dengan gigih dalam
mewartakan iman di bumi KAMS dengan menggunakan media yang sangat mutakhir pada
zamannya. Sekarang pun Gereja Lokal KAMS perlu mewartakan dengan menggunakan
media di zaman ini. Luasnya medan dan kurangnya pelayan di ranah KAMS akan
dapat diakali dengan menggunakan media sebagai “penyempit” medan dan “pelayan”
baru.
Di bumi KAMS, media komunikasi akan menjadi sarana yang
sangat efektif. Daerah-daerah yang kurang terjangkau dalam pelayanan pastoral,
bisa dikuatkan dengan menggunakan media komunikasi, misalnya melalui radio.
Daerah-daerah yang terjangkau namun kurang mendalam imannya dapat dikuatkan
pula dengan siaran-siaran televisi. Atau generasi muda yang giat ber-BBM-an,
nge-blog, ber-chatting, ber-facebook,
atau ber-tweeter ria dapat dijangkau
dengan pelayan-pelayan pastoral internet. Para pencinta bacaan dapat pula dijangkau
melalui penerbitan media cetak.
Gereja KAMS memiliki banyak kesempatan dan peluang untuk
memanfaatkan media komunikasi sebagai sarana pewartaan. Penerbitan buku-buku
dan majalah telah dimulai dan bahkan sudah berjalan efektif dan efisien.
Penyiaran melalui Radio dan Televisi sementara digagas dan sebagiannya masih
dikembangkan dalam diskusi dan perencanaan.
Kehadiran Gereja KAMS di dunia internet pun sudah dilakukan oleh
sukarelawan yang aktif, kreatif dan inovatif. Berkat penerangan Roh Kudus, bumi
KAMS sudah mulai berubah dan tidak lagi menghidupi zaman lampau. Dalam dunia
media komunikasi, Gereja Lokal KAMS mampu menjadi lebih baik dari apa yang
sudah ada sekarang. Melalui media komunikasi Gereja Lokal KAMS mampu menyiarkan
dan mewartakan Kerajaan Allah. Dengan demikian, perutusan Yesus bagi Gereja
untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa akan ditempuh dengan cara baru,
“Merasul Lewat Media”. Memang merasul lewat media tidak semudah membalik
telapak tangan namun itulah perutusan baru.
Endnotes:
-
Terj.
Hardawiryana, SJ., Dokumen Konsili Vatikan
II, Obor, 1993, terutama Dokumen Inter Mirifica (IM), Lumen Gentium (LG),
dan Ad Gentes (AG).
-
Y.I Iswarahardi,
SJ, ed., Media memuliakan Kehidupan –
Sebuah Antologi Komunikasi, Kanisius,
Yogyakarta, 2010.
-
Y. Sudaryatna, Media Komunikasi Sosial sebagai Sarana
Evangelisasi Baru, Celesty Hieronika, Jakarta, 1999.
-
Y.I Iswarahardi
SJ., Beriman dengan Bermedia – Antologi
Komunikasi, Kanisius, 2003
Yogyakarta.
-
Komisi Kateketik
KWI, Buletin Kateketik Pastoral - Majalah
Praedicamus, Vol. XI No. 40, Oktober-Desember 2012.
-
Majalah Rohani, Religius Ngartis lewat Facebook, No. 2
Tahun ke-58 Februari 2011, Yogyakarta.
-
Majalah Rohani, Mendebah Arus Globalisasi, No. 05 Tahun
ke-51 Mei 2004, Yogyakarta.
-
Mingguan HIDUP, Evangelisasi melalui Komunikasi Sosial,
No. 21 Tahun ke-66, 20 Mei 2012, Jakarta.
-
Mingguan HIDUP, Generasi Facebook untuk Gereja, No. 06
Tahun ke-66, 5 Februari 2012, Jakarta.
-
G.P Sindhunata,
SJ., Nenek Tua yang Tertinggal Zamannya,
Makalah Seminar Peringatan 50 Tahun Konsili Vatikan II Fakultas Teologi
Kepausan Wedabhakti Yogyakarta, Selasa, 27 September 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)

