KELUARGA KATOLIK : GEREJA INTI
Casimirus Sado*
Pengantar
Konggres Internasional Keluarga IV,
Manila, 2003, mengangkat tema utama: “Keluarga
Kristiani: Kabar Gembira bagi Millenium III”. Tema itu mau mempertegas
perhatian dunia internasional tentang peran keluarga dalam millenium III ini
sangat penting. Betapa tidak, atas dasar hubungan darah, keluarga dipandang
sebagai lembaga terkecil yang memiliki ikatan kuat-akrab antar
anggota-anggotanya, serta sangat memungkinkan terjadinya pewarisan nilai-nilai.
Sebagai sel dan basis paling dasar dalam masyarakat, keluarga menjadi pewarta
kabar gembira, harapan bagi anggotanya dan bagi kemanusiaan.
Sejalan dengan itu, gereja pun memandang
bahwa keluarga Katolik sebagai gereja inti dan sebagai komunitas pergumulan iman
sekaligus ke dalam dan ke luar. Keluarga Katolik menjadi medan bagi para
anggotanya untuk belajar dan mengalami pergumulan hidup beriman untuk bertumbuh
dan berkembang secara jasmani dan rohani. Namun demikian, keluarga bukanlah
unit tersendiri-terisolir dari mata rantai hubungan sosial yang
mempengaruhinya. Apa yang terjadi secara sosial, akan berdampak pula bagi
keluarga. Tak terelakkan, sence of crises
yang melanda dunia saat ini juga merambah keluarga-keluarga, gereja Katolik dan
masyarakat luas. Pola pikir dan pola tindak sosial berimbas pada pola pikir dan
pola tindak personil keluarga dan insan gereja Katolik. Globalisasi tak
terhindarkan.
Dalam terang evangelisasi baru,
gereja Katolik menaruh harapan besar pada setiap keluarga untuk menyadari
kembali fungsi panggilannya: “Pewarta Kabar Gembira” bagi kekatolikan dan bagi
kemanusiaan pada umumnya. Dalam kerangka itu, kita akan mendalami sepintas alur pergumulan keluarga Katolik
sebagai berikut:
1)
Kebersamaan: Perjuangan tak henti (demi Kekudusan)
2)
Benteng Budaya-Nilai dan Jantung
Evangelisasi
Kebersamaan: Perjuangan Tak Henti (demi Kekudusan)
Ada
sebuah dongeng yang menarik untuk kita renungkan: Konon, ketika menciptakan perempuan, Tuhan meramunya dengan mengambil:
bulatnya bulan, meliuknya ular, goyangnya angin, menetesnya air hujan, cerahnya
sinar mentari, malu-malunya kelinci, angkuhnya burung merak, manisnya madu,
galaknya singa, jinaknya merpati, ngoceh-nya perkutut, panasnya api, dan
indahnya mawar. Semuanya diaduk lalu
dimasak, dan jadilah perempuan. Tuhan melihat karyaNya begitu indah lalu
membawanya kepada laki-laki. Laki-laki itu sangat senang-gembira. Seminggu
kemudian, laki-laki itu datang menghadap Tuhan dalam keadaan kecewa berat,
katanya: “Tuhan, makhluk yang Engkau berikan padaku menjadi malapetaka bagiku.
Sepanjang hari dia berbicara tanpa henti, tertawa sambil menangis, lari ke sana
kemari tak pernah istirahat, ngoceh terus. Tolong ambillah dia, Tuhan”. Tuhan
memenuhi permintaannya. Akan tetapi seminggu kemudian, laki-laki itu datang
lagi dan berkata kepada Tuhan: ”Waduh Tuhan, saya sangat kesepian sejak Engkau
mengambilnya, biasanya dia menari dan menyanyi di depanku begitu indah dan
manis; tolong kembalikanlah dia, Tuhan”. Tuhan segera mengembalikannya. Lalu
seminggu kemudian, laki-laki itu datang lagi dan mendorong perempuan itu ke
hadapan Tuhan katanya: ”Tuhan maafkan saya, karena ciptaanMu ini lebih sering
menjengkelkan daripada menyenangkan, ambillah kembali”. Maka Tuhan berkata: ”Hai
laki-laki, pulanglah ke rumahmu bersama perempuan ini dan berusahalah hidup bersama dia”. Maka
dengan sesal dan sedih laki-laki itu pulang ke rumahnya bersama dengan
perempuan itu sambil berkata dalam hatinya: ”Betapa malangnya saya ini, dengan
dia hidupku susah; tapi tanpa dia saya pun tak dapat hidup”.
Dongeng ini dapat membantu kita untuk
merenungkan pergumulan dalam memaknai sakramen perkawinan terus-menerus. Betapa
tidak, keluarga Katolik juga tidak luput dari gaya atau trend globalisasi saat ini: materialisme-hedonisme-sektarianisme
picik sesaat; yang dapat melunturkan nilai-nilai paling dasar dalam sakramen
perkawinan: sakralitas-spiritualitas-moralitas dalam konteks relasi suami-istri
dengan Allah dan sesama. Dalam sakramen perkawinan, suami-istri menjadi “satu
daging” (Kej. 2:24)
dan menjadi tanda nyata cinta Kristus kepada gerejaNya (Ef. 5:22-33).
Maka panggilan hidup suami-istri:
panggilan kepada persekutuan: ”apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak
boleh diceraikan manusia” (Mat.19:6;
Mrk.10:9).
Persekutuan suami-istri merupakan tujuan
dan cita hidup mereka: ”Dengan perjanjian
perkawinan, pria dan wanita membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup;
dari sifat kodratinya perjanjian itu terarah
pada kesejahteraan suami-istri serta kelahiran dan pendidikan anak; oleh
Kristus Tuhan perjanjian perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen” (KHK, Kan.1055 §1).
Berkat sakramen perkawinan, keluarga
Katolik disegarkan kembali untuk terlibat dalam dialog dengan Tuhan,
mempersembahkan hidup dan doa. Melalui wafat dan kebangkitan Kristus, cinta
suami-istri disucikan dan dikuduskan agar berdaya guna menyembuhkan keretakan hubungan suami-istri, menyempurnakan motivasi suami-istri
dan mendatangkan rahmat
pertobatan untuk saling memaafkan. Dengan demikian, suami-istri mengalami
anugerah dan tanggung jawab untuk menerjemahkan panggilan hidup suci itu dalam
hidup sehari-hari, serta menjadi teladan kesucian bagi anak-anak yang
dikaruniakan Tuhan kepada mereka; dan dengannya seluruh anggota keluarga akan
mencapai, menyatakan serta memancarkan kekudusan yang diperjuangkan
terus-menerus dalam penyertaan Roh.
Benteng Budaya-Nilai dan Jantung
Evangelisasi
Simaklah
ilustrasi berikut: Seorang bapak yang
sangat pelit diajak oleh anak kesayangannya untuk naik helikopter. Awalnya,
sang bapak tidak setuju karena ia harus membayar mahal. Namun, karena sayang
dengan anaknya ia pun setuju. Sesampainya mereka di helikopter, sang pilot
berkata:”Bapak, biaya naik helikopter selama satu jam adalah 1 juta rupiah. Jika
selama penerbangan anda ngomong, maka anda didenda 10 juta rupiah. Tetapi jika
anda tidak ngomong sepatah kata pun selama penerbangan, maka anda akan
mendapatkan bonus 100 juta rupiah, setuju/deal?” Kata bapak itu: ”Setuju!” Kemudian helikopter diterbangkan dan sang
pilot mengadakan berbagai manuver di udara. Tibalah saatnya pendaratan
dilakukan, lalu sang pilot berkata: ”Wah, anda hebat selama penerbangan tadi
anda tidak pusing dan tidak ngomong sepatah kata pun”. Jawab bapak itu: ”Sebenarnya tadi saya mau
ngomong, tapi saya takut kena denda”. Tanya sang pilot lagi: ”Anda mau ngomong
apa tadi?” Kata bapak itu:”Anak saya jatuh ...”
Ilustrasi di atas cukup
menggambarkan “budaya” hidup kita zaman ini. Nilai hidup begitu gampang digeser
atau digantikan dengan nilai ekonomi (pertimbangan untung-rugi). Budaya
materialis-hedonis-sektarianis makin mewujud nyata dalam bentuk kekerasan dan
memangsa-mematikan hidup manusia lain. Mari sejenak kita cermati maraknya
berita kekerasan-pembunuhan di berbagai tayangan TV, seperti dalam program Buser, Sidik, Sergap, Patroli, Brutal, Bedah
Kasus, dan TKP, termasuk tayangan
bernuansa seks melalui CD porno, VCD porno, DVD porno dan situs-situs porno.
Bahkan kini laris disajikan ke publik info bergaya mistik-gaib: Gentayangan, Uka-Uka, Dunia lain, Pemburu
Hantu, dll. Fenomena nyata ini
mendominasi zaman kita kini, terutama di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi komunikasi atas cara yang tak bisa dibendung, terbersit pertanyaan
mendasar: Apakah keluarga-keluarga Katolik
mampu menjadi benteng budaya-nilai dan jantung evangelisasi? Arus globalisasi-modernisasi menantang kita
semua, khususnya keluarga Katolik untuk bersikap ekstra kritis memaknai
perubahan-perubahan nilai. Keluarga seharusnya menjadi medan utama berbagi kisah-kasih
pengalaman nilai-nilai iman antar-anggota-nya:”Keluarga menjadi tempat asal dan upaya paling efektif untuk
memanusiakan dan mempribadikan masyarakat. Keluarga membawa sumbangan asli yang
mendalam dan membangun dunia, dengan memungkinkan peri-hidup manusiawi dalam
arti sesungguhnya; khususnya dengan menjaga dan menyalurkan keutamaan-keutamaan serta nilai-nilai”(FC 43).
Keluarga Katolik menjadi tempat persemaian dan pendidikan yang utuh bagi keberlanjutan kemanusiaan. Oleh karena
itu, keluarga seharusnya mengalami bentuk-bentuk interaksi kehidupan penanaman nilai-nilai,
sebagai bekal hidup bermasyarakat dan meng-gereja. Orangtua berperan penting
sebagai pendidik pertama-utama dalam mewariskan nilai-nilai (iman-etika-moral)
bagi anak-anak, melalui kata, sikap dan tindakan yang baik-benar.
Paus Benediktus XVI pernah mengajak kita
untuk mengutamakan sikap dan teladan yang benar:”keteladanan yang patut dicontoh sebagai umat Katolik yang
berkualitas”. Kualitas hidup kemanusiaan yang baik akan menghasilkan integritas kepribadian yang kokoh dan loyalitas luhur pada tugas dan imannya.
Maka, dengan integritas dan loyalitas prinsip keragu-raguan (relativisme) dalam
hidup yang cenderung merusak tatanan hidup bersama dapat diatasi. Sebagai Gereja
inti, keluarga Katolik dipanggil untuk mewartakan “Injil kehidupan” melalui kata-sikap-tindakan
kepada sesama yang menderita, berbelarasa serta saling melayani bukan karena
pertimbangan status sosial-ekonomi melainkan karena kesadaran sebagai sesama
manusia.
“Akan
tetapi, Gereja mempunyai kepercayaan yang kuat, bahwa hidup manusiawi, juga
kalau lemah dan menderita, senantiasa merupakan kurnia luhur, dianugerahkan
oleh kebaikan Allah. Melawan pesimisme dan egoisme yang menyuramkan dunia,
Gereja membela kehidupan” (FC 30).
Kita semua, terutama keluarga Katolik adalah bagian dari Gereja Kristus. Kita
tidak lepas dari tawaran-tantangan-godaan untuk bergeser sedikit dari amanat
Kristus. Maka di tengah pergumulan pilihan-putusan antara “panggilan Kristus” dan
“tawaran dunia” dibutuhkan “saat teduh” pemurnian motivasi kita untuk membatinkan
amanat Sang Gembala:”Aku datang supaya
mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahannya.” (Yoh. 10:10). Dengan keyakinan akan sabda Kristus
itu, diharapkan setiap keluarga Katolik mampu manjadi “benteng budaya-nilai”
dan pewarta Injil kehidupan (jantung evangelisasi). Semoga !
*) Penulis adalah Penyuluh Agama Katolik pada Kantor Kemenag Kab.
Kolaka-Sultra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar