Jumat, 28 Februari 2014

KELUARGA KRISTIANI DALAM TANTANGAN GLOBALISASI

KELUARGA KRISTIANI DALAM TANTANGAN GLOBALISASI
Fr. Fans Kuo Edianto Midun*

“Zaman kita, lebih daripada abad-abad sebelumnya, memerlukan kearifan jika penemuan-penemuan yang dibuat manusia hendak dimanusiawikan lebih lanjut. Sebab masa depan dunia ada dalam bahaya jika tidak muncul orang-orang yang lebih arif bijaksana” (GS 15).

Berbicara mengenai keluarga dan tantangan globalisasi, saya teringat dengan sebuah penelitian kecil yang iseng-iseng saya lakukan dengan handphone kesayangan saya. Awalnya saya hanya ingin menyapa teman-teman saya melalui SMS. Saya kemudian mengirim SMS ke mereka dengan format seperti ini: “Mlm tmn, km lg ngapain???” Kebetulan saat itu adalah malam hari sekitar jam 8 malam, jadi banyak diantara mereka membalas SMS saya dengan mengatakan bahwa mereka sedang makan malam. Timbul dalam pikiran saya sebuah kesimpulan bahwa berarti mereka makan malam sambil mengoperasikan handphone mereka. Saya kemudian ingin mengetahui lebih jauh aktivitas makan malam mereka. Saya lalu membalas SMS mereka dengan format seperti ini: “Km mkn mlm dgn sapa?” Kebanyakan dari mereka menjawab bersama beberapa angota keluarga, namun ada juga yang menjawab sedang makan malam sendiri. Penelitian sederhana saya ini membuka mata saya bahwa seperti inilah realita keluarga di zaman modern atau globalisasi ini. Komunikasi kasih dalam keluarga saat makan bersama berkurang karena anggota keluarga sibuk dengan alat komunikasinya. Mungkin juga saat itu TV dinyalakan sehingga anggota keluarga makan sambil melihat tayangan TV yang menarik dengan berbagai berita dari seluruh pelosok dunia. Kebersamaan dalam keluarga akhirnya memudar karena globalisasi.
Realitas Globalisasi dalam Keluarga
Globalisasi bisa diartikan sebagai sebuah proses masuk ke ruang lingkup dunia.[i] Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi dan informasi sebagai bagian dari globalisasi telah merebak dan memasuki dunia semua orang. Baik orang dewasa maupun anak-anak sudah terbiasa dengan alat-alat teknologi dan informasi seperti handphone, internet, i-pad, tabluet, dan sebagainya. Dengan alat-alat tersebut, luas dunia ini kini menjadi sejengkal tangan kita. Segala macam informasi dapat diketahui hanya dengan memencet tombol, meng-klik atau menyentuh layar handphone atau komputer. Saat saya praktek mengajar di sebuah Sekolah Dasar Katolik di Yogyakarta, hampir semua anak di sekolah tersebut telah memiliki handphone. Bahkan, kebanyakan dari mereka menggunakan handphone canggih seperti Blackberry, Samsung Galaxy, Sony Experia, dan sebagainya. Itulah globalisasi yang telah merasuk ke dalam kehidupan siapa saja.
Kenyataan globalisasi seperti ini akhirnya membuat sebuah lompatan budaya yang amat cepat. Hal-hal yang seharusnya belum dapat dinikmati anak-anak, sekarang dengan mudah mereka akses dengan handphone pribadi mereka, televisi, dan sebagainya. Sewaktu kecil, saya dan anak-anak sebaya saya terbiasa menyanyikan lagu anak-anak seperti Balonku, Bintang kecil, Pelangi dan sebagainya. Namun sekarang lagu-lagu populer yang bertema “cinta” sudah fasih mereka lantunkan. Ditambah lagi budaya-budaya populer seperti fashion dan boyband-girlband Korea sangat cepat ditiru oleh anak-anak. Mereka menjadi lebih mementingkan penampilan yang akhirnya mengarah ke romantisme, yang semestinya belum terjadi pada usia mereka. Yang lebih parah lagi, usia anak dan remaja juga sudah terbiasa mengakses hal-hal yang berbau pornografi. Lompatan budaya seperti ini sungguh telah menjadi masalah moral yang pelik.
Globalisasi akhirnya menjadi sebuah masalah keluarga. Selain merusak moral, globalisasi juga bisa merusak rumahtangga. Berbagai alat komunikasi dan jejaring sosial membuat tingginya tingkat perselingkuhan dalam keluarga-keluarga. Misalnya jejaring sosial facebook yang membuat pertemanan semakin luas. Sahabat-sahabat lama dapat ditemukan dengan mudah dengan facebook. Kesempatan untuk reuni bersama teman-teman SMP, SMA atau teman-teman kuliah menjadi sangat mudah. Apa yang terjadi...CLBK (Cinta Lama Bersemi Bembali atau Cinte Lame Belon Kelar) tidak dapat dihindari. Suami atau istri berelasi kembali dengan mantan kekasih, yang akhirnya  berujung pada perselingkuhan.
Setiap keluarga kristiani perlu menyadari keadaan dan kenyataan globalisasi seperti ini. Keadaan ini adalah tugas sekaligus tantangan bagi setiap keluarga kristiani. Dengan demikian upaya rekonstruksi dapat dilakukan dan dapat tetap survive sebagai keluarga kristiani sejati di tengah arus globalisasi. Gereja pun tidak tinggal diam dalam upaya membina keluarga-kristiani yang tangguh. Surat Apostolik Beato Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, merupakan peneguhan bagi setiap keluarga Kristiani agar senantiasa menjadi keluarga kristiani sejati. Setiap keuskupan dan tingkat paroki juga sudah memiliki kelompok-kelompok pendampingan keluarga. Dengan demikian Gereja dan seluruh umat beriman berjalan bersama dalam menciptakan keluarga kristiani yang tangguh di tengah arus globalisasi.

Keluarga sebagai Gereja Kecil
            Konsili Vatikan II saat berbicara tentang keluarga, sangat menekankan pentingnya pendidikan dalam keluarga dalam meletakkan prinsip-prinsip mendasar.[ii] pendidikan seseorang dimulai dalam keluarga. Berbagai keutamaan-keutamaan praktis dimulai dalam keluarga sejak kecil. Orang tua mengajarkan kepada anak bagaimana harus mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu atau ditolong oleh orang lain. Orang tua juga yang mengajarkan larangan-larangan moral seperti jangan mencuri, jangan berbohong dan sebagainya. Selain pesan verbal, tanpa disadari pendidikan anak dalam keluarga juga terjadi melalui tindakan atau sikap, khususnya orang tua. Apa yang dilakukan oleh orang tua sangat mempengaruhi kepribadian sang anak. Saya teringat dengan seorang siswa sekolah dasar yang pernah saya ajar di sekolah dasar Katolik di Yogyakarta. Anak itu sangat nakal. Ia sering berulah di kelas. Ia tidak pernah mengerjakan tugas yang saya berikan. Saya kemudian bertanya kepada wali kelas mengapa anak itu sampai nakal seperti itu. Wali kelas menjelaskan bahwa anak itu hidup dalam keluarga broken home. Ayah dan ibunya pisah ranjang dan ia lebih sering bersama pengasuh. Dengan demikian, Gereja menyebut keluarga sebagai Gereja Kecil karena dalam keluarga, kepribadian dan iman anak pertama kali dibentuk.
Setiap keluarga Kristiani perlu menyadari hakekat keluarga yang mereka bina sebagai sebuah Gereja kecil. Era globalisasi mewajibkan keluarga-keluarga Kristiani untuk menghayati sungguh peran mereka dalam membina keluarga sebagai Gereja Kecil. Pengaruh globalisasi yang masuk dalam keluarga sangat mempengaruhi segala aspek dalam keluarga, mulai dari pendidikan anak, keharmonisan suami istri dan keintiman sesama anggota keluarga.
Mempertegas Kasih
            Ciri seorang kristiani adalah kasih. Ajaran Yesus adalah kasih (bdk Luk 6:27-36). Yesus berpesan agar setiap murid-Nya harus senantiasa mengamalkan kasih dalam kehidupan. Demikian juga dalam keluarga, kasih harus senantiasa terjaga antara anggota keluarga. Di era globalisasi ini, keluarga kristiani diharapkan senantiasa mempererat dan mempertegas kasih di antara mereka. Apalagi ada gejala bahwa perkembangan dalam suasana dunia modern kerap sangat mengurangi kedudukan dan peranan suami istri dalam relasinya dengan keturunannya sendiri. [iii] Anak yang tidak lagi mau makan bersama terjadi karena mereka tidak lagi merasakan kasih dalam keluarganya. Keluarga kristiani merupakan tanda dan sarana kehadiran Allah. Dalam Kitab Hukum Kanonik kanon 1055, disebutkan bahwa Kristus telah mengangkat perkawinan menjadi sakramen sehingga sifat perkawinan di antara orang-orang yang telah dibabtis adalah sakramen. Ide tentang sakramentalitas ini didasarkan pada Ef. 5:22-32.[iv]  Maka, kasih merupakan fondasi dalam bangunan yang bernama keluarga.
            Ada banyak hal yang dapat dilakukan dalam keluarga sebagai bentuk kasih. Komitmen untuk selalu makan bersama merupakan contoh konkrit bentuk kasih dalam keluarga. Di situlah ada kesempatan untuk duduk bersama, bercanda tawa dan saling mengingatkan atau menasihati. Dengan demikian kasih sayang antara anggota keluarga semakin intim. Keluarga akhirnya menjadi yang utama bagi setiap anggotanya. Anggota keluarga yang sedikit memiliki waktu untuk keluarga tentu disebabkan karena ia tidak lagi merasakan kasih di dalam keluarganya. Setiap anggota keluarga perlu disapa dan dicintai.
            Sebenarnya masih banyak hal sebagai bentuk kasih dalam keluarga yang sekarang ini sudah jarang dilakukan. Misalnya saja kemesraan antara suami istri. Perselingkuhan sebenarnya lebih banyak dipicu oleh kurangnya kemesraan antara suami istri. Mungkin karena keduanya menganggap bahwa masa-masa untuk “tampil mesra” sudah lewat, atau mungkin malu pada anak-anak dan tetangga. Namun jika demikian, maka sebenarnya kecenderungan untuk mencari “kemesraan” di tempat lain akan terbuka lebar. Apa salahnya jika antara suami istri tetap saling mencium pipi jika suami hendak bekerja, dan sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan “mesra” seperti itu merupakan sebuah simbol ungkapan kasih yang dengan sendirinya akan memberikan warna kasih dalam keluarga. Anak akan bahagia jika kedua orang tuanya saling mencintai dan mencintai dia.
Hal lain yang menurut hemat saya perlu ada untuk membangun kasih dalam keluarga adalah sharing keluarga. Saya masih mengingat masa kecil saya bagaimana ayah saya selalu menasihati kami anak-anaknya jika kami melakukan kesalahan, tanpa menghukum atau memukul kami. Sebelum tidur ia mengumpulkan kami dan menasihati agar jangan lagi melakukan kesalahan tersebut. Ia juga berusaha agar dalam sharing keluarga tersebut kami dapat berbicara dari hati ke hati, sehingga apa yang sebenarnya kami inginkan dimengerti oleh kedua orang tua. Pengalaman sharing keluarga yang selalu dilakukan ayah saya tersebut membuat saya sungguh merasa dicintai sebagai anak. Intinya anggota keluarga diharapkan sesering mungkin berkumpul bersama untuk dapat berbicara dari hati ke hati, sehingga segala keresahan setiap anggota keluarga dapat diketahui dan kasih sungguh terwujud dalam keluarga. Curhat semestinya pertama-tama terjadi di dalam keluarga, bukan kepada orang lain apalagi kepada media. Saya prihatin dengan tindakan para remaja dan orang dewasa zaman ini yang selalu curhat di facebook dengan meng-update status. Mereka lebih memilih curhat di facebook daripada kepada orang tua atau keluarga mereka.
Akhirnya, dengan cairnya suasana dalam keluarga, dengan kasih sebagai iklimnya, pengaruh globalisasi dapat dikontrol, baik oleh orang tua maupun setiap anggotanya. Setiap anggota keluarga dapat saling mengingatkan satu sama lain dengan penuh kasih. Anggota keluarga yang telah merasakan kasih sejati dalam keluarga mereka tentu tidak ingin keluarga yang mereka cintai hancur karena pengaruh eksternal, terutama globalisasi.
Kemajuan Global sebagai sarana membangun keluarga
Benarlah perkataan seorang guru sufi bahwa janganlah kita merubah keadaan, melainkan sikap kitalah yang perlu diubah dalam menghadapi keadaan tersebut. Globalisasi telah menjadi bagian hidup kita karena kita ada di dunia ini. Kita tidak bisa menghindar dari globalisasi. Ada begitu banyak kepentingan manusia di dalam globalisasi yang mengharuskan kita masuk di dalamnya. Namun, kita tetap memiliki kebebasan sebagai individu otonom. Globalisasi secara otomatis boleh masuk dalam kehidupan kita dan dalam keluarga kita, namun untuk memilah dan memilih mana yang baik dan tidak dari globalisasi, tetap ada di tangan kita.
Globalisasi membutuhkan kearifan. Globalisasi tidak 100% buruk. Kemajuan teknologi dan penerapan-penerapan teknisnya memberikan kemungkinan-kemungkinan yang baru dan tak terhingga dalam membangun humanisme. Maka, perlulah bahwa semua pihak menyadari kembali amat pentingnya nilai-nilai moral, yakni nilai-nilai pribadi manusia sebagai manusia.[v] Gereja melalui dokumen Gaudium et Spes menegaskan perlunya kearifan dalam menghadapi kemajuan-kemajuan dunia: “Zaman kita, lebih daripada abad-abad sebelumnya, memerlukan kearifan jika penemuan-penemuan yang dibuat manusia hendak dimanusiawikan lebih lanjut. Sebab masa depan dunia ada dalam bahaya jika tidak muncul orang-orang yang lebih arif bijaksana” (GS 15).
Globalisasi yang menjadi tantangan keluarga kristiani perlu disikapi secara bijaksana. Di satu sisi globalisasi juga membantu, misalnya dalam mendidik anak-anak. Dengan kemajuan teknologi, anak-anak dengan mudah mencari sumber-sumber ilmu pengetahuan. Orang tua tentu tahu mana yang tidak boleh untuk anak-anak, seperti yang berbau pornografi, kekerasan dan sebagainya. Orang tua harus lebih proaktif dalam mendampingi anak-anak bermedia. Program di TV biasanya menampilkan kriteria program seperti BO (Bimbingan Orangtua), D (Dewasa), dan R (Remaja). Maka orang tua diharapkan senantiasa mendampingi anak dalam menikmati siaran-siaran TV, sambil menjelaskan tayangan-tayangan tersebut agar anak dapat mencernanya secara positif. Selain itu orang tua juga diharapkan bijaksana dalam memberikan fasilitas-fasilitas kepada anak-anak. Jangan terlalu cepat memberikan fasilitas, khususnya alat-alat komunikasi-informasi, jika tidak terlalu perlu.
Doa
Akhirnya sebagai orang kristiani, segala persoalan dalam keluarga di era globalisasi ini harus dihadapi dalam semangat doa. Yesus bersabda, “Berdoalah agar kamu jangan masuk dalam pencobaan” (Luk 22:40). Maka kiranya keluarga kristiani tetap setia berdoa, agar segala cobaan, tantangan dan persoalan hidup dalam arus globalisasi dapat dihadapi dengan tenang dan bijaksana. Keluarga kristiani sejati adalah keluarga yang memiliki semangat doa yang hidup. Doa keluarga memiliki sifat-sifat khasnya sendiri. Doa keluarga adalah doa yang dipersembahkan bersama, suami bersama istri, bapak-ibu bersama anak-anak. Persatuan dalam doa merupakan konsekwensi maupun tuntutan demi persatuan yang diberikan oleh sakramen Babtis dan sakramen Perkawinan.[vi]
Gereja menuntut agar keluarga kristiani memiliki kebiasaan berdoa bersama. Di situ lah ada kesempatan untuk semakin memperdalam iman seluruh anggota keluarga, terutama iman anak. Dalam doa bersama, tiap anggota keluarga dapat saling mendoakan satu sama lain. Doa akhirnya menjadi sarana yang sungguh mampu menekan pengaruh negatif globalisasi. Doa membuat keluarga kristiani menghadirkan Tuhan dalam menghadapi globalisasi.
Penutup
Melalui refleksi sederhana ini, mari kita menjadi keluarga kristiani yang sejati di era globalisasi. Keluarga kristiani sejati adalah keluarga yang mampu bertahan menjalankan kasih dalam keluarga dan masyarakat di tengah tantangan globalisasi. Keluarga kristiani sejati adalah keluarga yang mampu bijak menghadapi globalisasi. Keluarga kristiani sejati adalah keluarga yang bersama-sama membangun dunia menuju Kristus.
*Frater tingkat IV





[i] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2008, 455.
[ii] Maurice Eminyan, Teologi Keluarga, Kanisius, Yogyakarta 2001, 153.
[iii] C. Groenen, Perkawinan Sakramental, kanisius, Yogyakarta 1993, 413.
[iv] Robertus Rubyatmoko, Perkawinan Katolik dalam Kitab Hukum Kanonik, Kanisius, Yogyakarta 2011, 20.
[v]Komisi Pendampingan Keluarga Keuskupan Agung Semarang, Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern, Kanisius, Yogyakarta 1994, 23.
[vi] Komisi Pendampingan Keluarga Keuskupan Agung Semarang, Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern, 105.

KELUARGA KATOLIK: GEREJA INTI

KELUARGA  KATOLIK : GEREJA  INTI
 Casimirus Sado*

Pengantar
            Konggres Internasional Keluarga IV, Manila, 2003, mengangkat tema utama: “Keluarga Kristiani: Kabar Gembira bagi Millenium III”. Tema itu mau mempertegas perhatian dunia internasional tentang peran keluarga dalam millenium III ini sangat penting. Betapa tidak, atas dasar hubungan darah, keluarga dipandang sebagai lembaga terkecil yang memiliki ikatan kuat-akrab antar anggota-anggotanya, serta sangat memungkinkan terjadinya pewarisan nilai-nilai. Sebagai sel dan basis paling dasar dalam masyarakat, keluarga menjadi pewarta kabar gembira, harapan bagi anggotanya dan bagi kemanusiaan.
            Sejalan dengan itu, gereja pun memandang bahwa keluarga Katolik sebagai gereja inti dan sebagai komunitas pergumulan iman sekaligus ke dalam dan ke luar. Keluarga Katolik menjadi medan bagi para anggotanya untuk belajar dan mengalami pergumulan hidup beriman untuk bertumbuh dan berkembang secara jasmani dan rohani. Namun demikian, keluarga bukanlah unit tersendiri-terisolir dari mata rantai hubungan sosial yang mempengaruhinya. Apa yang terjadi secara sosial, akan berdampak pula bagi keluarga. Tak terelakkan, sence of crises yang melanda dunia saat ini juga merambah keluarga-keluarga, gereja Katolik dan masyarakat luas. Pola pikir dan pola tindak sosial berimbas pada pola pikir dan pola tindak personil keluarga dan insan gereja Katolik. Globalisasi tak terhindarkan.
            Dalam terang evangelisasi baru, gereja Katolik menaruh harapan besar pada setiap keluarga untuk menyadari kembali fungsi panggilannya: “Pewarta Kabar Gembira” bagi kekatolikan dan bagi kemanusiaan pada umumnya. Dalam kerangka itu, kita akan mendalami sepintas alur pergumulan keluarga Katolik sebagai berikut:
1)      Kebersamaan: Perjuangan tak henti  (demi Kekudusan)
2)      Benteng Budaya-Nilai dan Jantung Evangelisasi

Kebersamaan: Perjuangan Tak Henti  (demi Kekudusan)
Ada sebuah dongeng yang menarik untuk kita renungkan: Konon, ketika menciptakan perempuan, Tuhan meramunya dengan mengambil: bulatnya bulan, meliuknya ular, goyangnya angin, menetesnya air hujan, cerahnya sinar mentari, malu-malunya kelinci, angkuhnya burung merak, manisnya madu, galaknya singa, jinaknya merpati, ngoceh-nya perkutut, panasnya api, dan indahnya mawar. Semuanya diaduk  lalu dimasak, dan jadilah perempuan. Tuhan melihat karyaNya begitu indah lalu membawanya kepada laki-laki. Laki-laki itu sangat senang-gembira. Seminggu kemudian, laki-laki itu datang menghadap Tuhan dalam keadaan kecewa berat, katanya: “Tuhan, makhluk yang Engkau berikan padaku menjadi malapetaka bagiku. Sepanjang hari dia berbicara tanpa henti, tertawa sambil menangis, lari ke sana kemari tak pernah istirahat, ngoceh terus. Tolong ambillah dia, Tuhan”. Tuhan memenuhi permintaannya. Akan tetapi seminggu kemudian, laki-laki itu datang lagi dan berkata kepada Tuhan: ”Waduh Tuhan, saya sangat kesepian sejak Engkau mengambilnya, biasanya dia menari dan menyanyi di depanku begitu indah dan manis; tolong kembalikanlah dia, Tuhan”. Tuhan segera mengembalikannya. Lalu seminggu kemudian, laki-laki itu datang lagi dan mendorong perempuan itu ke hadapan Tuhan katanya: ”Tuhan maafkan saya, karena ciptaanMu ini lebih sering menjengkelkan daripada menyenangkan, ambillah kembali”. Maka Tuhan berkata: ”Hai laki-laki, pulanglah ke rumahmu bersama perempuan ini dan berusahalah hidup bersama dia”. Maka dengan sesal dan sedih laki-laki itu pulang ke rumahnya bersama dengan perempuan itu sambil berkata dalam hatinya: ”Betapa malangnya saya ini, dengan dia hidupku susah; tapi tanpa dia saya pun tak dapat hidup”.
            Dongeng ini dapat membantu kita untuk merenungkan pergumulan dalam memaknai  sakramen perkawinan terus-menerus. Betapa tidak, keluarga Katolik juga tidak luput dari gaya atau trend globalisasi saat ini: materialisme-hedonisme-sektarianisme picik sesaat; yang dapat melunturkan nilai-nilai paling dasar dalam sakramen perkawinan: sakralitas-spiritualitas-moralitas dalam konteks relasi suami-istri dengan Allah dan sesama. Dalam sakramen perkawinan, suami-istri menjadi “satu daging” (Kej. 2:24) dan menjadi tanda nyata cinta Kristus kepada gerejaNya (Ef. 5:22-33). Maka panggilan hidup suami-istri: panggilan kepada persekutuan: ”apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat.19:6; Mrk.10:9). Persekutuan suami-istri merupakan tujuan dan cita hidup mereka: ”Dengan perjanjian perkawinan, pria dan wanita membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup; dari sifat kodratinya perjanjian itu terarah pada kesejahteraan suami-istri serta kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan perjanjian perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen” (KHK, Kan.1055 §1).
            Berkat sakramen perkawinan, keluarga Katolik disegarkan kembali untuk terlibat dalam dialog dengan Tuhan, mempersembahkan hidup dan doa. Melalui wafat dan kebangkitan Kristus, cinta suami-istri disucikan dan dikuduskan agar berdaya guna menyembuhkan keretakan hubungan suami-istri, menyempurnakan motivasi  suami-istri  dan mendatangkan rahmat pertobatan untuk saling memaafkan. Dengan demikian, suami-istri mengalami anugerah dan tanggung jawab untuk menerjemahkan panggilan hidup suci itu dalam hidup sehari-hari, serta menjadi teladan kesucian bagi anak-anak yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka; dan dengannya seluruh anggota keluarga akan mencapai, menyatakan serta memancarkan kekudusan yang diperjuangkan terus-menerus dalam penyertaan Roh.

Benteng Budaya-Nilai dan Jantung Evangelisasi
            Simaklah ilustrasi berikut: Seorang bapak yang sangat pelit diajak oleh anak kesayangannya untuk naik helikopter. Awalnya, sang bapak tidak setuju karena ia harus membayar mahal. Namun, karena sayang dengan anaknya ia pun setuju. Sesampainya mereka di helikopter, sang pilot berkata:”Bapak, biaya naik helikopter selama satu jam adalah 1 juta rupiah. Jika selama penerbangan anda ngomong, maka anda didenda 10 juta rupiah. Tetapi jika anda tidak ngomong sepatah kata pun selama penerbangan, maka anda akan mendapatkan bonus 100 juta rupiah, setuju/deal?” Kata bapak itu: ”Setuju!”  Kemudian helikopter diterbangkan dan sang pilot mengadakan berbagai manuver di udara. Tibalah saatnya pendaratan dilakukan, lalu sang pilot berkata: ”Wah, anda hebat selama penerbangan tadi anda tidak pusing dan tidak ngomong sepatah kata pun”.  Jawab bapak itu: ”Sebenarnya tadi saya mau ngomong, tapi saya takut kena denda”. Tanya sang pilot lagi: ”Anda mau ngomong apa tadi?” Kata bapak itu:”Anak saya jatuh ...”
            Ilustrasi di atas cukup menggambarkan “budaya” hidup kita zaman ini. Nilai hidup begitu gampang digeser atau digantikan dengan nilai ekonomi (pertimbangan untung-rugi). Budaya materialis-hedonis-sektarianis makin mewujud nyata dalam bentuk kekerasan dan memangsa-mematikan hidup manusia lain. Mari sejenak kita cermati maraknya berita kekerasan-pembunuhan di berbagai tayangan TV, seperti dalam program Buser, Sidik, Sergap, Patroli, Brutal, Bedah Kasus, dan TKP, termasuk tayangan bernuansa seks melalui CD porno, VCD porno, DVD porno dan situs-situs porno. Bahkan kini laris disajikan ke publik info bergaya mistik-gaib: Gentayangan, Uka-Uka, Dunia lain, Pemburu Hantu, dll.  Fenomena nyata ini mendominasi zaman kita kini, terutama di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi atas cara yang tak bisa dibendung, terbersit pertanyaan mendasar: Apakah keluarga-keluarga Katolik mampu menjadi benteng budaya-nilai dan jantung evangelisasi?  Arus globalisasi-modernisasi menantang kita semua, khususnya keluarga Katolik untuk bersikap ekstra kritis memaknai perubahan-perubahan nilai. Keluarga seharusnya menjadi medan utama berbagi kisah-kasih pengalaman nilai-nilai iman antar-anggota-nya:”Keluarga menjadi tempat asal dan upaya paling efektif untuk memanusiakan dan mempribadikan masyarakat. Keluarga membawa sumbangan asli yang mendalam dan membangun dunia, dengan memungkinkan peri-hidup manusiawi dalam arti sesungguhnya; khususnya dengan menjaga dan menyalurkan keutamaan-keutamaan serta nilai-nilai”(FC 43).
            Keluarga Katolik menjadi tempat persemaian dan pendidikan yang utuh bagi keberlanjutan kemanusiaan. Oleh karena itu, keluarga seharusnya mengalami bentuk-bentuk interaksi kehidupan penanaman nilai-nilai, sebagai bekal hidup bermasyarakat dan meng-gereja. Orangtua berperan penting sebagai pendidik pertama-utama dalam mewariskan nilai-nilai (iman-etika-moral) bagi anak-anak, melalui kata, sikap dan tindakan yang baik-benar.
            Paus Benediktus XVI pernah mengajak kita untuk mengutamakan sikap dan teladan yang benar:”keteladanan yang patut dicontoh sebagai umat Katolik yang berkualitas”. Kualitas hidup kemanusiaan yang baik akan menghasilkan integritas kepribadian yang kokoh dan loyalitas luhur pada tugas dan imannya. Maka, dengan integritas dan loyalitas prinsip keragu-raguan (relativisme) dalam hidup yang cenderung merusak tatanan hidup bersama dapat diatasi. Sebagai Gereja inti, keluarga Katolik dipanggil untuk mewartakan “Injil kehidupan” melalui kata-sikap-tindakan kepada sesama yang menderita, berbelarasa serta saling melayani bukan karena pertimbangan status sosial-ekonomi melainkan karena kesadaran sebagai sesama manusia.
            “Akan tetapi, Gereja mempunyai kepercayaan yang kuat, bahwa hidup manusiawi, juga kalau lemah dan menderita, senantiasa merupakan kurnia luhur, dianugerahkan oleh kebaikan Allah. Melawan pesimisme dan egoisme yang menyuramkan dunia, Gereja membela kehidupan” (FC 30). Kita semua, terutama keluarga Katolik adalah bagian dari Gereja Kristus. Kita tidak lepas dari tawaran-tantangan-godaan untuk bergeser sedikit dari amanat Kristus. Maka di tengah pergumulan pilihan-putusan antara “panggilan Kristus” dan “tawaran dunia” dibutuhkan “saat teduh” pemurnian motivasi kita untuk membatinkan amanat Sang Gembala:”Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahannya.” (Yoh. 10:10). Dengan keyakinan akan sabda Kristus itu, diharapkan setiap keluarga Katolik mampu manjadi “benteng budaya-nilai” dan pewarta Injil kehidupan (jantung evangelisasi). Semoga !

*) Penulis adalah Penyuluh Agama Katolik pada Kantor Kemenag Kab. Kolaka-Sultra.  
   
 




TOPIK 1 KELUARGA SEBAGAI GEREJA RUMAH TANGGA

KELUARGA SEBAGAI GEREJA RUMAH TANGGA
Mewujudkan keluarga sebagai gereja rumah tangga (ecclesia domestica) yang berpola keluarga kudus nasaret, tempat nilai-nilai manusiawi, iman dan tradisi katolik tersemaikan.”
                 Misi Gereja Lokal Keuskupan Agung Makassar, hasil Sinode Diocesan 2012.
Pendahuluan
Suasana di Triple C, Makassar, hari itu, tanggal 02 Juni 2012 dipenuhi dengan kegembiraan  luar biasa. Hari itu umat Katolik Keuskupan Agung Makassar bersuka-cita dan bergembira mengucap syukur kepada Allah atas berhasilnya Sinode Diocesan KAMS 2012 yang adalah perwujudan Roh Kudus yang menuntun umat Katolik dan hirarki berjalan bersama menghidupi iman. Hari itu pula Gereja Lokal KAMS merayakan 75 tahun lahirnya hirarki Gereja lokal yang sekaligus merayakan peringatan 75 tahun karya CICM di Indonesia.
Kesadaran jati diri
Selama setahun umat basis merenungkan keberadaan mereka sebagai umat beriman. Refleksi diri dari berbagi sudut kehidupan juga dilaluinya. Dengan bimbingan Roh Kudus umat beserta hirarki merumuskan bersama kesadaran jati diri mereka dan kedepannya sosok seperti apa yang Gereja local kehendaki. Pada akhirnya, kesadaran diri ini dituangkan dalam rumusan Gereja lokal sebagai Gereja yang melayani. Hirarki dan umat berjalan bersama (synodos) dengan memberikan arah yang jelas yaitu menjadikan segala-galanya baik, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh pendirinya. (Yoh 13:15).
Kesadaran diri Gereja lokal KAMS dan sepak terjangnya kedepan dirumuskan oleh sidang pleno sebagai Visi KAMS: “Gereja lokal KAMS yang bersosok kawanan kecil tersebar, sebagai pelayan berdasarkan dan berpolakan Yesus Kristus yang terus menerus membaharui diri, mewartakan Kerajaan Allah dengan meresapi tata dunia, sehingga segala-galanya menjadi baik.” Sebenarnya kesadaran Gereja sebagai kelompok pelayan-pelayan bukanlah suatu hal yang baru. Sejak jaman Yesus dan para murid sudah memberikan diri dalam pelayanan. Yesus sendiri memberikan teladan (Yoh 13:15) dan mengatakan bahwa  Dia datang kedunia ini bukan untuk dilayani melainkan melayani (Mrk 10:45).
Terima kasih kepada Roh Kudus, bahwa Sinode Diosesan juga melahirkan delapan Misi Gereja lokal KAMS.  Salah satu misi yang berhubungan dengan keluarga adalah “Mewujudkan keluarga sebagai gereja rumah tangga (ecclesia domestica) yang berpolakan keluarga kudus Nasaret, tempat nilai-nilai manusiawi, iman dan tradisi Katolik tersemaikan.” Kesadaran Gereja Lokal bahwa keluarga sebagai Gereja rumah tangga ini seiring dengan kesadaran Gereja universal tentang peranan keluarga dalam hidup menggereja. Kesadaran ini sudah muncul jauh sebelum Paus Yohanes Paulus II.
Anjuran Paus Yohanes Paulus II: Keluarga ambil peran membangun dunia
Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1981 menerbitkan Anjuran Apostolik yang disebut Familiaris Consortio yang adalah anjuran Paus supaya keluarga-keluarga berperan dalam membangun Gereja dan masyarakat dalam dunia modern ini.  Paus meneliti ikatan yang mendalam dan hubungan yang erat antara Gereja dan keluarga Katolik dan apa yang menjadikan keluarga Katolik itu suatu Gereja kecil. Hubungan suami-istri yang dilandasi cinta kasih adalah melambangkan hubungan yang erat antara Yesus dan GerejaNya, Yesus yang mencintai GerejaNya (Ef 5:25-32). Dalam arti ini Sakramen Perkawinan membuahkan keselamatan karena persatuan mesra suami-istri mengambil bagian dalam persatuan mesra antara Kristus dan Gereja. Cinta kasih suami-istri adalah tindakan nyata yang bertujuan untuk kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan pasangan.1 Melihat isi dan ciri peranan keluarga yang adalah tanda keselamatan dan tanda cinta kasih Yesus terhadap Gereja, tidak salah kalau dikatakan bahwa suami-istri atau keluarga yang hidupnya dilandasi oleh kasih Tuhan adalah Gereja kecil, Gereja rumah tangga yang merupakan sel Gereja universal dan masyarakat (FC 42, AA 11).
Apa artinya kalau Gereja Lokal KAMS mengemban misi keluarga sebagai Gereja Rumah tangga? Gereja lokal KAMS melihat dirinya sebagai yang sudah dewasa, yang sudah saatnya meninggalkan kesibukan bersolek diri dan terjun ke masyarakat untuk bekerja bagi kesejahteraan orang banyak.
Keluarga demikian pun Gereja mempunyai fungsi kedalam dan keluar. Fungsi kedalam keluarga atau Gereja membuat para anggotanya hidup dalam persekutuan yang erat (communion personarum, koinonia) untuk mengusahakan hidup saling bersaudara, saling mengampuni, saling mengasihi, dan membantu bagi terwujudnya perkembangan hidup masing-masing. Semua anggota keluarga wajib membangun iman yang benar, melalui pengajaran yang benar (kerygma) dan sakramen-sakramen Gereja (leiturgia), demi tercapainya tujuan bersama, yaitu menjadi semakin serupa dengan Kristus.  Adapun fungsi keluar keluarga atau Gereja adalah mewartakan kabar sukacita kepada segala bangsa (Mt 20:19-20, kerygma). Fungsi ini meliputi baik tugas pemberitaan Injil (kerygma) maupun tugas pelayanan sosial (diakonia) dalam masyarakat umum. Adapun tugas pelayanan sosial merupakan tugas di bawah tugas pemberitaan Injil yang tidak dapat dipisahkan, karena tugas utama gereja adalah menginjili dunia, dan bukan menyempurnakan kesejahteraan sosial masyarakat. Penginjilan adalah usaha memberitakan kabar mahabaik tentang Yesus Kristus, yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya, menebus dosa umat manusia, sehingga mereka yang mau percaya dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat, memperoleh pengampunan Allah dan kehidupan kekal.
Gereja Lokal KAMS (bisa dibaca keluarga) berniat untuk mewujudkan iman  dalam karya-karya konkret dengan meresapi tata dunia demi terwujudnya tatanan hidup yang lebih bermartabat dan berkeadaban. Hal ini terungkap dalam misi yang ingin di jalani dalam lima tahun kedepan misalnya: membangun gerakan budaya hidup bersih dan sehat, mendorong kemandirian umat/masyarakat ekonomi lemah dengan cara mendukung pemberdayaan potensi ekonomi, membangun kesadaran dan tanggung jawab sosial politik yang bermartabat di kalangan umat dalam hidup berbangsa dan bernegara. Pada pokoknya keluarga, Gereja, ingin lebih berkiprah dalam tatanan masyarakat yang nyata.
Keluarga: Gereja kecil
Keluarga adalah sungguh-sungguh Gereja. Yesus memilih hidup sebagai manusia dalam satu keluarga Maria dan Yosef. Mereka adalah orang-orang beriman yang hidup dalam persekutuan. Oleh karena itu, persekutuan hidup Maria, Yosef dan Yesus sendiri disebut “keluarga Allah” atau Gereja (KGK 1655). Memang sejak awal perkembangan Gereja, keluarga merupakan inti dari Gereja. Orang-orang menjadi percaya kepada Kristus, mereka dibaptis dan hidup dalam persekutuan. Pada umumnya seluruh keluarga menjadi orang percaya (Kis 16:31). Orang yang sudah diselamatkan, dalam hatinya sangat mendambakan keselamatan pula bagi seluruh keluarganya (Kis 11:14).
Anggota keluarga karena baptisan menerima dan memiliki martabat Kristus, yaitu martabat sebagai nabi, imam dan raja. Dengan martabat kenabian, keluarga mempunyai tugas mewartakan Injil; dengan martabat imamat, keluarga mempunyai tugas menguduskan hidup terutama dengan menghayati sakramen-sakramen Gereja dan hidup doa; dan dengan martabat rajawi, keluarga mempunyai tugas melayani sesama.
Keluarga bukan hanya sebuah komunitas manusia yang harus selalu menjadi objek pelayanan Gereja. Keluarga adalah juga komunitas basis Gerejawi yang mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah; keluarga mempunyai tugas yang adalah juga lima tugas Gereja yakni: membangun persekutuan hidup dan kasih, membangun keluarga Katolik yang bahagia                  ( koinonia). Sebagai keluarga, berkumpul bersama merayakan iman melalui doa ibadat keluarga   ( leiturgia). Pekerjaan memberikan pelayanan dalam keluarga maupun kepada keluarga-keluarga lainnya ( diakonia). Keluarga memberikan kesaksian iman kepada orang lain dalam setiap pergaulannya (martyria). Semua yang keluarga hidupi dan lakukan hendaknya menjadi sarana mewartakan kabar sukacita kepada sesama (kerygma).
Gereja sebagai rumah Allah
Istilah Gereja mempunyai arti yang lain yaitu sebagai rumah Allah dimana umat Allah berkumpul untuk mengucapkan syukur, berdoa bersama, memuji dan meluhurkan Allah dalam ibadat dan ekaristi. Keluarga hendaknya membangun dan menjadi altar, menjadi mezbah Allah dimana semua anggotanya bisa berkumpul bersama untuk bersyukur, berdoa, memuji dan meluhurkan Allah dalam ibadat. Berikut ini adalah usulan sebagai gerakan atau langkah untuk mewujudkan keluarga sebagai mezbah Allah:
1.                  Mulai berdoa bersama sebagai keluarga, bukan sendiri-sendiri saja. Membaca kitab suci harian bersama-sama, berdoa bersama sebelum makan. Bisa menggunakan liturgi resmi Gereja sebagai model liturgi keluarga, misalnya ibadat sabda tanpa imam, belajar berdoa secara spontan dan dengan melibatkan hati.
2.                  Berdoa Rosario bersama-sama dalam keluarga. Anak-anak diberi kesempatan memimpin doa Bapa Kami dan Salam Maria. Anjurkan setiap anggota keluarga mendoakan intensi masing-masing. Doronglah anak-anak berdoa secara teratur setiap harinya.
3.                  Didalam Gereja selalu ada salib besar di sekitar altar, pasanglah juga salib yang cukup besar ditempat dimana keluarga sering berkumpul untuk berdoa bersama dan juga ditempat yang mudah dilihat orang. Pasanglah salib-salib ukuran sedang di dinding setiap kamar.
4.                  Jadikanlah penerimaan sakramen sebagai tradisi keluarga yang secara teratur diterima seperti misalnya pengakuan dosa. Merayakan Ekaristi bersama sebagai keluarga setiap Minggu.
5.                  Ciptakanlah tradisi keluarga dalam masa-masa tertentu dalam kalender Gerejawi, misalnya Gerakan APP diperhatikan oleh ayah, ibu dan semua anak-anak termasuk anak  yang masih kecil. Ajarilah mereka menyisihkan sebagian uang saku mereka untuk dipersembahkan kepada Tuhan dalam kolekte atau APP (bukan orang tua memberi uang kepada anak untuk kolekte atau APP. Ajarilah mereka berkorban untuk nilai yang lebih baik.
6.                  Jadikanlah ziarah ketempat suci misalnya ke gua Maria sebagai kebiasan keluarga yang dilakukan bersama oleh semua anggota keluarga.
7.                  Jadikanlah berbakti kepada Tuhan sebagai kebiasaan setiap anggota keluarga, bahkan saat-saat liburan; misalnya mengikuti misa harian pagi hari, untuk orangtua sebelum masuk kerja dan anak-anak sebelum masuk sekolah. Kalau sedang liburan diluar kota, carilah Gereja terdekat untuk ikut misa pagi.
8.                  Orangtua menjadi teladan kemurahan hati bagi anak-anak melalui tutur kata dan perbuatan mereka.
9.                  Jangan takut mengungkapan cinta kepada pasangan di depan anak-anak misalnya suami istri saling bergandengan tangan, berpelukan dan saling cium pipi. Perlihatkan kemurahan hati kepada tetangga dan orang lain di depan mata anak-anak. Katakan kepada anak-anak bahwa Tuhan mencintai mereka, mereka pun harus mencintai satu-sama lain dan berbaik hati kepada orang lain. Hindari suami-istri bertengkar di depan anak-anak. Dengan demikian mereka akan belajar dari orang tua apa yang baik saja.
10.              Bersharinglah dengan anak-anak tentang kehadiran Tuhan dalam suka dan duka keluarga.
11.              Perlihatkanlah selalu keramahan kepada siapa saja yang bertamu dirumah misalnya pastor, bruder, suster, dan pelayan Gereja lainnya yang mengunjungi rumah.
12.              Aktiflah berpartisipasi dalam hidup menggereja  misalnya ambil bagian dalam liturgi sebagai lektor, pro-diakon dll; menjadi anggota Legio Maria, WKRI, atau organisasi Gereja lainnya.
13.              Doronglah anak-anak juga ikut serta dalam kegiatan Gereja, tidak dibiarkan larut dalam pengaruh negatif lingkungan mereka.
14.              Ikut serta dalam kegiatan sosial di lingkungan kita misalnya menjadi ketua RT/RW (Rukun Tetangga/Rukun Warga), partisipasi dalam gotong-royong membersihkan lingkungan rumah.
15.              Tentu saja masih ada banyak kegiatan lain yang bisa menjadi ungkapan perwujudan iman dalam masyarakat.
Penutup
Membangun keluarga sebagai Gereja rumah tangga adalah suatu kesadaran Gereja lokal KAMS. Dorongan Roh Kudus menggerakkan keluarga secara nyata berkiprah di masyarakat; keluar dari dirinya sendiri melaksanakan karya-karya Gereja menata dunia dan untuk keselamatan umat manusia. Ada saatnya pula keluarga membangun diri sebagai mezbah Allah, keluarga yang bersekutu untuk memuji dan memuliakan Allah dalam ibadat keluarga. Dengan demikian keluarga benar-benar menjadi Gereja sebagai sakramen keselamatan Allah bagi manusia.
Sumber:
1. “Koinonia” Media Gereja Lokal KAMS Vol.7 No.3
2. “Pedoman Pastoral Keluarg”a, KWI, Jakarta 2011.
3. “Familiaris Consortio”, Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II, 1981.
4. “Alkitab Deuterokanonika”, LAI, Jakarta 2010.
5. Katekismus Gereja Katolik, KWI, Jakarta, 2009
. . 


Pastor Ignatius Suryanto, MSC

EDITORIAL

EDITORIAL


            Buletin Dialog edisi kali lalu telah mengangkat tema “Reevangelisasi” sebagai hasil follow-up Sinode Diosesan KAMS 2012. Berangkat dari hasil sinode tersebut, Buletin Dialog kembali mengangkat tema yang penting sehubungan dengan arah dan perkembangan Gereja Lokal KAMS yaitu Keluarga Katolik sebagai Gereja Rumah Tangga.
            Keluarga Katolik sebagai Gereja rumah tangga merupakan tempat di dalam Gereja universal di mana kehidupan dikandung, dipelihara, dan dicintai. Keluarga adalah sekolah cinta kasih bagi seluruh Gereja. Keluarga adalah sumber cinta kasih dari kehidupan pasangan suami-istri dan kehidupan baru yang mereka mulai dan pelihara. Tanpa Gereja rumah tangga, tidak ada Gereja, karena di dalamnyalah cinta kasih, yang merupakan hakikat Allah, dijaga tetap hidup.
            Seorang Teolog terkenal, Karl Rahner menyatakan: “Kita tidak mengatakan bahwa keluarga adalah ‘seperti’ Gereja, atau bahwa keluarga adalah ‘bagian’ dari Gereja. Keluarga ‘adalah’ Gereja, yang di dalamnya terdapat ungkapan akan kehadiran Allah yang sungguh-sungguh gerejawi di dalam persekutuan-persekutuan umat beriman yang khusus. Berangkat dari hal tersebut, semoga melalui tulisan-tulisan baik yang ilmiah, refleksi maupun sharing dalam buletin ini boleh bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Keluarga adalah harta yang paling berharga.

Salam Redaksi

Kamis, 20 Februari 2014

Suasana Pengepakan Dialog




Suasana Pengepakan Majalah Dialog sebelum dikirim ke pelanggan... Di sini para crew, staf redaksi, dan segenap karyawan Dialog berpartisipasi untuk mengepak ribuan cetakan majalah Dialog demi terkirimnya majalah ke tangan pembaca. Foto ini diambil pada tahun 2012 yang lalu ketika Dialog bertemakan 75 Tahun Gereja Lokal KAMS.

Jumat, 23 Agustus 2013

REEVANGELISASI MELALUI MEDIA

REEVANGELISASI MELALUI MEDIA
"Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:15).
Fr. Alfius Tandirassing
            Mewartakan Injil ke seluruh dunia adalah tugas Gereja. “Dengan mewartakan Injil, Gereja mengundang mereka yang mendengarnya kepada iman dan pengakuan iman, menyiapkan mereka untuk menerima baptis, membebaskan mereka dari perbudakan kesesatan dan menyaturagakan mereka ke dalam Kristus, supaya karena cinta kasih mereka bertumbuh ke arah Dia hingga kepenuhannya.” (LG art. 17). Dengan diterangi oleh Roh Kudus, Gereja membawa Kristus kepada umat dan membawa umat kepada Kristus.
Para rasul sendiri sebagai Gereja awal telah memberikan keteladanan misioner dan evangelisasi kepada Gereja masa sekarang. Iman Gereja pada saat ini tidak terlepas dari ketekunan para rasul dan pengganti-penggantinya untuk mewartakan Injil kepada seluruh bangsa. “Adalah tugas para pengganti mereka untuk melestarikan karya itu, supaya “sabda Allah terus maju dan dimuliakan” (2Tes 3:1) dan Kerajaan Allah diwartakan dan dibangun di mana-mana” (AG art. 1). Oleh karena itu, Gereja yang hidup di zaman modern ini dipanggil untuk terus mewartakan Injil dan membangun Kerajaan Allah. Namun dalam menghadapi situasi zaman modern ini, bagaimanakah Gereja bermisi? Apa yang mesti dilakukan oleh Gereja dalam reevangelisasi?
Dekrit Inter Mirifica, Dokumen Konsili Vatikan II, membahas mengenai media komunikasi sosial sebagai penemuan-penemuan teknologi yang mengagumkan di zaman ini. “Bunda Gereja menyadari, bahwa upaya-upaya itu, kalau digunakan dengan tepat, dapat berjasa besar bagi umat manusia, sebab sangat membantu untuk menyegarkan hati dan mengembangkan budi, dan untuk menyiarkan serta memantapkan Kerajaan Allah (IM art. 2). Media komunikasi sosial ini bisa digunakan oleh Gereja dengan tepat untuk menyiarkan serta memantapkan Kerajaan Allah. Apalagi di zaman sekarang, di mana generasi manusia bisa disebut sebagai generasi digital, media komunikasi tidak lagi dianggap sarana pelengkap tetapi menjadi kebutuhan.
Merasul Lewat Media
Media komunikasi tidak lagi asing bagi sebagian besar orang, bahkan mungkin hampir semua orang. Media komunikasi yang terus berkembang ternyata merambah pula ke dalam Gereja. Mau tidak mau, Gereja mesti berurusan dengan media komunikasi. Jika Gereja menutup pintu dan jendelanya terhadap kedatangan media komunikasi, maka ia bagaikan hidup di zaman primitif. Berhadapan dengan hal ini, Gereja tidak bakal lagi dihormati sebagai sebagai lembaga yang mempunyai wewenang moral dan tata susila bagi arus komunikasi. Maka sudah selayaknyalah Gereja memanfaatkan media komunikasi sebagai sarana evangelisasi baru.
Salah satu alasan mengapa evangelisasi baru mendorong pemanfaatan media komunikasi adalah karena perkembangan media komunikasi yang begitu cepat dan membawa pengaruh yang begitu mendalam terhadap pembentukan mentalitas dan kebiasaan orang. Pengaruh media komunikasi sebagai gaya hidup lambat laun menjadi sikap hidup yang akan dihidupi oleh umat.
Jika digunakan dengan tepat, media komunikasi akan sangat efektif di dalam menyiarkan dan membangun Kerajaan Allah. Dalam wawancara Penyejuk Imani Katolik di Indosiar 4 Juni 2000, Mgr. Ignatius Suharyo menegaskan, “Yang penting adalah bagaimana Gereja terus mewartakan Injil. Kalau Injil hanya disampaikan dengan cara yang biasa-biasa sering kali Injilnya tidak berbunyi untuk zaman modern ini. Maka mesti dicari jalan-jalan yagn semakin modern untuk menyentuh sensibilitas masyarakat modern”.
            Dalam pesan Hari Komunikasi Sedunia tahun 2011, Paus Benediktus XVI menyatakan salah satu langkah yang dapat dilakukan dalam mewartakan, khususnya dalam media internet. “Kita perlu memperhatikan website (laman), aplikasi, dan jejaring sosial, yang dapat membantu manusia dewasa ini untuk menemukan waktu permenungan dan pertanyaan otentik serta memberikan ruang untuk keheningan dan kesempatan berdoa, meditasi, atau sharing sabda Allah”.
            Saat ini, ada banyak jenis media yang dapat digunakan untuk mewartakan Injil atau paling tidak nilai-nilai Kristiani, di antaranya Pers, Film, Radio, Televisi, dan yang paling luas jaringannya yaitu Internet.
a.      Pers
Sebagai media cetak, pers mampu mengomunikasikan berita-berita, opini, ide-ide, dan sikap manusia secara mendetail. Menurut Instruksi Pastoral Communio et Progressio, pers merupakan pelengkap yang paling bermanfaat bagi alat-alat komunikasi audio-visual. Oleh karena pers bisa memuat banyak bahan yang beraneka ragam, maka pers menduduki tempat utama dalam usaha memajukan bidang sosial.
Media pers sudah lama digunakan oleh Gereja, misalnya L’ Orservatore dari Roma yang menjangkau seluruh dunia. Di ranah Nasional terdapat majalah Hidup, Utusan, Rohani. Di wilayah keuskupan terdapat Koinonia, Komunikasi, Salam Damai, dsb. Tak ketinggalan pula di paroki-paroki terdapat Saltus, Lentera Iman, Berkat, Kristo, dsb. Selain itu ada banyak pewarta yang menggunakan media pers lainnya sebagai sarana pewartaan iman dan nilai-nilai Kristiani, misalnya dalam koran atau penerbitan buku-buku rohani. Giatnya para pewarta yang menggunakan pers akan membantu para pembaca dalam memperdalam iman.
b.     HP, Film, Radio, dan Televisi
Media elektronik kiranya memiliki keunggulan lain dibandingkan dengan media cetak. Dari sisi penggemarnya, kebanyakan orang lebih memilih menonton film dan acara televisi  atau mendengarkan radio daripada membaca. Gereja, khususnya di Indonesia, telah berusaha menggunakan media-media ini sebagai sarana pewartaan.
Usaha-usaha tersebut di antaranya Mimbar Agama Katolik (TVRI), Penyegar Rohani Katolik (RCTI), Penyejuk Imani Katolik (Indosiar), Percikan Rohani Katolik (SCTV), Gema Rohani Katolik (ANTV), dsb. Ada pula beberapa produksi film yang pernah ditayangkan di media televisi, misalnya JanjiMu S’perti Fajar, Sentuh Hatiku, Buku Harian Nayla, Keluarga Cemara, dsb. Selain itu, penyiaran radio ternyata lebih efektif karena jaringannya mampu menjangkau daerah-daerah pelosok dengan mudah dan ekonomis. Di beberapa tempat terdapat Radio yang dimiliki sendiri oleh Gereja Katolik. Namun di tempat yang tidak memiliki radio sendiri, biasanya diisi dengan acara-acara tertentu yang menyiarkan program-program bernuansa Katolik, misalnya renungan.
Di bidang alat komunikasi seperti HP yang mampu menyapa orang secara pribadi, dapat pula dikembangkan pelayanan sabda. Di Jakarta, misalnya, melalui kerjasama Keuskupan Agung Jakarta dan produsen HP Nexian, diluncurkan HP Nexian yang seluruh fitur-fitur dan fasilitasnya bernuansa Katolik. HP tersebut laris dalam “sekejap” dan memerlukan produksi berikutnya. Di dalamnya sudah terdapat bacaan harian, doa-doa ujud tertentu, lagu-lagu dari Puji Syukur dan Madah Bakti, kisah santo-santa, alarm doa angelus, dsb. Kalau teknologi semacam ini dikembangkan terus maka umat akan semakin terbantu dalam memperdalam iman.
c.      Internet
Dalam perkembangan mutakhir, media internet jauh melampaui semua media yang ada. Internet merambah ke segala penjuru dan memuat segala macam bidang kehidupan, mulai dari yang “kudus” sampai ke yang “kudis”. Generasi yang lahir di abad XX mulai memasuki dunia internet dan internet memasuki dunia mereka. Kaum muda khususnya, cenderung menghabiskan waktu di dunia internet selama beberapa jam per hari.
Berhadapan dengan hal ini, Gereja tidak bisa tinggal diam. Ada satu pilihan yang jelas: apakah Gereja yang harus merasuki internet atau internet yang akan merasuki Gereja? Bila Gereja merasuki internet maka nilai-nilai yang terbangun adalah nilai-nilai gerejani. Tetapi apa yang terjadi bila Gereja yang dirasuki? Kiranya yang diharapkan adalah terwujudnya nilai-nilai gerejani, yaitu nilai-nilai keselamatan yang telah diwartakan oleh Kristus di dunia ini dan dilanjutkan oleh Gereja. Maka wajah seperti apakah yang mesti ditampilkan Gereja dalam berhadapan dengan media internet? Kiranya hal ini layak dan pantas didiskusikan.
Merasul dengan berbagai media memang sudah diusahakan dalam Gereja Katolik di Indonesia namun pelaksanaannya masih perlu ditingkatkan lagi. Gereja bisa tampil lebih baik dari apa yang sudah dimulai dari dulu sampai saat ini. Maka pengoptimalan penggunaan media komunikasi sosial akan sangat bermanfaat untuk mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi ini.
Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa media komunikasi sosial dan teknologi pun membawa dampak negatif bagi manusia, khususnya pada perkembangan iman umat. Maka misi Gereja-lah yang mesti merasuki dunia media komunikasi, menularkan kesucian, dan menggunakannya demi membangun Kerajaan Allah.
Merasul dengan Media di Bumi KAMS
            Bumi KAMS yang masih tergolong muda sedang bertumbuh dan membentuk diri. Tujuh puluh lima tahun Gereja Lokal KAMS telah berdiri dan semakin menemukan jati dirinya. Melalui sinode Diosesan II yang lalu, Gereja Lokal KAMS disatukan dalam Roh Kudus untuk melihat bersama KAMS yang tercinta. Salah satu pokok yang dirasakan perlu dikembangkan adalah reevangelisasi. Ada banyak langkah dalam ber-reevangelisasi. Salah satu yang dapat ditempuh adalah reevangelisasi melalui media.  
            Para misionaris telah berjuang dengan gigih dalam mewartakan iman di bumi KAMS dengan menggunakan media yang sangat mutakhir pada zamannya. Sekarang pun Gereja Lokal KAMS perlu mewartakan dengan menggunakan media di zaman ini. Luasnya medan dan kurangnya pelayan di ranah KAMS akan dapat diakali dengan menggunakan media sebagai “penyempit” medan dan “pelayan” baru.
            Di bumi KAMS, media komunikasi akan menjadi sarana yang sangat efektif. Daerah-daerah yang kurang terjangkau dalam pelayanan pastoral, bisa dikuatkan dengan menggunakan media komunikasi, misalnya melalui radio. Daerah-daerah yang terjangkau namun kurang mendalam imannya dapat dikuatkan pula dengan siaran-siaran televisi. Atau generasi muda yang giat ber-BBM-an, nge-blog, ber-chatting, ber-facebook, atau ber-tweeter ria dapat dijangkau dengan pelayan-pelayan pastoral internet. Para pencinta bacaan dapat pula dijangkau melalui penerbitan media cetak.
            Gereja KAMS memiliki banyak kesempatan dan peluang untuk memanfaatkan media komunikasi sebagai sarana pewartaan. Penerbitan buku-buku dan majalah telah dimulai dan bahkan sudah berjalan efektif dan efisien. Penyiaran melalui Radio dan Televisi sementara digagas dan sebagiannya masih dikembangkan dalam diskusi dan perencanaan.  Kehadiran Gereja KAMS di dunia internet pun sudah dilakukan oleh sukarelawan yang aktif, kreatif dan inovatif. Berkat penerangan Roh Kudus, bumi KAMS sudah mulai berubah dan tidak lagi menghidupi zaman lampau. Dalam dunia media komunikasi, Gereja Lokal KAMS mampu menjadi lebih baik dari apa yang sudah ada sekarang. Melalui media komunikasi Gereja Lokal KAMS mampu menyiarkan dan mewartakan Kerajaan Allah. Dengan demikian, perutusan Yesus bagi Gereja untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa akan ditempuh dengan cara baru, “Merasul Lewat Media”. Memang merasul lewat media tidak semudah membalik telapak tangan namun itulah perutusan baru.
Endnotes:
-         Terj. Hardawiryana, SJ., Dokumen Konsili Vatikan II, Obor, 1993, terutama Dokumen Inter Mirifica (IM), Lumen Gentium (LG), dan Ad Gentes (AG).
-         Y.I Iswarahardi, SJ, ed., Media memuliakan KehidupanSebuah Antologi Komunikasi, Kanisius, Yogyakarta, 2010.
-         Y. Sudaryatna, Media Komunikasi Sosial sebagai Sarana Evangelisasi Baru, Celesty Hieronika, Jakarta, 1999.
-         Y.I Iswarahardi SJ., Beriman dengan Bermedia – Antologi Komunikasi,  Kanisius, 2003 Yogyakarta.
-         Komisi Kateketik KWI, Buletin Kateketik Pastoral - Majalah Praedicamus, Vol. XI No. 40, Oktober-Desember 2012.
-         Majalah Rohani, Religius Ngartis lewat Facebook, No. 2 Tahun ke-58 Februari 2011, Yogyakarta.
-         Majalah Rohani, Mendebah Arus Globalisasi, No. 05 Tahun ke-51 Mei 2004, Yogyakarta.
-         Mingguan HIDUP, Evangelisasi melalui Komunikasi Sosial, No. 21 Tahun ke-66, 20 Mei 2012, Jakarta.
-         Mingguan HIDUP, Generasi Facebook untuk Gereja, No. 06 Tahun ke-66, 5 Februari 2012, Jakarta.

-         G.P Sindhunata, SJ., Nenek Tua yang Tertinggal Zamannya, Makalah Seminar Peringatan 50 Tahun Konsili Vatikan II Fakultas Teologi Kepausan Wedabhakti Yogyakarta, Selasa, 27 September 2012.