Jumat, 28 Februari 2014

KELUARGA KATOLIK: GEREJA INTI

KELUARGA  KATOLIK : GEREJA  INTI
 Casimirus Sado*

Pengantar
            Konggres Internasional Keluarga IV, Manila, 2003, mengangkat tema utama: “Keluarga Kristiani: Kabar Gembira bagi Millenium III”. Tema itu mau mempertegas perhatian dunia internasional tentang peran keluarga dalam millenium III ini sangat penting. Betapa tidak, atas dasar hubungan darah, keluarga dipandang sebagai lembaga terkecil yang memiliki ikatan kuat-akrab antar anggota-anggotanya, serta sangat memungkinkan terjadinya pewarisan nilai-nilai. Sebagai sel dan basis paling dasar dalam masyarakat, keluarga menjadi pewarta kabar gembira, harapan bagi anggotanya dan bagi kemanusiaan.
            Sejalan dengan itu, gereja pun memandang bahwa keluarga Katolik sebagai gereja inti dan sebagai komunitas pergumulan iman sekaligus ke dalam dan ke luar. Keluarga Katolik menjadi medan bagi para anggotanya untuk belajar dan mengalami pergumulan hidup beriman untuk bertumbuh dan berkembang secara jasmani dan rohani. Namun demikian, keluarga bukanlah unit tersendiri-terisolir dari mata rantai hubungan sosial yang mempengaruhinya. Apa yang terjadi secara sosial, akan berdampak pula bagi keluarga. Tak terelakkan, sence of crises yang melanda dunia saat ini juga merambah keluarga-keluarga, gereja Katolik dan masyarakat luas. Pola pikir dan pola tindak sosial berimbas pada pola pikir dan pola tindak personil keluarga dan insan gereja Katolik. Globalisasi tak terhindarkan.
            Dalam terang evangelisasi baru, gereja Katolik menaruh harapan besar pada setiap keluarga untuk menyadari kembali fungsi panggilannya: “Pewarta Kabar Gembira” bagi kekatolikan dan bagi kemanusiaan pada umumnya. Dalam kerangka itu, kita akan mendalami sepintas alur pergumulan keluarga Katolik sebagai berikut:
1)      Kebersamaan: Perjuangan tak henti  (demi Kekudusan)
2)      Benteng Budaya-Nilai dan Jantung Evangelisasi

Kebersamaan: Perjuangan Tak Henti  (demi Kekudusan)
Ada sebuah dongeng yang menarik untuk kita renungkan: Konon, ketika menciptakan perempuan, Tuhan meramunya dengan mengambil: bulatnya bulan, meliuknya ular, goyangnya angin, menetesnya air hujan, cerahnya sinar mentari, malu-malunya kelinci, angkuhnya burung merak, manisnya madu, galaknya singa, jinaknya merpati, ngoceh-nya perkutut, panasnya api, dan indahnya mawar. Semuanya diaduk  lalu dimasak, dan jadilah perempuan. Tuhan melihat karyaNya begitu indah lalu membawanya kepada laki-laki. Laki-laki itu sangat senang-gembira. Seminggu kemudian, laki-laki itu datang menghadap Tuhan dalam keadaan kecewa berat, katanya: “Tuhan, makhluk yang Engkau berikan padaku menjadi malapetaka bagiku. Sepanjang hari dia berbicara tanpa henti, tertawa sambil menangis, lari ke sana kemari tak pernah istirahat, ngoceh terus. Tolong ambillah dia, Tuhan”. Tuhan memenuhi permintaannya. Akan tetapi seminggu kemudian, laki-laki itu datang lagi dan berkata kepada Tuhan: ”Waduh Tuhan, saya sangat kesepian sejak Engkau mengambilnya, biasanya dia menari dan menyanyi di depanku begitu indah dan manis; tolong kembalikanlah dia, Tuhan”. Tuhan segera mengembalikannya. Lalu seminggu kemudian, laki-laki itu datang lagi dan mendorong perempuan itu ke hadapan Tuhan katanya: ”Tuhan maafkan saya, karena ciptaanMu ini lebih sering menjengkelkan daripada menyenangkan, ambillah kembali”. Maka Tuhan berkata: ”Hai laki-laki, pulanglah ke rumahmu bersama perempuan ini dan berusahalah hidup bersama dia”. Maka dengan sesal dan sedih laki-laki itu pulang ke rumahnya bersama dengan perempuan itu sambil berkata dalam hatinya: ”Betapa malangnya saya ini, dengan dia hidupku susah; tapi tanpa dia saya pun tak dapat hidup”.
            Dongeng ini dapat membantu kita untuk merenungkan pergumulan dalam memaknai  sakramen perkawinan terus-menerus. Betapa tidak, keluarga Katolik juga tidak luput dari gaya atau trend globalisasi saat ini: materialisme-hedonisme-sektarianisme picik sesaat; yang dapat melunturkan nilai-nilai paling dasar dalam sakramen perkawinan: sakralitas-spiritualitas-moralitas dalam konteks relasi suami-istri dengan Allah dan sesama. Dalam sakramen perkawinan, suami-istri menjadi “satu daging” (Kej. 2:24) dan menjadi tanda nyata cinta Kristus kepada gerejaNya (Ef. 5:22-33). Maka panggilan hidup suami-istri: panggilan kepada persekutuan: ”apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat.19:6; Mrk.10:9). Persekutuan suami-istri merupakan tujuan dan cita hidup mereka: ”Dengan perjanjian perkawinan, pria dan wanita membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup; dari sifat kodratinya perjanjian itu terarah pada kesejahteraan suami-istri serta kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan perjanjian perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen” (KHK, Kan.1055 §1).
            Berkat sakramen perkawinan, keluarga Katolik disegarkan kembali untuk terlibat dalam dialog dengan Tuhan, mempersembahkan hidup dan doa. Melalui wafat dan kebangkitan Kristus, cinta suami-istri disucikan dan dikuduskan agar berdaya guna menyembuhkan keretakan hubungan suami-istri, menyempurnakan motivasi  suami-istri  dan mendatangkan rahmat pertobatan untuk saling memaafkan. Dengan demikian, suami-istri mengalami anugerah dan tanggung jawab untuk menerjemahkan panggilan hidup suci itu dalam hidup sehari-hari, serta menjadi teladan kesucian bagi anak-anak yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka; dan dengannya seluruh anggota keluarga akan mencapai, menyatakan serta memancarkan kekudusan yang diperjuangkan terus-menerus dalam penyertaan Roh.

Benteng Budaya-Nilai dan Jantung Evangelisasi
            Simaklah ilustrasi berikut: Seorang bapak yang sangat pelit diajak oleh anak kesayangannya untuk naik helikopter. Awalnya, sang bapak tidak setuju karena ia harus membayar mahal. Namun, karena sayang dengan anaknya ia pun setuju. Sesampainya mereka di helikopter, sang pilot berkata:”Bapak, biaya naik helikopter selama satu jam adalah 1 juta rupiah. Jika selama penerbangan anda ngomong, maka anda didenda 10 juta rupiah. Tetapi jika anda tidak ngomong sepatah kata pun selama penerbangan, maka anda akan mendapatkan bonus 100 juta rupiah, setuju/deal?” Kata bapak itu: ”Setuju!”  Kemudian helikopter diterbangkan dan sang pilot mengadakan berbagai manuver di udara. Tibalah saatnya pendaratan dilakukan, lalu sang pilot berkata: ”Wah, anda hebat selama penerbangan tadi anda tidak pusing dan tidak ngomong sepatah kata pun”.  Jawab bapak itu: ”Sebenarnya tadi saya mau ngomong, tapi saya takut kena denda”. Tanya sang pilot lagi: ”Anda mau ngomong apa tadi?” Kata bapak itu:”Anak saya jatuh ...”
            Ilustrasi di atas cukup menggambarkan “budaya” hidup kita zaman ini. Nilai hidup begitu gampang digeser atau digantikan dengan nilai ekonomi (pertimbangan untung-rugi). Budaya materialis-hedonis-sektarianis makin mewujud nyata dalam bentuk kekerasan dan memangsa-mematikan hidup manusia lain. Mari sejenak kita cermati maraknya berita kekerasan-pembunuhan di berbagai tayangan TV, seperti dalam program Buser, Sidik, Sergap, Patroli, Brutal, Bedah Kasus, dan TKP, termasuk tayangan bernuansa seks melalui CD porno, VCD porno, DVD porno dan situs-situs porno. Bahkan kini laris disajikan ke publik info bergaya mistik-gaib: Gentayangan, Uka-Uka, Dunia lain, Pemburu Hantu, dll.  Fenomena nyata ini mendominasi zaman kita kini, terutama di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi atas cara yang tak bisa dibendung, terbersit pertanyaan mendasar: Apakah keluarga-keluarga Katolik mampu menjadi benteng budaya-nilai dan jantung evangelisasi?  Arus globalisasi-modernisasi menantang kita semua, khususnya keluarga Katolik untuk bersikap ekstra kritis memaknai perubahan-perubahan nilai. Keluarga seharusnya menjadi medan utama berbagi kisah-kasih pengalaman nilai-nilai iman antar-anggota-nya:”Keluarga menjadi tempat asal dan upaya paling efektif untuk memanusiakan dan mempribadikan masyarakat. Keluarga membawa sumbangan asli yang mendalam dan membangun dunia, dengan memungkinkan peri-hidup manusiawi dalam arti sesungguhnya; khususnya dengan menjaga dan menyalurkan keutamaan-keutamaan serta nilai-nilai”(FC 43).
            Keluarga Katolik menjadi tempat persemaian dan pendidikan yang utuh bagi keberlanjutan kemanusiaan. Oleh karena itu, keluarga seharusnya mengalami bentuk-bentuk interaksi kehidupan penanaman nilai-nilai, sebagai bekal hidup bermasyarakat dan meng-gereja. Orangtua berperan penting sebagai pendidik pertama-utama dalam mewariskan nilai-nilai (iman-etika-moral) bagi anak-anak, melalui kata, sikap dan tindakan yang baik-benar.
            Paus Benediktus XVI pernah mengajak kita untuk mengutamakan sikap dan teladan yang benar:”keteladanan yang patut dicontoh sebagai umat Katolik yang berkualitas”. Kualitas hidup kemanusiaan yang baik akan menghasilkan integritas kepribadian yang kokoh dan loyalitas luhur pada tugas dan imannya. Maka, dengan integritas dan loyalitas prinsip keragu-raguan (relativisme) dalam hidup yang cenderung merusak tatanan hidup bersama dapat diatasi. Sebagai Gereja inti, keluarga Katolik dipanggil untuk mewartakan “Injil kehidupan” melalui kata-sikap-tindakan kepada sesama yang menderita, berbelarasa serta saling melayani bukan karena pertimbangan status sosial-ekonomi melainkan karena kesadaran sebagai sesama manusia.
            “Akan tetapi, Gereja mempunyai kepercayaan yang kuat, bahwa hidup manusiawi, juga kalau lemah dan menderita, senantiasa merupakan kurnia luhur, dianugerahkan oleh kebaikan Allah. Melawan pesimisme dan egoisme yang menyuramkan dunia, Gereja membela kehidupan” (FC 30). Kita semua, terutama keluarga Katolik adalah bagian dari Gereja Kristus. Kita tidak lepas dari tawaran-tantangan-godaan untuk bergeser sedikit dari amanat Kristus. Maka di tengah pergumulan pilihan-putusan antara “panggilan Kristus” dan “tawaran dunia” dibutuhkan “saat teduh” pemurnian motivasi kita untuk membatinkan amanat Sang Gembala:”Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahannya.” (Yoh. 10:10). Dengan keyakinan akan sabda Kristus itu, diharapkan setiap keluarga Katolik mampu manjadi “benteng budaya-nilai” dan pewarta Injil kehidupan (jantung evangelisasi). Semoga !

*) Penulis adalah Penyuluh Agama Katolik pada Kantor Kemenag Kab. Kolaka-Sultra.  
   
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar